15 August 2009

[sobat-hutan] Subur Negeriku Tandus Lakunya

 

 
 
Subur Negeriku Tandus Lakunya Cetak Email

Oleh : Rosindus Yosef Maria Tae, Pr

 

Kekeringan moral yang melanda negeri ini telah merusak banyak nilai 'luhur' bangsa ini. Nilai-nilai utama yang kita banggakan sebagai bangsa beradab (santun dan bermartabat) raib tak membekas.

Kini, hampir tidak satu pun prinsip moral yang nampak sebagai 'inang' (induk) yang mengawal masyarakat kita. Kita terjebak pada 'kemacetan lalulintas peran moral' yang serius. Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa "negeri ini subur tetapi tandus lakunya". Judul ini, kami angkat sebagai refleksi atas hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2009. Kami menilai bahwa ada suatu rantai dalam kemerdekaan yang hilang yakni 'terkaparnya' moralitas bangsa ini.

"Matinya" Prinsip Moral

Beberapa minggu terakhir ini kita dikejutkan dengan meledaknya bom di Hotel JW. Mariot dan Ritz Carlton oleh teroris, penembakan di Papua, hebohnya korupsi di tubuh KPK dan MA, kecurangan dalam pileg, pilpres, dan disinyalir bahwa masih berkeliarannya kawanan teroris di negeri ini. Bila kita kaji kejadian dan masalah ini, terlihat adanya pelanggaran moral yang "amat keji dan tak berperikemanusiaan". Dari situasi ini, terlihat bahwa prinsip moral 'lumpuh' dan jiwa manusia tumpul' digilas kefanaan yang naif.

Perbuatan yang menghilangkan nyawa dan dengan sengaja mengambil serta merampas hak milik orang lain merupakan pelanggaran terhadap etika dasar yang fundamental. Menurut Franz Magnis-Suseno "manusia harus dihormati dalam segala situasi". Selanjutnya, Magnis mengatakan bahwa yang dikangkangi oleh para pelaku kejahatan dalam peristiwa dan masalah di atas yakni "prinsip sikap baik, yakni sikap hati yang positif terhadap orang lain; prinsip keadilan: memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya; dan prinsip format terhadap diri sendiri yakni tidak merusak diri dengan hal-hal yang merendahkan martabat diri sebagai manusia (1987: 129-140).

Tandusnya prinsip moral dalam kaitan dengan peristiwa dan masalah di atas disebabkan oleh aneka macam hal. Bila bom di JM. Mariot dan Ritz Carlton itu adalah bom bunuh diri demi memperjuangkan nilai adikodrati yang vital bagi person dan kelompok tertentu; dari sudut pandang prinsip moral, perjuangan seperti itu tidak manusiawi dan religius. Karena, orang ini tidak mau menjadi tumbal sejati bagi nilai yang dianutnya itu. Tetapi ia menjadikan orang lain tumbal untuk kepentingan dirinya. Keadaan ini dari sudut peradaban tergolong 'barbaristis', "sadistis" dan "sakit rohani" serius.

Begitupun orang yang oleh kepentingan dirinya, lalu ia mengambil milik orang tanpa merasa bersalah adalah mereka yang sudah mengidap penyakit 'kelekatan' yang naif pada materi. Orang ini merasa bahwa dirinya adalah materi itu sendiri (uang, barang, prestise). Karena itu, ia bisa membelenggu semua tuntutan moral yang mengawas dan melarangnya demi mewujudkan keinginan jahatnya. Orang seperti ini telah tercabut dari sumbunya sebagai manusia yang utuh.

Orang yang suka menjadi 'tikus bejat' ini, oleh Imam Ahmad bin Hambal (seorang sufi) adalah mereka yang telah berpaling dari keutamaan-keutamaan rohani berikut ini. 1) Suhud (zahid) 'asketisme' dalam arti kehidupan sederhana berdasarkan motif keagamaan 2) Meninggalkan segala yang haram (zuhud orang awam). 3) Meninggalkan hal yang berlebihan dalam perkara yang halal (zuhud orang kwaw-wash). 4) Meninggalkan apa saja yang memalingkan diri dari Allah (zuhud orang arifin) (1999: 32-33). Bila sumbu rohani ini padam, maka padam pula nurani manusia.

Nyalakan Kembali Sumbu Prinsip Moral

Orang yang membunuh dan bersikap curang terhadap orang lain dalam masyarakat beradab adalah kelompok 'ampas' (waste) atau 'sampah' yang tidak bermanfaat dalam kebersamaan. Mereka ini harus kembali 'dikarantina' atau kembali dinyalakan sumbu moralitasnya, sehingga siap menjadi 'manusia bagi yang lain dan manusia bagi Allah' junjungannya.

Prinsip moral yang harus dinyalakan kembali adalah prinsip moral dasar seperti disebutkan di atas. Untuk mempertahankan sumbu utama ini agar tetap bernyala, orang harus mengintrospeksi dan meretrospeksi diri. Di sana orang bertanya entahkah masih ada residu (sisa-sisa) kebaikan yang dapat dijadikan dasar pijak untuk membangun kembali keterpecahan moralitas diri ini? Pisau bedah yang paling tajam untuk mengerat 'kanker ganas' yang telah lama bersarang dalam moralitas orang-orang ini adalah 'metanoia' (pertobatan batin dan kembali pada yang benar). Orang harus kembali mengolah nurani dengan ajaran-ajaran moral formal, maupun moral agama demi mengubah perilaku yang telah melenceng dari yang diharapkan dalam hidup bersama.

Untuk sampai pada metanoia yang efektif dan efisien, orang perlu kembali melihat sikap-sikap moral yang standar.

Magnis-Suseno mengajak kita sekali lagi untuk memperhatikan beberapa keutamaan ini. Hal pertama, kejujuran, pribadi jujur yakni pribadi yang lurus, terbuka dan fair (wajar). Kedua, otentik, asli memiliki pendirian sendiri bukan dibisiki, atau meniru yang tidak tepat. Ketiga, memiliki kemandirian moral, memiliki pendirian sendiri dan tidak ikut-ikutan. Keempat, keberanian moral, orang setia terhadap suara hatinya yang benar. Kelima, kerendahan hati, melihat diri sesuai kenyataan, tidak muluk-muluk. Keenam, realistis dan kritis, sesuai dengan kenyataan dan tidak tunduk begitu saja pada pengaruh kekuatan dari luar diri (1987: 149-150). Entahkah kita masih punya waktu untuk berbenah di masa krisis ini dengan tawaran di atas?

Tentu tawaran ini bukan air penyejuk yang sekali diteguk dahaga pun lenyap. Ia membutuhkan suatu proses pendampingan, yang komprehensif untuk melihat kembali nilai fundamental dalam kebersamaan itu. Semua pihak tidak boleh berdiam diri untuk memberantas kejahatan moral ini. "Siapa yang diam tanda setuju" kata pepatah Latin. Di sini, pemerintah, lembaga penegak hukum, keamanan, lembaga agama harus terus bahu membahu menegakkan kembali tatanan moral yang keburu tandus ini.

Dalam memerangi terorisme, kejahatan-kejahatan sosial, kita harus bergerak bersama-sama. Kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap kejahatan yang menghancurkan peradaban kita. Jika kita diam dan acuh tak acuh kita pun termasuk dalam kelompok yang merusak kedamaian sejati. Martin Luther King menasehatkan kepada kita dengan mengatakan "'There comes a time -when silence is betrayel" (Ada saatnya ketika diam adalah suatu pengkhianatan). Kita juga harus memiliki prinsip seperti ungkapan Latin ini, "Homo sum, humani nihil a me alienium puto" (sebagai manusia, saya tidak bisa acuh tak acuh terhadap segala yang menjadi kepedulian manusia). Jika kita tidak mewujudkan cita-cita ini tatanan damai selalu akan terancam.

Penutup

Suara orang-orang yang telah meninggal akibat bom di JW. Mariot dan Ritz-Carlton tak pernah akan terdengar lagi. Pembelaan bagi mereka yang kita lakukan pun tetap sia-sia.

Mereka yang telah dimanipulasi oleh para koruptor pun susah mendapatkan bantuan hukum yang memadai. Di seputar kita pun tidak ada wadah yang kokoh untuk membela suara para korban ini. Bagi mereka yang tidak terbela ini, kita bersama St. Agustinus hanya boleh mengatakan "Tempora lenitum est vulnus meum" (dalam perjalanan waktu luka-lukaku sembuh"). Tetapi bagi kita yang masih memiliki kekuatan rohani (iman, harap, dan kasih) kita masih dapat berharap bahwa segalanya akan teratasi.

Penegakan kembali nilai moral yang telah hancur, memungkinkan kita untuk tinggal nyaman dalam negeri ini. Kuncinya ada pada diri kita masing-masing yakni dengan menyikapi semua ajaran moral, hukum formal, hukum, agama secara tepat. Untuk itu, benahilah terlebih dahulu diri sendiri, maka segalanya akan ditambahkan pada waktunya. Dengan demikian, kita bisa berbangga dan mengatakan "Subur negeriku subur perilaku orang-orangnya". Bravo Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2009. ***

Penulis adalah Pastor Keuskupan Sibolga Guru di Seminari St. Petrus Aek Tolang-Desa Pandan- Sibolga, Tapanuli Tengah.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments: