26 June 2008

Re: [sobat-hutan] Kita Bangsa Perusak Hutan

emang benaR  ntuk mempertahan kan kepentingan sektor tertentu dan segelintir orang.... Karena Desa selaku wilayah Administrasi pemerintahan paling bawah tidak pernah di akomodir dan diakui secara utuh.. contohnya kenapa ampe sekarang tidak ada tata ruang desa ... kenapa ada desa dalam hutan atau HGU perusahaan tetapi kenapa tidak ada  Hutan atau HGU perusahaan didalam Desa ..... mari kita renungkan bersama dan mulai membenahinya mengacuh pada UU Tata Ruang dan Lebih tingginya UUD 45 pasa 33 ... ma kah kita semua mulai berbuat jangan hanya ada tata ruang sebatas Propinsi dan Kabupaten hapuskan kekuasaan sepihak sektor atau yang punya kepentingan pribadi
 
salam
ook
----- Original Message -----
From: Sunny
Sent: Monday, June 23, 2008 5:50 AM
Subject: [sobat-hutan] Kita Bangsa Perusak Hutan

Refleksi: Kalau bangsa perusak hutan, berarti sudah lama tidak ada hutan dan yang tertinggal hanya gurun pasir atau padang tandus. Perusak hutan ialah tidak lain tuan-tuan  penguasa di Jakarta dan konco-conco serta para cecungguk di daerah,
 
 
Bangka Pos
 

Kita Bangsa Perusak Hutan

 
edisi: Selasa, 17 Juni 2008 WIB
 

Penulis: Oleh: Fitriadi (Wartawan Bangka Pos Group)

____
____
TAHUKAH Anda setahun lalu Indonesia pernah mendapat gelar bangsa perusak hutan tercepat di dunia? Atas prestasi tak bagus itu, Greenpeace pada 16 Maret 2007 mengusulkan Indonesia masuk Guinness Book of Record.

Pencataan rekor dunia yang bermarkas di London, Inggris itu mengakui Indonesia sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia dengan total perusakan hutan seluas 1,8 juta hektare (ha) per tahun selama kurun waktu tahun 2002 hingga 2005. Greenpeace berpatok pada data organisasi PBB, Food and Argiculture Organization (FAO), yang menyebutkan Indonesia menghancurkan sekitar 51 kilometer persegi hutannya setiap hari, atau kira-kira 300 kali lapangan sepakbola. Angka ini fantastis, namun bukan prestasi bagus, justru mengkhawatirkan.


Dalam catatan Greenpeace, angka deforestasi Indonesia tahun 2000 -2005 yang hanya mencapai 1,8 juta ha pertahun, memang masih di bawah Brasil yang menempati urutan pertama dengan kerusakan 3,1 juta ha per tahun, dan merupakan kawasan deforestasi terbesar dunia. Namun karena luasan wilayah hutan di Indonesia yang jauh lebih kecil dari Brasil (Indonesia luas hutannya sekitar 120,35 juta ha, Brasil 477,698 juta ha, maka laju deforestasi Indonesia 2 persen per tahun, lebih besar dibanding Brasil hanya 0.6 persen). Jika rekor ini terus bertahan, Greenpeace memprediksi dalam lima tahun sejak data ini dipublikasikan, hutan Indonesia akan habis. Bisakah kita hidup tanpa hutan, gersang, gundul? Tentu saja tidak. Ketergantungan manusia pada hutan bagaikan dua sisi mata uang.

Perambahan Hutan

Degradasi hutan terjadi di banyak daerah termasuk Bangka Belitung. Medio 2004-2005, luas hutan produksi di Babel mencapai 436.254 ha, sedangkan hutan lindung 195.740 ha, belum termasuk luas jenis hutan konservasi, hutan adat dan lainnya. Luas hutan-hutan itu kini menyusut. Di Bangka Barat dan Bangka Selatan misalnya, lahan kritis di kawasan hutan lindung pun dibabat. Di Bangka Barat, dinas kehutanan setempat mencatat tahun 2005 luas lahan kritis di dalam kawasan hutan lindung sudah pada taraf mengkhawatirkan mencapai 4.959,12 ha. Sedangkan di Bangka Selatan tahun 2004, luasnya 10.522,16 ha, dan 991,80 ha lainnya sangat kritis. Ini belum terhitung kerusakan tahun-tahun sesudahnya.

Kerusakan hutan bisa disebabkan berbagai faktor. Di Babel, aktivitas pembalakan liar (illegal logging) salah satu penyumbang besar kerusakan hutan, selain penambangan (illegal mining) dan perambahan hutan lainnya. Praktik pembalakan liar ibarat benang kusut yang sulit terurai. Para cukong dan kaki tangannya seperti kucing-kucingan dengan aparat. Mereka tidak kenal jera, meski para pelaku kejahatan lingkungan ini sudah banyak ditangkap. Belum lagi jika ada maling teriak maling.

Baru-baru ini di wilayah Kecamatan Airgegas dan Simpangrimba, aparat gabungan Kepolisian, TNI, dan Polhut mengamankan ribuan batang kayu gelondongan dan olahan. Operasi penangkapan kayu ini bukan hal baru. Namun seperti yang sudah-sudah, cukongnya bak hilang ditelan bumi. Mengapa? Pengusutan kasus-kasus kayu pun seakan tak berbekas. Padahal jika diusut tuntas, bukan mustahil ada pemain lain menangguk untung dari bisnis ilegal ini. Seperti illegal logging besar-besaran di Ketapang, Kalimantan Barat yang menyeret beberapa oknum perwira kepolisian dan pejabat dinas kehutanan setempat.

Penyelamatan

Perambahan hutan dan pencurian kayu oleh penebang liar maupun pengusaha merupakan bentuk kegiatan destruktif terhadap pemanfaatan sumber daya hutan, karena jauh dari asas kelestarian. Bagaimana tidak dipandang merusak, kalau dalam praktiknya dilakukan dengan volume melebihi kemampuan peremajaan pohon tanpa ada upaya pembangunan hutan. Apalagi aktivitas ini kerap meninggalkan lahan-lahan kritis yang tak mampu lagi menyerap air tanah sehingga berpotensi menimbulkan banjir.

Ya, kebijakan yang 'salah urus' selama beberapa dasawarsa terakhir terhadap hutan di negeri ini, telah menimbulkan kerusakan yang sangat parah dan mengancam kelestarian sumber daya hutan. Untuk itu, rehabilitasi hutan baik dalam bentuk gerakan penghijauan maupun lainnya mesti digalakkan terus. Action tidak cukup di situ, tetapi bagaimana upaya kita memelihara pohon-pohon penghijauan yang sudah ditanam agar gerakan ini tidak mati suri.

Dari kasus-kasus yang mencuat, kesadaran masyarakat dan pengusaha tentang produk hukum kehutanan juga masih rendah. Setidaknya bisa dilihat dari minimnya perizinan untuk pemanfaatan hasil hutan. Bisa jadi tidak ada sama sekali. Padahal kita sadar betul eksploitasi hutan tanpa aturan seperti itu cenderung destruktif. Belakangan juga disinyalir ada penebangan 'cuci gudang' di kawasan hutan produksi, sehingga kawasan hutan lindung menjadi sasaran berikutnya dalam berburu kayu. Jika kejahatan ini terus dibiarkan bukan mustahil kekhawatiran Greenpeace bahwa hutan kita akan habis benar-benar terjadi.

Kita tentu tak mau terus dicap sebagai negara perusak hutan. Untuk itu mesti ada upaya kuat dari instansi terkait mengatasi masalah klasik ini. Perketat pengawasan, dan masyarakat harus mendapat penyuluhan yang baik agar taat aturan. Hukum mesti ditegakkan seperti harapan banyak pihak termasuk Greenpeace. Bahkan kelompok pecinta lingkungan ini lebih ekstrim mengusulkan adanya jeda penebangan hutan selama 35 tahun agar hutan Indonesia bisa pulih dan siap berproduksi lagi. Betapa menghawatirkannya kehancuran hutan kita.

Sebagai negara hukum tentu Indonesia perlu instropeksi diri guna memperbaiki citra hukum beserta aparat di negeri ini. Jika proses hukum di negara yang katanya negara hukum tidak bisa ditegakkan, bukannya kepastian hukum yang diperoleh tapi kepastian menjadi bangsa dan negara yang dihukum. Banyak sudah contohnya. Dalam banyak hal, negeri kita tidak dihormati bangsa lain. Hal itu dapat mereka lakukan melalui berbagai tindakan diantaranya membatalkan atau menghentikan berbagai investasi.

Kejahatan illegal logging akan terus terjadi di negeri ini sebagai hukuman atas ketidakberdayaan kita. Kita semua juga jauh dari rasa aman dan nyaman hidup di negeri sendiri. Sekarang, pilihan ada pada kita sendiri, mau jadi negara hukum yang menjunjung tinggi supremasi hukum lewat penegakannya, atau justru menjadi negara yang dihukum dan dicap sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Tidak malukah kita?
(

__._,_.___
MARKETPLACE

Special offer for Yahoo! Groups from Blockbuster! Get a free 1-month trial with no late fees or due dates.
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Fashion News

What's the word on

fashion and style?

Special K Group

on Yahoo! Groups

Learn how others

are losing pounds.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

.

__,_._,___

No comments: