12 October 2009

[sobat-hutan] Pembunuh Tiga Ekor Harimau Hanya Divonis Setahun

 

 
Sabtu, 10 Oktober 2009 13:04

Pembunuh Tiga Ekor Harimau Hanya Divonis Setahun

OLEH: DENNY WINSON


Tembilahan - Pengadilan Negeri (PN) Kelas II Tembilahan—sekitar 380 kilometer dari Pekanbaru—memvonis pembunuh tiga ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan hukum­an setahun penjara dan denda sebesar Rp 2 juta.

Kedua terpidana itu, ayah dan anak, M Ajad bin Abdullah (73) dan Mistar bin Ajad (43), juga diwajibkan membayar ongkos perkara sebesar Rp 5.000.


Vonis untuk kedua terpidana itu dibacakan Ketua Majelis Hakim PN Tembilahan, Wasdi Permana SH didampingi Hakim Anggota Jimmy Hendrik Tanjung SH dan Adiswarna SH, Kamis (8/10) siang. Sidang pembunuhan terhadap satwa langka ini menyedot perhatian para pengunjung dan wartawan, karena sangat jarang kasus-kasus seperti ini sampai di pengadilan. Khusus untuk Provinsi Riau, kasus serupa pernah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Rengat, Kabupaten Indragirihulu.


Hukuman yang diterima Ajad dan anaknya Mistar ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), Hendry SH yang mengingin­kan keduanya masing-masing dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 3 juta. Dalam persidangan, terungkap para terpidana terbukti melanggar Undang-undang (UU) No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut, aturan hukum bagi pembunuh satwa langka diancam dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.


Peristiwa pembunuhan terhadap tiga harimau sumatera itu terjadi pada 10 Februari lalu. Saat itu, warga Desa Tanjung Pasar Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragirihilir diliputi ketakut­an karena diperkirakan puluhan harimau sumatera muncul di perkampungan mereka, yang berada sekitar 6 jam perjalanan laut dari Kota Tembilahan.


Harimau-harimau ini tidak hanya muncul di perumahan warga, tetapi juga di sekolah. Sehingga, murid-murid SD di daerah itu tidak berani ke sekolah lagi. Selain itu, harimau-harimau itu sering memangsa ternak warga seperti kambing, sapi dan ayam.
Warga Desa Tanjung Pasar Simpang lalu meminta bantuan M Ajad untuk mendoakan sekaligus menjerat harimau tersebut. Ajad yang merupakan pensiunan Dinas Kehutanan Indragirihilir ini semula menolak permintaan warga. Namun, warga tetap mendesaknya. Akhirnya, pada permintaan ketiga, Ajad tak menolaknya. Apalagi, selama ini Desa Tanjung Pasar Simpang memang rawan terhadap konflik harimau dengan manusia. Karena kawasan ini berhampir­an dengan Suaka Margasatwa Kerumutan. Ajad bersama warga desa lalu memasang tiga buah jerat di daerah-daerah yang sering dilalui hewan langka itu. Di hari pertama, 10 Februari 2009, berhasil dijerat sepasang harimau.


Harimau itu lalu dibunuh dengan cara ditombak. Dua hari setelah itu, seekor harimau lagi juga terparangkap jerat warga dan kemudian kembali dibunuh beramai-ramai.
Setelah dibunuh, daging dan tulangnya lalu dibagi-bagikan untuk warga. Sedangkan kulit dan batok kepala harimau sumatera ini diambil Ajat, dan kemudian dijual seharga Rp1,2 juta kepada seorang penampung yang mengaku berasal dari Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Transaksi bagian tubuh harimau ini berlangsung di tengah laut Indragirihilir.


JPU Hendry yang ditemui SH usai persidangan mengata­kan, pihaknya masih memikir­kan untuk melakukan banding. Sementara kuasa hukum ter­pidana, Edwar SH, langsung menyatakan banding. Alasan­nya, kliennya bukanlah pelaku pembunuhan terhadap tiga ekor harimau sumatera itu."Yang membunuh hewan-hewan itu kan warga, tetapi mengapa hanya klien saya saja yang dihukum?" ujarnya.

Sindikat
Pihak Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan World Wild Found (WWF) Wilayah Riau yang mengajukan kasus ini ke pengadilan mengaku kecewa dengan putusan majelis hakim. "Kami betul-betul kecewa. Tuntutan dan vonis ini tidak begitu maksimal," ujar Syamsidar, Humas WWF Wilayah Riau kepada SH.


Padahal, kata Syamsidar, UU No 5 Tahun 1990 menyebutkan pelaku pembunuhan satwa langka dapat diancam dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Jika undang-undang betul-betul diterapkan, para pelaku penjerat harimau dan penampung kulit dan batok kepala harimau dapat terkena efek jera. Apalagi, ia mensinyalir ada sindikat penjualan hewan langka di daerah ini.


"Selama ini kami mensinyalir ada sindikat perdagangan hewan langka, termasuk kulit harimau. Dalam kasus ini misalnya, pelaku tidak mungkin mau menjual kulit dan batok kepala harimau sumatera jika tidak ada pihak pembeli atau pemesannya," ujarnya.
Syamsidar mengatakan, beberapa bagian tubuh harimau sumatera memang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Harga kulitnya saja di tingkat pengumpul dan pemburu oportunis mencapai Rp 7-10 juta. n

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

1 comment:

obat herbal wasir said...

hello,, i'm just visit,, have a nice day :D