12 July 2009

[sobat-hutan] Menafsir Wastu : Seonggok Binatang Ekonomi / Manusia Seutuhnya

 

Dari Ruang Pamer Keramik Aries BM, Menafsir Wastu (bagian 1)

16-23 Juni 2009 Bentara Budaya Jakarta


semoga bermanfaat. salam


Wastu : bangunan ruang hidup yang lengkap, menyeluruh, hakiki, sejati dan melingkupi.

 

Manusia mengidentifikasikan dirinya berada dan menjadi ruang itu sendiri bersama dengan ideologi ruang, sejarah ruang, identitas ruang, rasa berkomunikasi , kesadaran wilayah, kemanusiawian, beserta unsur-unsur material yang lain. Dengan demikian konsep wastu menuntut kearifan manusia sebagai faktor penyebab dalam keberlangsungan ruang hidup.

 

(Albertus Rusputranto Ponco Anggoro, pegiat forum pinilih dan pengajar di program studi seni rupa murni ISI Surakarta)

 

Bagi saya kembara, kelana, perjalanan adalah perbendaharaan kata yang tak pernah lekang mengeledakan hasrat dan hati. Perjalanan, pencarian, penemuan diri dalam ruang dan waktu. Biduk atau perahu barangkali analogi yang cocok menggambarkan hasrat hati ini. Biduk itu tidak saja membelah laut di samudera luas, tetapi juga di dunia dalam, dalam batin biduk terus bergerak dan bergulat.

 

Perahu pada suku Bajo adalah rumah dan bagian integral ruang hidup, ruang laut yang diakrabinya. Maka analogi perahu dan sarang lebah, rumah adat hingga kota adalah kesatuan ruang dan waktu dimana kita mengolah kemanusiaan kita, mencari dan menemukan sebenar-benarnya manusia. Tentunya didalamnya mengandung pola relasi yang rumit, antara diri dan manusia lainnya, manusia dan makluk hidup lainnya, manusia dan alamnya dan pada akhirnya manusia dan penciptanya.

 

Lebih jauh memperbincangkan ruang hidup, manusia dalam ruang dan waktu, kita dihadapkan pada dua pilihan. Apakah ruang hidup, ruang dan waktu yang kita jalani adalah ruang waktu yang bergegas dalam kontrol dan kendali modal, ruang waktu instumental untuk sekadar numpang ngombe (numpang minum/hidup) di dunia yang fana ini, pesona gaya hidup yang dekaden atau pola relasi transaksional, kasarnya ruang dan waktu yang memaksa kita menanggalkan kemanusian jadi onggokan angka statistik, binatang ekonomi atau mesin (produksi) ekonomi dan konsumen semata. Sapi perahan, domba korban ketamakan segelintir orang.

 

Ataukah kita masuk menjalani, menghidupi dimensi ruang waktu yang lebih manusiawi dan juga transenden. Hidup berlawan atas penjara-penjara kesewenangan manusia lainnya. Bila yang kedua menjadi pilihan, maka marilah kita menjawab ajakan Aries B.M untuk menafsir wastu melalui puluhan karya-karya keramiknya dan kemudian menghidupinya.

 

Untuk artikel dan dokumentasi foto selengkapnya silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/07/menafsir-wastu-seonggok-binantang.html

 

 

simak juga

 

Pemanasan Global : Melampaui Politik dan Ekonomi Yang Membusuk

Dari Ruang Pamer Seni Rupa Gasing dan Yoyo

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/komidi%20putar

 

Defacement : Deformasi Atas Ekspresi Manusia Beradab

Dari Ruang Pamer Teguh Ostenrik

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/defacement-teguh-ostenrik-deformasi.html

 

Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

Dari Ruang Pamer Haris Purnomo

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html


I See Indonesia : Kitab Rupa Untuk Kebangkitan Indonesia

Dari Ruang Rupa Grafis Ayip

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/e-book-i-see-indonesia-karya-karya.html






__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments: