18 March 2009

[sobat-hutan] Lebih Sulit dari Zaman Penjajahan

rEFLEKSI :  Kemerdekaan dipeoleh untuk kemudahan hidup bagi rakyat, tetapi aneh bin ajaib kemerdekaan NKRI malah mendapatkan beban kehidupan pada rakyat. Kalau orang kawin untuk membangun hidup bersama dengan hari depan berkehidupan memada, damai dan aman, tetapi  yang diperoleh rakyat  seperti di Kalimatan nan kaya raya dengan berbagai hasil alam harus hidup berkekurangan nan miskin.
 
 

Kayu Bahan Bangunan di Kaltim
Lebih Sulit dari Zaman Penjajahan

Oleh
Sofyan Asnawie



BALIKPAPAN – Tikus mati kelaparan di lumbung padi, pepatah lama ini mungkin cocok menggambarkan keberadaan stok kayu untuk bangunan di Kalimantan, yang terkenal dengan hasil hutannya itu.

Beberapa waktu terakhir, warga yang ingin membangun rumah, terutama di Kalimantan Timur, kesulitan mendapatkan bahan baku kayu karena langka. Sulit dipercaya memang, tetapi begitulah kondisi riil di lapangan. Benarkah kayu habis "diisap" industri besar yang haus bahan baku dalam skala besar? Bupati, wali kota, 14 kabupaten kota se-Kalimantan Timur mengeluh, kayu bahan bangunan langka dan mahal. Sulit dipercaya, provinsi "gudang" kayu mengalami kelangkaan bahan bangunan. Puluhan sawmill dan pabrik plywood di Kaltim sudah banyak gulung tikar akibat tidak adanya bahan baku. Kini giliran masyarakat mengeluh kesulitan memperoleh kayu bangunan.


Kelangkaan kayu bangunan di Kaltim ini berdampak mahalnya harga bangunan, menyulitkan renovasi dan perbaikan rumah. Ketua DPRD Kaltim, Herlan Agusalim, menyebut kelangkaan kayu bahan bangunan yang melanda Kaltim sekarang ini lebih sulit dari zaman penjajahan. Belanda mengizinkan warga kampung menebang, memperdagangkan kayu kemudian mengolah kebutuhan rumah, hingga kayu api dapur. Sekarang satu dua kubik dicurigai, langsung ditahan, dicap pembalakan liar (illegal logging).


"Kondisi seperti ini lebih sakit dari zaman Belanda," kata Herlan. Dia tidak ambil pusing soal sawmill dan pabrik plywood yang terpaksa "istirahat". Tapi kini menyangkut kebutuhan "papan" masyarakat, warga kesulitan memperoleh kayu bahan bangunan. Kalimantan Timur dikenal sebagai penghasil kayu. "Ironis sekali," kata Herlan, "penghasil kayu, miskin kayu, untuk dipakai sendiri juga sulit. Kewajiban pemerintah menyiapkan sandang, pangan dan papan mudah dan murah." Sandang pangan oke, tapi "papan" mahal dan tidak ada.Kekakuan pihak keamanan, kepolisian dan kejaksaan, mengecap kayu bangunan kebutuhan rakyat sebagai hasil pembalakan liar berdampak pada kesulitan perolehan kayu bangunan di Kaltim, kendati untuk kebutuhan lokal.

Sawmill, perusahaan plywood, kesulitan pasokan bahan baku kayu dari pemegang HPH atau IPK, penggesek "wantilan" di pedesaan juga kesulitan bahan gesekannya. Tahun 1950-an hingga 1960-an, "wantilan" inilah mesin produksi kayu bahan bangunan kampung, rumah kayu masyarakat. Rakor yang digagas Gubernur Awang Farouk Ishak dan dihadiri Kapolda Kaltim Irjen Pol Andi Masmiyat di Samarinda baru-baru ini tidak bisa mengambil jalan keluar terhadap keluhan pengguna kayu bangunan melalui kepala daerah kabupaten kota. Semua menuding Jakarta. Kesulitan kayu bahan bangunan di Kaltim berjalan hampir tiga tahun sejak adanya operasi pembalakan liar. Sementara itu, petugas di daerah menyamaratakan kayu kebutuhan lokal dengan pembalakan liar.


Bupati Malinau Marthin Billa, Bupati Berau Makmur HAPK, Wali Kota Bontang Sofyan Hasdam dan para bupati serta wali kota se-Kaltim, menyampaikan kesulitan daerah masing-masing. Harga kayu bahan bangunan di pasaran lokal naik hampir 100 persen. "Sulit dan langkanya kayu bangunan ini meningkatkan nilai harga bangunan proyek pemerintah," kata Bupati Berau Makmur HAPK. Beberapa jenis kayu khas daerah seperti ulin (kayu besi), bengkirai, bahan bangunan fondasi dan tiang rumah menjadi langka.  Banyak pengusaha sawmill gulung tikar dan tidak berani mengolah kayu dijadikan bahan bangunan. Kayu "reng" meranti, dan kapur (kemper) ukuran 3x5 cm lima tahun lalu seharga Rp 2.500 sebatang, tahun 2007 menjadi Rp 12.500/batang, kini mencapai Rp 25.000/batang


Kondisi ini sangat menyulitkan warga sekitar hutan seperti di Kabupaten Paser, Berau, Kutai Barat, Nunukan, Bulungan. Mereka mengeluh sulit memperoleh kayu bangunan, padahal selama ini kabupaten tersebut dikenal sebagai "gudang" log. Bahan bangunan kayu merupakan bagian dari kehidupan mereka.
Harga "kasau" dan ""balokan" kayu bangunan ukuran 5x7 cm meranti atau kapur per kubik sudah mencapai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta, padahal tahun 2007 hanya Rp 2 juta/kubik. Belum lagi papan tipis atau tebal Rp 2,5 juta/kubik. Kayu "ulin" ukuran 10x10/M3 mencapai Rp 4 juta susah diperoleh di pedagang kayu bangunan.
Menurut Wali Kota Bontang, Sofyan Hasdam, harus ada langkah penyelamatan bagi daerah penghasil kayu untuk dapat memperoleh kayu dengan mudah dan murah. Ada kebijakan dan regulasi perdagangan kayu di daerah, misalnya dengan memberi izin terbatas.


Membatasi pengiriman kayu olahan untuk bahan bangunan keluar daerah, antarpulau, dengan asal-usul kayu yang jelas. Regulasi perdagangan kayu bangunan memudahkan daerah memperdagangkannya. Terutama kota yang tidak memiliki bahan baku kayu, dan kehabisan hutan, seperti Tarakan.
Wali Kota Tarakan, Udin Hianggio mengatakan, Pemerintah Kota Tarakan berkali-kali didemo pedagang kayu bangunan, penangkapan dilakukan dengan cap pembalakan liar. Penjual kayu lokal hanya memperdagangkan kayu bangunan keperluan bangunan daerah.


Pemerintah Tarakan menuntut kewajiban pemegang IPK dan HPH menyisihkan sebagian produksi IPK atau HPH-nya. Pemegang IPK (izin penebangan kayu) diwajibkan menjual 50 persen hasil produksinya kepada masyarakat, pemegang HPH menyediakan 5 persen kebutuhan lokal. Kenyataannya kewajiban ini tidak terealisasi, rata-rata kayu yang dikelola pemegang IPK dan HPH diekspor atau dijual habis bagi kepentingan sawmill besar dan diantarpulaukan. Keserakahan ekspor pemegang HPH dan IPK serta menjual pada industri pengolahan kayu besar ini telah mendorong maraknya pembalakan liar dan membuat warga Kalimantan menjerit karena tak bisa membangun akibat kelangkaan kayu. Ironis memang. n

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments: