27 March 2009

[sobat-hutan] "Hura-hura" Menebar Benih Lewat Udara l

 

"Hura-hura" Menebar Benih Lewat Udara l



JAKARTA – Program penebaran bibit tumbuhan melalui udara (aero seeding) sekilas menimbulkan semangat penghijauan yang membanggakan. Namun bila dikaji secara mendalam, program tersebut menjadi seperti hura-hura jangka pendek saja.

Akhir tahun lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengajukan program progresif mengenai penghijauan. Dengan memanfaatkan pesawat C-212 Cassa, bibit-bibit tanaman akan disebar melalui udara. Intinya dengan program tersebut, penghijauan secara besar-besaran akan terlaksana dengan cepat dan efisien. Tanggal 11 Desember 2008, Skuadron Udara 4 Wing 2 Lanud Abd Saleh melaksanakan tugas tersebut di daerah Pegunungan Wilis, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Nganjuk, lima ton benih trembesi dan sengon buto disebar, karena kedua jenis pohon tersebut memang dikenal memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam menyerap karbondioksida—penyebab pemanasan global.


Hasilnya, pada 5 Maret 2009 Menteri Kehutanan MS Kaban menyatakan belum bisa memantau hasil penghijauan melalui udara tersebut. Namun dari sebaran di tiga petak lahan yang disurvei sekitar 350 meter persegi, ditemukan 22 batang pohon sengon yang tumbuh. Jadi dalam jangka waktu tiga bulan, dengan lima ton benih menghasilkan 22 batang sengon tumbuh. Upaya tersebut tak merinci berapa besar biaya pemakaian pesawat, harga benih dan kontrol penghijauan.  Meskipun tak menguraikan ukuran parameter keberhasilan dari program tersebut, Jusuf Kalla kemudian tetap memutuskan program aero seeding dilakukan di beberapa tempat. Dana sebesar Rp 50 miliar-100 miliar untuk menjangkau 150.000-200.000 hektare lahan kritis di seluruh Indonesia kemudian disiapkan. Sejumlah provinsi yang menjadi target program ini antara lain Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.


Dalam kajian ilmiah, program penebaran benih lewat udara seperti ini memang dimungkinkan. Endang Sukara, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan metode seperti itu sebenarnya sudah dilakukan di Indonesia secara tradisional sejak zaman dulu. "Seperti di Kupang, orang-orang sering menebar benih pohon kenari dengan menggunakan ketapel," ucapnya usai menutup acara Ekspose Hasil Penelitian Bidang Biologi mengenai Antisipasi Perubahan Iklim Global dan Kepunahan Aneka Ragam Hayati di Cibinong Science Center Bogor, Selasa (24/3).


Program tersebut makin dimungkinkan bila melihat potensi tanaman yang dimiliki Indonesia, yang mencapai sekitar 7.000 jenis. Tinggal bagaimana memilah jenis benih yang akan disebar supaya bisa menghasilkan nilai maksimal, tambah Endang lagi. Seperti untuk daerah kapur atau karst, sebaiknya benih yang disebar seperti jambu mete dan kemiri. Sementara untuk pesisir sebaiknya ditanami jenis pohon kelapa, pilung dan mangrove.

Penyebaran bibit dengan nilai ekonomi tinggi seperti ini yang seharusnya diutamakan, mengingat sampai saat ini program aero seeding kurang maksimal lantaran benih pohon yang disebarkan kurang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, sistem penyebaran melalui udara membuat masyarakat merasa tak diajak untuk membantu program penghijauan tersebut.

Tak Libatkan Masyarakat
Alokasi dana untuk membayar sewa pesawat dan pelaksana teknis di lapangan, juga perlu dikaji efisiensinya. Sementara bila melibatkan masyarakat untuk penanaman pokok tanaman, maka diperlukan 10-15 orang per hektare. Biaya borongan per hektare Rp 300.000-450.000.  Cara ini dapat menghemat biaya hingga 20 persen. Di sisi lain, masyarakat akan lebih antusias untuk mendukung program pemerintah ini. Jadi, pemerintah akan mendapatkan dua keuntungan besar, yaitu tercapainya sasaran program reboisasi dan pemberdayaan rakyat secara nyata.


Sementara itu di sisi lain, Sarjiya Antonius, peneliti pupuk organik dari LIPI, juga menyatakan perlunya kontrol terhadap upaya aero seeding tersebut. Karena untuk bibit kayu besar untuk penghijauan, perlu dilakukan juga penebaran pupuk usai pembibitan atau penebaran. "Tergantung kadar karbon dari tanah tersebut. Namun dengan pupuk organik bisa tumbuh lebih baik dan aman bagi lingkungan pula," ujarnya pada kesempatan yang sama. Sementara dalam program aero seeding yang telah dilakukan, tak pernah dipaparkan apakah ada upaya kontrol tersebut. Lalu apakah upaya aero seeding hanya bentuk hura-hura, tanpa mengajak masyarakat untuk menjaga dan bersama meraih keuntungan dari lingkungan yang lebih baik? (sulung prasetyo)

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

No comments: