26 October 2008

[sobat-hutan] Masa Sulit Petani Sawit

 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Masa Sulit Petani Sawit

Panen Kelapa Sawit

Pekerja menaikkan kelapa sawit ke atas truk seusai panen di perkebunan kelapa sawit di Pangkalan Lada, Kecamatan Arus Selatan, Kabupaten Waringin Barat, Kalimantan Tengah.

etani kelapa sawit di sejumlah sentra perkebunan sawit di Tanah Air, kini menghadapi kegetiran. Harga komoditas yang selama ini menopang kehidupan mereka, dan menjadi salah satu unggulan di sektor perkebunan, anjlok hingga di bawah biaya produksi.

"Sekarang banyak petani di Bengkulu membiarkan kebunnya tidak terawat. Mereka terpaksa mencari kerja lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pendapatan dari hasil panen sawit sudah tidak bisa diandalkan untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga," ujar Rustam, petani sawit di Bengkulu Utara, belum lama ini.

Rustam, dan juga banyak petani sawit di Indonesia, kini tak lagi bergairah menggarap kebun mereka. Kerja keras yang dilakoni petani, tidak seimbang dengan pendapatan yang diperoleh.

Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit hingga Rp 200 per kg, bahkan memicu niat petani sawit untuk menjual kebun mereka. Pasalnya, kondisi itu membuat petani benar-benar terpuruk.

Kini, rata-rata pendapatan dari hasil panen hanya berkisar Rp 400.000 per hektare (ha), jauh dari sebelumnya yang bisa mencapai Rp 3 juta per ha, tatkala harga TBS masih rata-rata Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kg.

"Petani sawit di Bengkulu sekarang ini benar-benar frustrasi, karena harga sawit terus anjlok. Tanaman sawit membutuhkan pupuk banyak. Jika tidak dipupuk, panen akan menurun. Kalau harga sawit seperti sekarang, hanya Rp 200 per kg, jelas petani tidak sanggup membeli pupuk," jelas Hasan, petani sawit asal Seluma, Bengkulu.

Kegetiran yang sama juga dirasakan petani sawit di Kalimantan Barat. Masa keemasan komoditas ini sungguh membawa berkah bagi petani, yang bisa meraup pendapatan hingga Rp 10 juta per bulan. Kala itu, harga TBS mencapai Rp 1.700 per kg.

Bersambung ke halaman 12

Kini, 1.532 keluarga petani sawit di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalbar, mengalami masa pahit. "Umumnya petani di sini memiliki utang ke bank, seperti untuk beli kendaraan. Ada juga yang utang ke perusahaan," jelas Antonius Budiono, Ketua Koperasi Unit Desa Rindu Sawit di Parindu.

Perusahaan dimaksud adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) maupun perusahaan swasta lainnya, yang selama ini menjadi tumpuan petani menjual hasil panen mereka. "Rata-rata petani memiliki lahan satu sampai dua kapling. Setiap kapling luasnya mencapai 2 ha, dan semua koperasi petani sawit bermitra dengan perusahaan PTPN atau perusahan swasta," katanya.

Keterpurukan komoditas sawit juga terjadi di Sumatera Utara. Harga TBS dalam sebulan anjlok hingga Rp 150 per kg dari sebelumnya mencapai Rp 1.800 per kg.

Petani hanya berharap pemerintah bisa mendongkrak harga sawit. "Pemerintah kami harap melakukan upaya positif untuk mendongkrak harga sawit di luar negeri," ujar Rahmad Hidayat, pengelola kebun sawit di Kabupaten Labuhan Batu, Sumut.

Rahmad, yang mengelola 5 ha kebun sawit, mengaku tidak dapat berbuat banyak menyusul anjloknya harga TBS di pasar internasional. "Harga TBS sudah tidak sesuai lagi dengan biaya yang dikeluarkan selama mengurus perkebunan kelapa sawit. Mulai dari pemupukan sampai dengan membayar gaji pekerja perkebunan," keluhnya.

Pengusaha Terimbas

Kegetiran tak hanya melanda petani, tetapi juga dirasakan pengusaha. Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar, Ilham Sanusi mengakui, kondisi seperti ini menyebabkan perusahan kelapa sawit mengalami kerugian yang cukup besar.

Dia menjelaskan, perusahaan sawit mengolah 5 kg TBS menjadi 1 kg minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). "Tetapi, sekarang harga CPO anjlok, sementara biaya produksi tetap tinggi. Jika kondisi harga seperti sekarang terus berlangsung, TBS tidak mungkin diolah menjadi CPO," ujarnya.

Untuk meringankan beban pengusaha, pemerintah diminta menghapus pajak ekspor (PE) untuk sementara. Selain itu, kepada Pemprov Kalbar, diharapkan membantu menfasilitasi tempat penimbunan CPO. "Tongkang untuk menimbun CPU sekarang sudah penuh karena belum terjual. Kami baru akan menjual kalau harga sudah naik," kata Ilham.

Desakan agar PE CPO dihapus juga disuarakan Direktur Keuangan PTPN VI Jambi-Sumatera Barat, A Karimuddin. Hal itu untuk menghemat keuangan perusahaan, sehingga bisa mensubsidi harga beli TBS dari petani sawit.

Karimuddin menuturkan, perkebunan kelapa sawit yang memiliki pabrik sendiri, seperti PTPN VI, hingga kini tidak bisa menaikkan harga TBS yang dibeli dari petani di luar harga pasar, sebab perusahaan akan rugi besar.

"Saat ini kita membeli TBS dari petani sawit Rp 892 per kg di lokasi pabrik. Sedangkan harga TBS sawit di tingkat petani ada yang hanya Rp 400 per kg. Bila harga ini kita naikkan, kita yang rugi. Harga pembelian TBS sawit tidak sebanding dengan hasil penjualan CPO," katanya.

Kini, petani sawit di Bengkulu sedikit terhibur dengan janji pemprov yang akan membeli hasil panen mereka melalui salah satu badan usaha milik daerah, PT Bengkulu Mandiri (BM). "Saya sudah minta PT BM menjajaki kemungkinan membeli sawit dari petani," kata Gubernur Bengkulu, Agusrin Maryano Najamuddin.

Petani pun menyambut dengan penuh harap janji tersebut. "Kalau memang benar apa yang dikatakan Pak Gubernur, tentu kita senang dan itu yang diharapkan petani," kata Rustam.

Dia berharap PT BM membeli TBS petani minimal sama dengan harga pembelian pabrik CPO di Bengkulu, yakni Rp 600 per kg. Dengan harga ini, para petani masih dapat menikmati hasil panennya. [143/AHS/146/141]


Last modified: 25/10/08

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Yahoo! Groups

Discover healthy

living groups and

live a full life.

.

__,_._,___

No comments: