03 May 2008

[sobat-hutan] Hutan Habis Sanak Binasa

Riau Pos
Saturday, 03 May 2008 08:56
 

Hutan Habis Sanak Binasa

 
Orang Rimba suka melangun, hidup berkelana. Mereka petik buah-buahan hutan, berburu hewan atau menakik getah jernang, rotan dan damar, dan lalu ditukarkan dengan sembako kepada para pedagang.

Bila sumber kehidupan di satu tempat berkurang, mereka migrasi ke tempat lain. Menebang pohon dipantangkan. Siapa yang melanggar, dianggap telah merobohkan persemayaman roh leluhur dan bisa dikutuk oleh ''Orang de Buah'', dewa yang dipercayai memberikan kemakmuran. Pelanggar tabu ini, akan diusir dari kampung oleh temenggung, sang pemimpin tertinggi.

Sanak atau Orang Rimba, disebut juga Suku Kubu adalah nenek moyang orang Jambi. Syahdan, manusia bercawat yang nomaden di belantara Jambi ini adalah sekelompok masyarakat yang tak mau dijajah oleh kolonial Belanda dan lalu lari ke hutan membentuk kubu (pertahanan). Sudah berabad-abad mereka menghuni hutan, seperti pernah diteliti oleh Fachruddin Saudagar, dosen sejarah di Universitas Jambi.

Anak Rimba turun-temurun menjauhi budaya material, seperti membangun rumah. Mereka bangun pondok seadanya, bak bersebati dengan alam. Tak pernah membangun istana raja, atau rumah panjang yang menghabiskan banyak kayu seperti etnik lain di Indonesia. Orang Rimba tidak eksploitatif, kultur ekonomi ala masyarakat urban.

Anggapan mereka sebagai pemalas, adalah stereotype antropolog urban. Mereka sukai kerja keras, dan sejak kecil terbiasa mandiri. Melangun adalah sikap hidup yang survival di tengah belantara dan margasatwanya. Mereka pun punya kesenian tradisi yang menarik hati para turis, jika pemerintah dapat memanfaatkannya. Kenangan itu yang tersisa dalam benak, saat saya berpos di Palembang, dan kerap meliput ke Jambi pada 1990-an.

Pembalakan Hutan

Tapi sekarang, seorang kawan mengabarkan tidak semua lagi Orang Rimba menjaga kelestarian hutan. Banyak yang menjadi kuli para bandar illegal logging dan terampil menggunakan mesin gergaji penebang pohon. Padahal upahnya sekadar makan saja. Yang kaya raya tetap si bandar pembalak hutan.

Penyebabnya, adalah desakan hidup. Mereka frustasi dan kalah oleh eksploitasi hutan oleh perusahaan HPH yang berizin dan yang illegal logging sejak awal Orde Baru. Akibatnya, lahan mereka menyusut dahsyat. Deforestasi meraja-lela.

Lahan mereka beberapa tahun terakhir terkonsentrasi di barat TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas), hutan lindung pusat populasi mereka. Mereka pernah tersebar di kawasan seluas 60.500 hektare dengan puluhan komunitas. Sekarang tinggal delapan komunitas. Jumlah mereka sekitar 3.000-an jiwa, menurut data di kantor Gubernur Jambi, yang kian berkurang karena angka kematian yang tinggi.

Tragisnya, kawasan TNBD sebagai hutan lindung, dan Orang Rimba ada di dalamnya, sudah lama dimasuki oleh perkebunan sawit. Terpaksalah menjadi buruh illegal logging atau buruh sawit.

Eko Wisata

''Hukum hutan'' ala Orang Rimba inilah yang keok oleh regulasi kehutanan nasional. Tak seperti Raja Airlangga dari masa silam yang selalu menjaga hukum adat hutan. Datang pula pemerintah Hindia Belanda dengan hukum homogen, hatta kearifan lokal hutan itupun ikut musnah, seperti di Kalimantan, Riau, Papua dan tanah Batak.

Mitologi hutan suku Petalangan di pedalaman Riau pun, dalam disertasi Ashley Turner, kawan saya seorang antropolog Australia beberapa tahun silam, menulis bahwa ''Nyanyi Panjang'' suatu bentuk sastra lisan Riau, menganggap hutan sebagai makhluk hidup yang jika dirusak berarti menyakiti diri sendiri. Rimba Pohon Sialang pantang ditebang. Siapa yang melanggar didenda dengan kain panjang seraya mengkafani pohon tersebut. Pohon ini adalah tempat lebah madu bersarang, yang madunya diambil melalui ritus tertentu.

Namun hutan Riau pun kehilangan mitologi semenjak perusahaan perkebunan dan kehutanan datang menerobos. Belum lagi untuk lahan transmigrasi dan pertambangan sehingga pemukiman suku Petalangan yang setia merawat hutan kian tergusur.

Riau pernah mengenal ''adat Bergitau'' yakni semacam pengakuan penduduk asli kepada Kerajaan Pelalawan yang berdiri setelah Kerajaan Pekantua di tepi Sungai Siak sekarang. Kerajaan baru diberikan hak menguasai tanah pada wilayah tertentu. Kerajaan juga menampung hasil bumi penduduk, seperti rotan, kayu gaharu, kemenyan dan dedaunan serta akar peracik obat-obatan sebelum dikirim ke luar negeri. Hubungan kerajaan dan peduduk asli saling win win solution. Kemakmuran tak hanya di dalam tembok kerajaan, tetapi juga menyebar ke penduduk asli.

Tapi zaman keemasan itu lenyap setelah masa fasis Jepang. Semakin gawat setelah Indonesia merdeka, dan ditabalkan oleh rezim Orde Baru yang mengeksploitasi hutan tanpa ampun. Hutan alam ditakik sebelum kita mempunyai modal sosial dan nasional yang kuat. Keuntungan jatuh ke tangan para konglomerat dan investor asing di bidang kehutanan dan pertambangan.

Program pemerintah agar Orang Rimba menjadi petani transmigran, tidak efektif. Sehabis jatah hidup, mereka melangun lagi. Rumah-rumah yang dibangun, menjadi mubazir. Pemerintah melupakan budaya melangun yang berabad-abad. Mestinya, diakomodasi dulu, baru perlahan diajak hidup secara menetap.

Kita ingat Butet Manurung yang dianugerahi AnTeve sebagai Women of the Year pada 2004 silam. Butet yang terdidik mengabdi kepada bocah suku Kubu, mengajari membaca dan pelbagai peradaban kota, meski orangtua mereka tak ikut Pemilu lalu. Rupanya tak hanya hak mereka yang dirampok kaum kapitalis, hak politik mereka juga tak diurus oleh pemerintah.

Sebetulnya, peluang obyek wisata sangat potensial. Kita terbayang konsep wisata lingkungan. Para turis datang ke hutan-hutan persis pada kalender ritus tradisi suku pedalaman, baik di Papua, Kalimantan, Riau, Jambi dan sebagainya. Pastilah sangat eksotik. Dan dolar berceceran pula.

Jika kekayaan hutan digarap menjadi sumber bahan baku farmasi, bersama turisme, jangan-jangan lebih menumpuk devisa yang sangat besar. Industri Hutan Tanaman Industri boleh saja, tetapi selektif, sehingga Indonesia lestari sebagai paru-paru dunia mempesona di bumi ini.***

Bersihar Lubis-Wartawan tinggal di Depok

__._,_.___
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Give Things.

Get Things.

It's free and it's

good for the planet.

.

__,_._,___

No comments: