29 May 2009

[sobat-hutan] Re: Bls: [Lingk] WWF: Sinar Mas Berutang Rp 48,5 Triliun



SINAR MAS GROUP (SMG) tidak perlu resah kalau memang tududan LSM pemerhati lingkungan hidup (yaitu SMG sebagai biang keladi pengrusakan lingkungan hidup). Yang perlu dilakukan adalah pembuktian faktual di lapangan. Tidak cukup hanya cuap-cuap. Kalau memang berdasarkan pembuktian faktual di lapangan ternyata benar dilakuakn pengrusakan lingkungan, maka sebagai perasahaan besar yang katanya "SUDAH GO INTERNATIONAL" harus bertanggung-jawab secara hukum, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan terlebih bertanggaung secara kemanusiaan. Karena perusahaan dengan Trade Mark International harusnya malu kalau dituduh merusak lingkungan. Perlu diketahui bahwa perusahaan2 asing dari negara-negara maju sangat sadar betul arti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan. Jadi jangan status "GO INTERNATIONAL" digunakan jadi tameng untuk membantah.

 

Tidak saja di bidang perkebunan kelapa sawit, fakta nyata yang sudah berlangsung sejak orde baru bahwa di bidang industri kertasnya sudah terjadi pengrusakan lingkungan, teror kepada masyarakat lokal pribumi. Pembuatan kanal-kanal tanpa izin yang dimensinya 12 meter lebar, 8 meter kedalaman, dan puluhan kilometer panjang di tengah hutan yang diakuinya sebagai areal HTI SMG di Riau sebagai sarana transportasi pengangkutan kayu pasokan ke pabrik kertasnya IKPP. Pembabatan/penggundulan hutan alam masih berlangsung sampai sekarang, penanaman akasia (jenis tumbuhan jahat yang sudah dilarang dibudidayakan di negara2 maju, karena tidak bersahabat dengan makhluk hidup –baik tumbuhan lain, hewan liar dan hewan peliharaan tidak ada yang mau hidup di sekitar akasia, terlebih bagi manusia -udara dari dan di lingkungan akasia menyebabkan sesak nafas); penanaman akasia tesebut mengakibatkan homogenisasi jenis tumbuhan yang terdapat di sebagian besar hutan di Riau dan wilayah lainnya (hal ini akan mengakibatkan terputusnnya rantai kehidupan, hewan2 liar akan mengamuk kepada masyarakat lokal –bahkan sering terjadi warga lokal diamuk gajah, hariau- karena habitatnya terganggu); pembakaran hutan; meracuni hutan alam dari udara.

 
Masih segar dalam ingatan mengenai kasus ILLEGAL LOGGING (Il-Log) yang di SP3 secara kontroversiil. Pelaku utama Il-Log dan telah sempat berstatus TERSANGKA adalah PT. Arara Abadi pemilik HPH (Hak Pengusahaan Hutan) sebagai pemasok kayu kayu bahan baku pulp dan kertas ke Indah Kiat, keduanya anak perusahaan SMG, namun di-SP3 karena barang bukti tidak mencukupi untuk diperkarakan. Apa benar begitu??????? Atau ada konspirasi??????
 
Nampaknya Hak yang diberikan negara kepadanya telah diubah menjadi Hak Pengrusakan (bukan Pengusahaan lagi) Hutan. Kenapa, Hutan yang dirusak tidak pernah ditindak oleh aparat terkait. Ya...berarti Pengrusakan Hutan itu memang sudah menjadi Hak-nya yang diberikan aparat terkait.
 
Kasus Il-Log di SP3, 18-25 Desember 2008 lalu di Desa Suluk Bongkal, Riau,  PT Arara Abadi memanfaatkan ratusan oknum aparat menghalau ratusan warga negara Indonesia Pribumi yang dituduh menduduki areal HPH PT Arara Abadi -yang katanya adalah upaya penertiban sesuai perintah atasan. Namun, peristiwa tersebut menjadi tragedi berdarah yang menelan korban jiwa manusia yang tahu apa2 dan luka-luka tembak peluru tajam. Rumah-rumah mereka dibakar bagaikan perang/pembantaian lokal antara warga sipil (yang miskin ekonomi dan pengetahuan dan menderita) dengan oknum aparat, hewan-hewan peliharaan dan tanamannya sebagai sumber penghidupannya dihancurkan dengan alat-alat berat.
 
Sampai saat ini tragedi kemanusiaan tersebut belum terungkap, malah PT. Arara Abadi makin gencar mengintimidasi warga lokal dengan mengirimkan surat perintah (melaui satpamnya dan yang sering kali didampingi oknum aparat) agar warga lokal lainnya meninggalkan rumahnya dan ladangnya karena diakui sebagai bagian HPH-nya tanpa pernah menunjukkan bukti apapun kepada masyarakat pribumi lokal.

 

Kalau saja berbagai dokumen bukti berupa foto, video clip, dan kronologis tragedi itu diperlihatkan kepada mereka yang mengabdi kepada pengusaha pelaku kejahatan itu, maka sulit baginya untuk membantahnya. Kecuali dengan diplomasi kelicikan.
 
Di sektor forestry juga bertebaran utangnya di berbagai Bank Domestik dan Bank International. Siapa yang menjamini utang pengusaha domestik dengan status perusahaan PMDN. Apakah tiap bidang usahanya meningkatkan perekonomian Negara atau meningkatkan kekayaan oknum tertentu? Atau memperkaya diri sendiri dan lantas dibawa kabur ke negara asalnya?
 
Tenaga kerja yang mengais penghidupan di perusahaan tersebut, seenaknya saja di-PHK tanpa memperoleh pesangon yang menjadi haknya sesuai UU Ketega-kerjaan. Hanya dengan memberlakukan aturan main "OUT SOURCHING". Tenaga kerja yang miskin pengetahuan hanya diam dan kebingungan.
 
Kepada putra bangsa yang sadar nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai lingkungan hidup, marikita perangi penjahat seperti itu. Tolak dan Hindari membeli, memakai, menkonsumsi produk dari Grup perusaah itu (seperti minyak goreng, kertas, sabun dan lain sebaginya). Itu salah satu yang dapat kita lakukan untuk menentang penjajah, sambil menunggu kebijakan para pejabat yang berwenang dan berhati-nurani baik di negara ini. Para pemerhati kemanusiaan dan lingkungan hidup (Green Peace, WWF, dll), tolong kampanyekan agar seluruh pasar di dunia ini meng-embargo seluruh produk dari perusahaan penjahat kemanusiaan dan lingkungan hidup.


Pada 26 Mei 2009 00:10, Cardiyan HIS <cardiyan_his@yahoo.com> menulis:


Sekarang masalahnya; bagaimana menagih utang tersebut? Apakah ada preseden yang telah berhasil menagih utang perusahaan2 perusak lingkungan di Indonesia? Mohpn informasinya. Terima kasih.
 
Salam,
Cardiyan HIS   

--- Pada Sen, 25/5/09, clIMATe <ruhimat_imat@yahoo.com> menulis:

Dari: clIMATe <ruhimat_imat@yahoo.com>
Topik: [Lingk] WWF: Sinar Mas Berutang Rp 48,5 Triliun
Kepada: lingkungan@yahoogroups.com
Cc: beritabumi@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 25 Mei, 2009, 11:04 PM

Selasa, 26 Mei 2009 | 12:11
http://www.kontan. co.id/index. php/nasional/ news/14319/ WWF_Sinar_ Mas_Berutang_ Rp_485_Triliun

U LINGKUNGAN

WWF: Sinar Mas Berutang Rp 48,5 Triliun

JAKARTA.
Organisasi lingkungan internasional, Greenpeace melaporkan, Sinar Mas
Grup disinyalir melakukan kegiatan perusakan lahan gambut di Sumatera.
Perusakan yang meliputi penebangan dan pembakaran hutan itu menyebabkan
lepasnya 113 juta ton karbondioksida.

Greenpeace menjelaskan,
Sinar Mas Grup berutang 3,4 miliar euro atau Rp 48,5 triliun. Hal ini
mengacu pada harga rata-rata karbon 30 euro per ton.

Berdasarkan
perhitungan Greenpeace, konsesi minyak kelapa sawit dan kertas Sinar
Mas Grup melepas emisi karbondioksida hingga 2,26 miliar ton di Riau.
Sebagai catatan, Sinar Mas menguasai lebih dari 780.000 hektare
perkebunan kelapa sawit di Riau. "52% perkebunan Sinar Mas berada di
lahan gambut yang mengandung 35 miliar ton karbon," kata Bustar Maitar,
Juru kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Yang jelas ini bukan pertama kalinya
Sinar Mas terkena isu perusakan lingkungan. Pada 2001 lalu, The World
Wildlife Fund (WWF) memperkirakan, Sinar Mas sudah merusak 450.000
hektare hutan guna pembuatan kertas dan minyak kelapa sawit.

Anna Suci Perwitasari

[Non-text portions of this message have been removed]

Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

[Non-text portions of this message have been removed]


__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments: