01 December 2007

Tanam Pohon Tebar Pesona

SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Tanam Pohon Tebar Pesona

Akhir-akhir ini, negara kita ramai dengan kegiatan menanam pohon. Ada upacara menanam sejuta pohon, 10 juta, bahkan 79 juta pohon di 79.000 lokasi. Sulit membayangkan bagaimana seremonial menanam beberapa pohon oleh presiden, menteri, pejabat eselon, pengusaha, dan pemerintah daerah itu bisa berlanjut menjadi berjuta-juta pohon. Siapa yang akan merawat dan menjaganya.

Pohon tak mudah tumbuh seperti rumput liar karena harus cocok dengan lokasi, kondisi lahan, dan cuaca. Pohon-pohon kecil akan langsung ludes dimakan hewan-hewan lapar. Bila pohon itu sudah tumbuh dewasa dan layak jual, kemungkinan habis ditebangi.

Apalah artinya menanam pohon jika pembalak liar dibiarkan membabati hutan tanpa rasa takut dan bersalah. Pohon-pohon yang kokoh dan sehat dibabat habis, kemudian diangkut melalui jalan raya dan sungai di depan mata petugas. Pejabat di daerah bergelimang harta, sementara rakyat harus menanggung derita dihajar banjir, tanah longsor, dan udara panas menyengat akibat hutan terus digunduli.

Pejabat di pusat seolah-olah tak berdaya dengan alasan otonomi daerah. Jika ada peninjauan ke daerah dibuatlah upacara menanam pohon untuk menunjukkan komitmen peduli terhadap lingkungan. Namun, kota tetap gersang dan hutan terus ditebangi secara liar. Hutan bakau di utara Jakarta ditebangi, diuruk, dijadikan lahan komersial. Kita tinggal menuai akibatnya.

Indonesia dikenal sebagai salah satu pemilik hutan tropis terluas. Namun, kita juga rakus terhadap hutan dan sumber daya alam, tanpa tindakan tegas terhadap pelanggarnya. Pentolan pembalak liar bebas dan menghilang dengan bantuan para beking.

Banyak pihak sibuk menghitung kompensasi yang harus dibayar negara maju jika Indonesia harus mempertahankan hutan agar bisa menjadi paru-paru dunia dan menyerap udara kotor yang dikeluarkan negara industri. Hutan juga berguna untuk mengatasi pemanasan global. Kompensasi tidak akan diberikan jika kita tidak bisa menjaga hutan.

Departemen Kehutanan mengklaim bahwa luas hutan Indonesia mencapai 120,35 juta ha. Menurut fungsinya, kawasan hutan itu terdiri dari hutan konservasi 20,50 juta ha, hutan lindung 33,52 juta ha, hutan produksi 58,25 juta ha, dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 8,08 juta ha.

Namun, dalam dekade terakhir ini, kondisi hutan telah berubah sangat cepat. Pada periode 1985-1997 telah terjadi pengurangan penutupan hutan seluas 1,8 juta ha, dan tingkat deforestasi pada periode 1997-2000 seluas 2,8 juta ha per tahun. Penurunan penutupan hutan dan deforestasi utamanya diakibatkan perubahan kawasan hutan untuk penggunaan di luar sektor kehutanan, seperti perkebunan, permukiman, dan transmigrasi. Juga akibat kebakaran hutan dan pengelolaan yang kurang tepat.

Semua mendukung jika ada pejabat, istri pejabat, pengusaha, sibuk melakukan penghijauan. Jika benar serius dan dari lubuk hati yang paling dalam, semua boleh bertepuk tangan dan mengacungkan jempol. Namun, jika penanaman pohon itu hanya tebar pesona kepada dunia yang akan meramaikan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali, 3-14 Desember 2007, kita tentu kecewa.

Kita khawatir, setelah perhelatan internasional yang dihadiri ribuan delegasi dari mancanegara itu usai, usai pula keseriusan menanam pohon di Tanah Air. Kita pun kembali disibukkan dengan pembalakan liar, hutan gundul, banjir, tanah longsor, dan udara panas. Hutan bukan hanya urusan dan tanggung jawab Departemen Kehutanan.

Last modified: 1/12/07

No comments: