31 July 2008

[sobat-hutan] Warga Karangasem Krisis Air

Refleksi: Jangan merusak hutan dan peliharalah kebersihan lingkungan serta kesehatan sungai, bila hal tsb diperhatikan  akan sangat membantu mencegah kekuragnan air kebutuhan hidup sehari-hari..
 
 
Selasa, 29 Juli 2008 | BP
 
Warga Karangasem Krisis Air
Jalan 4 Km, Antre Mulai Tengah Malam
Ketut Merta membangunkan istrinya tengah malam. Demikian juga kedua anaknya harus bangun dari tidur lelapnya. Walaupun rasa kantuk masih berat dan mata belum terbuka lebar, mereka bergegas mengambil ember. Tak ada keluhan. Ibarat jarum jam mereka terus berjalan, tanpa pernah berhenti berjuang menyambung hidup; mendapat seember air.



DEMIKIAN keseharian warga Mekar Sari Banjar Kangin, Seraya Timur, Karangasem ketika musim kemarau tiba. Tidak hanya Merta, juga ada keluarga I Wayan Salin. Nasibnya sama, harus bangun tengah malam lalu berjalan 4 km pulang pergi (pp) untuk mendapat seember air.

Merta saat ditemui antre air di Tukad Item, Senin (28/7) kemarin mengatakan, dirinya, istri dan dua anaknya yang sudah cukup besar dikerahkan untuk mencari air. Dia mesti rela bangun pukul 24.00 malam berjalan sekitar 2 km ke Tukad Item, guna mencari seember air. Di sungai kering itu, dia dan sejumlah warga lainnya yang senasib berebut membuat lubang di dasar sungai. Dia mesti antre menunggu rembesan air sekitar 15 menit. Hasilnya hanya satu ember air. 'Airnya memang keruh, tetapi sampai di rumah kita tunggu agar kotorannya mengendap di bawah. Air ini sekadar untuk memasak dan minum ternak, anggota keluarga kami jarang mandi. Kalau pergi jauh seperti kondangan atau sembahyang, cukup cuci muka atau membasuh badan sedikit dengan kucuran air dari bekas botol air mineral yang dilubangi,' papar Merta tanpa malu menceritakan penderitaannya.

Tetangganya, Wayan Salin, menyampaikan hal yang sama. Dia mengaku mesti pergi ke sungai sekitar pukul 02.00 malam dan antre air di sungai setelah berjalan sekitar 2 km. Salin juga mengaku jarang mandi. 'Pada musim kemarau warga di sini jarang bisa mandi. Tiga hari sekali belum tentu mandi. Yang penting mendapatkan air untuk minum, memasak dan minum ternak agar sapi atau babi tak mati,' ujar Salin.

Warga di Desa Tengah dan Seraya Barat yang bermukim di pegunungan juga mengalami krisis air bersih. Selain air hujan di cubang sudah kering, proyek pipanisasi dari mata air Tirta Ujung mangkrak sejak tahun lalu. Masalahnya, mesin terbakar dan kabelnya meleleh sebagai akibat terlalu panas terus beroperasi memompa air ke Desa Seraya. Sementara sebuah truk tangki bantuan pemerintah yang dikelola secara swadaya tengah diperbaiki, setelah tak bisa dipakai karena tak ada ban.

Kondisi masyarakat Karangasem di desa pegunungan lainnya, tak jauh berbeda. Warga di Desa Besakih juga mesti menunggu aliran air PDAM secara bergiliran, karena kapasitas pompa enam tingkat sangat kecil sekitar 5 liter per detik. Sementara proyek sumur bor di dekat Pura Batu Madeg, Besakih sudah dua kali gagal dengan anggaran masing-masing sekitar Rp 300 juta. 'Setelah dibor sedalam sekitar 110 meter, ternyata airnya tak juga keluar karena terhalang batu yang besar,' ujar Wakil Ketua DPRD Karangasem IGB Karyawan asal Desa Besakih.

Klian Banjar Tigaron Timur, Kubu, Karangasem, Ketut Rukiana, mengaku prihatin dengan warganya di pegunungan yang krisis air bersih rutin tiap musim kemarau tiba. Sebagai klian pihaknya mengaku tak mampu memberikan banyak penjelasan, saat warganya menuntut diperjuangkan air bersih. Soalnya, sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah namun jalan keluarnya tak kunjung tiba. Warga yang mampu kalau ada upacara, terpaksa membeli air bersih kepada pemasok menggunakan mobil tangki. Bagi warga yang di pelosok dan bisa dijangkau dengan sepeda motor, membeli air dengan jeriken volume 30 liter. Harga air tergantung jaraknya, namun satu tangki antara Rp 60 ribu sampai Rp 150 ribu di pegunungan.

Warga Bukit Mangun, Kubu, Made Mangku Surata, mengatakan memang ada truk tangki yang dikelola di kecamatan. Namun untuk sopir dan BBM serta pemeliharaan truk tangki itu tentu pihak pemohon bantuan air bersih juga mesti membayar biaya operasional. 'Tak ada bantuan air gratis.'

Menurut Mangku Surata, justru biaya air dari mobil tangki bantuan pemerintah lebih mahal dibandingkan membeli kepada penjual air. Soalnya, konvensasi bantuan air dari truk tangki Rp 70 ribu per tangki, sama dengan membeli air di penjual umum.

Warga Seraya berharap Bupati Karangasem segera mencarikan jalan keluar agar masyarakat pegunungan lebih mudah mendapatkan air bersih. Soalnya, untuk membeli air warga miskin tak mampu karena sampai di Seraya Timur harga air satu truk tangki mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu.

Anggota DPRD asal Kubu, Nyoman Oka Antara, mengatakan keluarganya di Tianyar Barat tiap minggu membeli air rata-rata satu truk tangki dengan harga berkisar Rp 70 ribu. Sementara warga yang lebih di pegunungn seperti di Peradi mesti membeli air dengan harga Rp 80 ribu per satu truk tangki. 'Jika memelihara beberapa sapi dan babi, satu truk tangki cukup hanya untuk satu minggu,' katanya. (bud)

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

Curves on Yahoo!

Share & discuss

Curves, fitness

and weight loss.

Find Balance

on Yahoo! Groups

manage nutrition,

activity & well-being.

.

__,_._,___

No comments: