03 December 2007

Menyelamatkan "Perahu" Bocor

RIAU POS
Menyelamatkan "Perahu" Bocor
PDF Print E-mail
03 Desember 2007 Pukul 08:37
(Tragedi Pemanasan Global)
Hari ini konfrensi internasional terkait perubahan iklim dimulai di Nusa Dua Bali. Ada harapan dan juga pesimisme. Harapan karena langkah baik dimulai. Pesimisme karena pembabatan hutan masih terjadi tak terkecuali di Riau.

Hari ini setahun yang lalu di suatu siang yang terik di Desa Dosan Kecamatan Siak Pusako Kabupaten Siak Riau. Ratusan warga desa unjuk rasa menuntut janji sebuah perusahaan sawit yang telah membabat hutan tempat mereka mencari nafkah.

Unjuk rasa berakhir ricuh. Warga kocar-kacir lari hingga masuk parit, hutan dan tempat-tempat lain saat anjing pelacak digunakan membubarkan mereka. Dahlan (55) warga setempat yang memimpin demo itu tak luput dari luka-luka akibat menyelamatkan diri dari serangan hewan terlatih itu.

"Hari itu takkan terlupakan oleh saya," ujarnya kepada saya dalam sebuah kesempatan wawancara di Kuala Lumpur Malaysia. Lelaki paroh baya dengan mata cekung dan tulang pipi menonjol itu datang bersama Sawit Watch mewakili petani Riau di arena konfrensi internasional Rountable On Sustainable Palm Oil (RSPO) ke-5 di Kuala Lumpur Malaysia. Kini, lanjutnya, dari 11 ribu hektare lahan di desanya 6 ribu hektar sudah milik industri besar.

Logika Perut
Cerita hutan berganti sawit di Riau sudah klasik. Juga derita warga yang kebetulan masuk dalam kaplingan HGU itu. Aktivis Sawit Watch Riau, Ahmad Sazali mencatat bahwa laju kerusakan hutan di Riau baik karena pembalakan maupun konversi lahan mencapai 4,5 juta hektare dari 1980 hingga 2000 awal. Bahkan kawasan hutan lindung seperti Taman Bukit Tigapuluh di Inhu pun tak lagi terlindungi.

Pembabatan hutan (deforestasi) berlangsung terus. Pemerintah dan industri punya logika sendiri. Ahmad Sazali menyebutnya 'logikan perut'. Begini bunyi logika itu: jika yang hidup dari hutan hanya segelintir orang rimba, orang sakai, orang petani biasa maka mengapa tidak diubah jadi kebun sawit yang bisa menghidupi ribuan orang.

Sepintas logika itu terlihat benar. Apalagi dilihat dari kacamata ekonomi. Namun sadarkah mereka harga yang harus dibayar untuk keuntungan sesaat itu? Prof Dr Bambang Heru dari Fakultas Kehutanan IPB menyebutkan bahwa deforestasi, degradasi lahan gambut dan kebakaran hutan telah menempatkan Indonesia pada posisi ke tiga sebagai negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di dunia yakni mencapai 3,014 Gt CO2.

Total emisi yang menghasilkan efek GRK dari deforestasi dan kebakaran lahan, lanjutnya, ternyata lima kali lipat kontribusi GRK nya dibanding dari sektor lainnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa emisi yang dihasilkan akibat perubahaan tata guna lahan (konversi) dan kerusakan hutan diperkirakan oleh Intergovernmental Panel and Climate Change (IPCC) sebuah lembaga internasional dengan anggota lebih dari 100 negara di seluruh dunia mencatat telah mencapai 2,563 Gt.

Emisi karbondioksida paling besar disumbangkan oleh deforestasi 75 persen, konversi lahan 23 persen, kebakaran hutan 57 persen dan penggunaan energi di sektor kehutanan 2 persen. Pada musim kebakaran tahunan hutan dan lahan sekitar 1400 Gt karbon rata-rata dilepaskan ke udara. Akibatnya GRK meningkat dan membuat tingkat pemanasan global (global warming) terus bertambah.

Dampak "Global Warming"
Jika efek GRK tak terkendali, lanjutnya, maka bayangkanlah situasi yang tak lama lagi terjadi. Suhu permukaan bumi meningkat membuat terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim. Hutan yang tinggal sedikit kehilangan kemampuan menyerap karbondioksida.

Meningkatnya suhu dipermukaan bumi menghidupkan kembali penyakit endemik lama dan baru yang merata seperti leptospriosis, demam berdarah, diare, malaria dan lainnya. Ini bukan ancaman besok atau lusa tetapi sudah terjadi. Daerah-daerah yang terkenal dingin entah itu di Sumatera dan Jawa kini tidak dingin lagi.

Meningkatnya tinggi ombak di pantai Asia dan Afrika telah terjadi. Apalgi ditambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan Kutub Utara. Disinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka peningkatan air laut akan mencapai 7 meter pada tahun 2012.

Bila hal ini terjadi ribuan pulau akan ditelan laut. Selain itu juga akan terjadi kelangkaan pangan luar biasa akibat perubahan iklim yang ekstrim. Maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (elnino). Ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen. Hutan-hutan yang biasanya berfungsi penahan air sebagai cadangan di musim kemarau telah punah.

Menyelamatkan "Perahu Bocor"
Jika bumi yang kita tinggali ini diibaratkan perahu, lanjut Prof Dr Bambang Heru, maka perahu itu kini telah bocor. setiap manusia di dalamnya harus berkontribusi menutup kebocoran itu. Jika tidak maka semua akan tenggelam dalam sebuah bencana yang besar.

Bagaimana caranya? "Pertama bangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga hutan kita dari kehancuran," ujarnya. Ekosistem hutan jauh berharga dari keuntungan ekonomi sesaat karena fungsinya luas sebagai daerah tangakapan air (water cathment areas), sebagai ruang hidup dan penghidupan masyarakat (live hood) di sekitar kawasan hutan hingga fungsi sosio kultural masayrakat setempat.

Kedua, moratorium (stop) pengalihfungsian hutan untuk sawitisasi karena hutan berfungsi menahan jumlah emisi karbon yang lepas ke atsmosfer. Ketiga, pertemuan dunia di Nusa Dua Bali hendaknya mencapai konsensus penegakkan keadilan iklim. Di Australia kini telah dibentuk Pengadilan Iklim yang akan mengadili para perusak/kotributor GRK. Dengan mengacu pada isi Protokol Kyoto mahkamah ini menekankan kewajiban negara-negara Utara (AS dan kawan-kawan) membayar kompensasi dari hasil pembuangan emisi karbon mereka.

Keempat, beralih ke energi alteranatif non migas (karena GRK-nya tinggi) ke energi biogas (dari kotoran ternak). Kelima, bagi pembuat dan pengambil kebijakan tolong dihentikan aktivitas pertambangan, selamatkan hutan dengan cepat sebelum semuanya terlambat.

Kita sangat berharap para pengambil kebijakan benar-benar tegas menghentikan segala macam ekspansi lahan dengan membuka hutan. Benar kita perlu perkembangan ekonomi dengan investasi. Namun ada batasnya. Bila batas itu kita langgar maka keseimbangan alam terganggu dan tunggulah azab akibat ulah tangan kita sendiri.

Kelak ketika semuanya terlambat, penderitaan tidak lagi cuma monopoli Dahlan. Kalau tidak kita hari ini maka anak cucu kita kelak akan merasakannya. Mereka akan menyumpahi keserakahan kita hari ini yang telah membuat mereka mati kelaparan dan tersiksa akibat rusaknya alam yang merupakan 'pinjaman' mereka kepada kita hari ini. .***

Helfizon Assyafei SE,
wartawan Riau Pos

__._,_.___

No comments: