17 November 2008

[sobat-hutan] Memotret Masa Depan Hutan Kita

Bangka Pos
 

Memotret Masa Depan Hutan Kita

 
edisi: Sabtu, 15 November 2008 WIB
 

Penulis: Oleh: Mohammad Takdir Ilahi Peneliti Utama The Annuqayah Institute Yogyakarta, Sedang Studi Perbandingan Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

sikap yang paling bijak dalam memotret masa depan hutan adalah dengan mengedepankan rasa kepedulian dan kesadaran terhadap kondisi lingkungan yang carut marut. Berangkat dari kepedulian dan kesadaran bersama, maka akan tumbuh suatu keyakinan untuk membangun kembali citra lingkungan di masa depan, sehingga memberikan angin segar bagi masa depan alam dan manusia itu sendiri

Andaikan ada planet yang sebagus dan semakmur planet bumi, barangkali banyak diantara manusia yang berkeinginan untuk pindah menuju planet 'baru' itu. Betapa tidak, kondisi planet bumi saat sekarang sedang mengalami masalah besar, karena tempat dimana kita tinggal dan berpijak diwarnai dengan beragam macam bencana yang bisa mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup umat manusia. Sebut saja, konsistennya bencana alam, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, kabut asap yang mengganggu saraf pernapasan manusia, dan bencana lain yang tak kalah ganasnya.

Kondisi yang amat memperihatinkan ini, boleh dibilang sebagai bagian dari kemarahan alam yang tidak suka dengan tindakan eksploitatif manusia, karena pada satu pihak, manusia hanya ingin mengambil manfaat dari potensi hutan, sedang upaya pelestariannya tidak diperhatikan. Barangkali inilah salah satu penyebabnya, kenapa alam ini jarang bersahabat dengan tindakan manusia yang terkesan hegemonik, karena memiliki kekuatan untuk memonopoli, sedang alam adalah mahluk Tuhan yang tidak bisa bergerak secara leluasa seperti halnya apa yang dilakukan manusia.

Pada satu sisi, manusia tidak bisa lepas dari adanya alam, karena alam ini adalah tempat dimana manusia tinggal dan menjalani kehidupan dengan segala hiruk pikuknya. Namun, pada sisi lain, manusia terlepas dari alam, karena manusia mengganggu ketenangan dan ketentraman alam. Artinya, alam tidak berhasrat bersahabat dengan manusia dengan berbagai alasan yang konkrit, bahwa manusia telah menyalahgunakan anugerah Tuhan untuk memanfaatkan seoptimal dan sebaik mungkin potensi yang dimiliki alam. Pada saat itulah, alam mulai menampakkan kebisingan dan ketidakramahan terhadap manusia sebagai mahluk yang diberi beban menjadi pengatur alam ini.

Tulisan ini, berupaya memotret masa depan hutan yang semakin parah terjadi di bumi nusantara ini. Berbagai persoalan menyangkut penebangan hutan liar, kebakaran hutan, dan erosi lingkungan turut memperparah kondisi hutan kita. Padahal, hutan berfungsi menjaga sistem keseimbangan hidup dan lingkungan. Jika hutan terus-menerus ditebang, maka malapetaka bencana akan menimpa kita semua. Sadarlah, bahwa hutan bukan saja merupakan kekayaan alam Indonesia, lebih dari pada itu, ia menjadi penegak terjaganya ekosistem kita.

Dalam ranah potensi, hutan kita memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, bahkan kita juga memiliki keanekaragaman hayati yang bervariatif dengan segala keindahannya. Tak salah, jika Indonesia yang berada ditengah-tengah zamrud khasulistiwa disebut sebagai paruh-paruh dunia, yang merupakan tempat strategis dan potensial dari hal kekayaan alamnya.

Tahukah kita? Bahwa 70 persen permukaan bumi adalah air, tetapi 97,3 persen dari air tersebut adalah air laut, dan selebihnya sekitar 2,7 persen yang merupakan air di daratan. Dari jumlah yang kecil tersebut, yang bisa dimanfaatkan langsung hanya kurang dari 0,01 persen. Dalam artian, jika hutan kita semakin berkurang dari segi kualitas maupun kuantitasnya, maka bisa dipastikan potensi air di daratan juga akan semakin berkurang, sehingga daratan yang kita tempati akan terjadi badai besar.

Tiap tahun di berbagai daerah mengalami banjir dan 1,1 juta hektar hutan di Indonesia rusak total. Pada implikasi yang lain, laju pertumbuhan konsumsi air Indonesia bertambah menjadi 6,7 persen per tahun. Dengan kata lain,di Indonesia telah terjadi degradasi air akibat pertambangan, perambahan hutan, eksploitasi air, pencemaran lingkungan, dan populasi udara yang makin parah.

Faktanya, pemerintah sekarang terkesan kurang peduli terhadap kondisi hutan dan lingkungan hidup rakyatnya. Padahal, kunci utamanya dalam pelestarian hutan adalah terletak pada komitmen pemerintah dalam mencanangkan pencegahan terhadap berbagai persoalan lingkungan yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bangsa di segala sektor, termasuk pelestarian lingkungan.

Semakin gencarnya persoalan rusaknya hutan dan lingkungan dalam konteks global, pada akhirnya mendorong para aktifis lingkungan dan elemen terkait yang memiliki perhatian penuh terhadap kondisi hutan untuk mengangkatnya sebagai topik aktual dalam rangka mencari solusi pemecahan yang progresif demi pembangunan bangsa secara berkelanjutan. Maka tak heran, bila  kerusakan hutan mulai ramai dibicarakan sejak diselenggarakannya Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia, pada tanggal 15 Juli 1972. Sedang di Indonesia, tonggak sejarah masalah kerusakan hutan dan lingkungan hidup dimulai dengan dilaksanakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional oleh Universitas Pajajaran Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972.

Mencuatnya persoalan lingkungan semacam kerusakan hutan, sebenarnya bukan merupakan yang baru dalam konteks wacana global, akan tetapi sudah muncul sejak diciptakannya bumi dengan hiasan-hiasannya yang mampu memberikan ketertarikan (interesting) pada manusia. Bahkan, ada asumsi yang mengatakan bahwa, universalnya persoalan lingkungan, termasuk kerusakan hutan sejatinya banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang tak terbatas. Akibat dari kemajuan ini, keselamatan bumi dan lingkungan sekitar mulai diperbincangkan dan dianalis sejauhmana dampak yang akan terjadi ketika pembangunan industri dan pembangunan yang lain terus menerus dilanjutkan tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi setelah terealisasinya pembangunan tersebut.

Menurut Philip Kristanto, sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasari mencuatnya persoalan hutan dan lingkungan hidup, sehingga PPB mengadakan Konferensi tentang Lingkungan Hidup di Stockholm. Pertama, dapat kita lihat pada tahun 1953, di Jepang, terjadi malapetaka yang mengerikan yang menimpa sebagian nelayan dan keluarganya di sekitar Teluk Minamata yang makanan utamanya adalah ikan. Di daerah tersebut telah terjadi wabah neurologis yang disebut dengan penyakit Minamata. Pada penderita secara progresif mengalami lemah otot, hilangnya penghilatan hingga menyebabkan kematian. Ternyata setelah diadakan penelitian, pada tahun 1959, penyakit tersebut disebabkan oleh metilmerkuri, yaitu limbah yang mengandung air raksa dari berbagai industri kimia milik Chisso CO.

Kedua, Pada tahun 1963 Amerika Serikat Mengeluarkan Undang-Undang Tentang Lingkungan Hidup (National Environmental Policy Act, NEPA) sebagai reaksi atas kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang meningkat, antara lain dengan tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transportasi.

Ketiga, terjadinya penipisan lapisan ozon (03) sebagai dampak dari rumah kaca dan meningkatnya suhu permukaan bumi akibat penebalan lapisan C02, yang akan mengancam terhadap kesehatan dan keselamatan ummat manusia, karena ozon menjadi tameng dari pancaran sinar matahari yang sangat menyengat.

Persoalan lingkungan di atas, menurut saya, adalah isu lingkungan global yang mengemuka dan populer di kalangan aktifis lingkungan. Ini karena, dampak yang akan terjadi dari isu global tersebut merambah pada seluruh penduduk alam semesta ini, dan jika persoalan tersebut dibiarkan begitu saja di tengah tuntutan pembangunan industri dan limbah, maka implikasinya akan benar-benar menjadi sindrom kehidupan yang tak terbantahkan.

Menyikapi demikian, sikap yang paling bijak dalam memotret masa depan hutan adalah dengan mengedepankan rasa kepedulian dan kesadaran terhadap kondisi lingkungan yang carut marut. Berangkat dari kepedulian dan kesadaran bersama, maka akan tumbuh suatu keyakinan untuk membangun kembali citra lingkungan di masa depan, sehingga memberikan angin segar bagi masa depan alam dan manusia itu sendiri

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Kevin Sites

Get coverage of

world crises.

New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Everyday Wellness

on Yahoo! Groups

Find groups that will

help you stay fit.

.

__,_._,___

No comments: