12 December 2007

[sobat-hutan] Sombolinggi, Pejuang Penghijauan dari Tana Toraja

 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, December 13, 2007 8:16 AM
Subject: [i-s] Kompas - Sombolinggi, Pejuang Penghijauan dari Tana Toraja

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/13/Sosok/4078067.htm

Kamis, 13 Desember 2007

Sombolinggi, Pejuang Penghijauan dari Tana Toraja

Reny Sri Ayu Taslim

Jauh sebelum orang-orang ribut membicarakan pemanasan global, Lasso
Sombolinggi (71) sudah gelisah melihat hutan dan ekosistem rusak oleh
perambahan serta banyaknya lahan tidur dan telantar di Tana Toraja,
daerah kelahirannya.

Kegelisahan Sombolinggi membangkitkan tekadnya untuk melakukan
penghijauan. Tak pernah berputus asa kendati upayanya menghijaukan
hutan/lahan tidur dan memberdayakan masyarakat di wilayah itu pernah
membuatnya dia dituding sebagai antek Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tahun 1982, sesaat setelah membentuk LSM Tengko Situru, Sombolinggi
mengajak masyarakat sekitar untuk ikut membibitkan dan menanam beragam
tanaman hutan jenis lokal yang banyak tumbuh di wilayah itu. Warga
diajaknya mengolah tanah telantar, lahan, dan kebun "tidur" menjadi hutan.

Tak puas dengan menghutankan lahan tidur dan tanah telantar,
Sombolinggi kemudian memikirkan konsep penghijauan plus. "Bagi saya,
penghijauan hutan dan penanaman lahan tidur tidak sekadar soal menjaga
ekosistem, tetapi bagaimana agar masyarakat juga bisa mendapat
penghasilan dan lebih sejahtera dari situ. Saat itu saya melihat
penanaman tanaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang
di satu lokasi adalah model yang ideal," kata bapak delapan anak ini.

Konsep yang belakangan disebut dengan istilah agro-forestry ini mulai
diperkenalkan dan dilaksanakan di Tana Toraja tahun 1987, dimulai di
Lembang (desa) Madandan, Kecamatan Rantelayo, Tana Toraja, pada areal
seluas 150 hektar. Saat itu LSM Tengko Situru dijadikannya yayasan
yang kemudian melahirkan Wahana Lingkungan Persada (Walda).

Melalui Walda, Sombolinggi membuat jaringan dengan aktivis lingkungan
di Jakarta dan meminta bantuan pendonor di luar negeri untuk mendukung
upayanya. Bersama teman-teman aktivis dan pendonor ini pula lahir
konsep pelaksanaan agro-forestry di Tana Toraja. Ini setelah melalui
serangkaian diskusi, lokakarya, dan pengumpulan data untuk mencari
tahu model apa yang cocok untuk penghijauan sekaligus menyejahterakan
masyarakat.

Berhasil di Rantelayo, penghijauan model agro-forestry ini kemudian
dilakukan di wilayah lain di Tana Toraja. Tak cuma agro-forestry, di
beberapa daerah yang potensial untuk peternakan konsepnya diubah
menjadi agro- silvo pastoral, penggabungan penghijauan, pertanian, dan
peternakan. Konsep ini pun jalan dan berkesinambungan dari satu
wilayah ke wilayah lain.

Di Tana Toraja, apa yang dilakukan Sombolinggi adalah hal yang amat
sulit mengingat secara turun-temurun tanah yang amat bernilai dan
menjadi fokus perhatian masyarakat adalah sawah. Begitu berharganya
lahan sawah, kata Sombolinggi, di masyarakat kerap terjadi konflik
memperebutkan lahan sawah yang tidak seberapa. Bahkan, warga lebih
mencurahkan perhatian, tenaga, dan hidupnya untuk mengurusi sepetak
kecil sawah ketimbang mengurusi lahan kebun, betapa pun luasnya.

"Pikiran saya waktu itu bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dari
sekadar sawah ke kebun. Saat itu banyak masyarakat yang miskin,
sementara saya melihat ada potensi yang bisa menyejahterakan mereka,
yakni lahan-lahan kebun yang ditelantarkan. Harapan saya, setelah
kebun secara bertahap mereka juga melihat hutan," kata suami Den Upa
Rombelayuk, salah seorang aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, ini.

Dituding antek PKI

Begitu kuatnya budaya sawah pada masyarakat setempat, upaya
Sombolinggi memperkenalkan kebun dan hutan berbuntut kecurigaan
masyarakat dan juga pemerintah. Mulai dari tudingan ingin merampas
tanah masyarakat hingga yang paling parah pemerintah dan masyarakat
mencurigainya sebagai antek PKI. Terlebih saat itu, melalui bantuan
lembaga donor di luar negeri, Sombolinggi membagi- bagikan bibit
kepada masyarakat.

Karena itu, banyak warga yang tak mau terlibat, terutama kaum lelaki.
Namun, Sombolinggi tak putus asa, bahkan ia terus melakukan pendekatan
dengan pemerintah dan masyarakat.

"Terus terang, saat itu yang paling banyak membantu dan terlibat
justru kaum perempuan karena laki-lakinya banyak yang memilih urusan
lain, bahkan pergi berjudi sabung ayam. Kepada perempuan ini saya
ajarkan berkebun, mulai dari sekitar rumah hingga ke lahan kebun
mereka. Sembari berkebun, mereka juga saya ajak menanam tanaman
seperti yang ada di hutan," katanya.

Pendekatan yang susah payah ini berbuah ketika masyarakat mulai mau
menggarap kebun dan lahan telantar. Dua tahun pertama, upaya ini
nyaris gagal dan warga mulai putus asa ketika hasil tanaman jangka
menengah belum menghasilkan apa-apa. Namun, Sombolinggi terus memberi
semangat kepada masyarakat. Beruntung tanaman jangka pendek, seperti
kacang- kacangan, sayuran, dan umbi- umbian, bisa panen beberapa kali
dalam setahun hingga ada hasil yang bisa dipetik. Saat tanaman jangka
menengah seperti kakao, kopi, dan lainnya mulai bisa dipanen, semangat
masyarakat mulai tumbuh.

"Saat itulah mereka percaya apa yang saya katakan dan perlahan mulai
membagi perhatian antara sawah dan kebun. Tanaman jangka panjang pun
mulai mereka garap," kata Sombolinggi, yang sempat kuliah di Fakultas
Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Berhasil dengan tanaman padi, perlahan-lahan lelaki yang masih segar
pada usianya yang 71 tahun ini mulai mendekati perambah hutan. Para
perambah hutan diajak berkebun di sekitar hutan. Tidak mudah memang
mengingat perambah hutan ini juga banyak dibekingi oleh oknum yang
cukup berpengaruh.

"Yang membuat saya sedih, saat perambah perlahan-lahan mulai berkebun
di sekitar hutan, mereka kerap diiming-imingi uang untuk menebang
pohon di hutan. Yang menjengkelkan, bila aktivitas ini melapor kepada
yang berwajib, mereka tak mencari pelaku atau siapa yang berada di
belakang perambah hutan. Saat kayu sudah ditebang dan keluar hutan,
aparat baru bersikap. Tapi yang ditahan kayunya saja, pelakunya
tidak," katanya. Namun, Sombolinggi tak putus harapan dan terus berupaya.

Reboisasi dan penghijauan

Aktivitas dan perjuangan Sombolinggi melakukan penghijauan bermula
tahun 1982 saat pemerintah melakukan program penghijauan dan reboisasi
di Tana Toraja. Sejak awal dia melihat program ini dilakukan sekadar
menjalankan proyek yang sudah dijadwalkan dan tersusun, tanpa
sosialisasi dan diskusi dengan masyarakat.

"Masyarakat yang dilibatkan dalam proyek ini tidak mengerti apa
sasaran program tersebut. Ketidakmengertian mereka menimbulkan
kegelisahan dan kekhawatiran lahan yang ditanami mereka nantinya akan
diambil pemerintah. Sementara dari pihak pemerintah Orde Baru, warga
yang tidak setuju program ini disebut penentang pembangunan," ujar
Sombolinggi.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu, Sombolinggi turun
tangan melalui LSM Tengko Situru. Bersama teman- temannya, dia
melakukan pendampingan pada masyarakat, khususnya petani, dan berupaya
menjadi penengah antara pemerintah dan masyarakat. Dia minta kepada
warga untuk membibitkan semua jenis tanaman yang ada di hutan sekitar
desa. Ditekankan pula, program penghijauan tak akan membuat warga
kehilangan tanahnya.

Untuk lebih memperkuat posisinya dalam beraktivitas, Sombolinggi
kemudian memberanikan diri mengikuti pemilihan kepala desa secara
langsung, dan dia terpilih secara mutlak. Baginya, dengan menjadi
kepala desa ada titik masuk agar bisa lebih diterima masyarakat,
sekaligus dekat dengan pemerintah.

Perjuangan Sombolinggi kini boleh dikatakan berhasil. Namun, dia tetap
merendah. "Bagi saya, sebuah program disebut berhasil bila sudah
berlangsung secara berkesinambungan dan masyarakat sudah sampai pada
tahapan melakukannya secara sadar dan menjadikannya kebutuhan, bukan
lagi karena disuruh. Itu bukan hanya saya, melainkan lebih karena
peran masyarakat sendiri."


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.1/1181 - Release Date: 11/12/2007 17:05

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Fashion News

What's the word on

fashion and style?

Parenting Groups

on Yahoo! Groups

Single Parenting

to managing twins.

Wellness Spot

Embrace Change

Break the Yo-Yo

weight loss cycle.

.

__,_._,___

No comments: