04 December 2007

Greenpeace luncurkan usulan penting untuk menekan deforestasi



Nusa Dua, Bali, Indonesia ­ 4 Desember 2007 -- Greenpeace hari ini
meluncurkan suatu proposal penting untuk mengurangi dan menghentikan pembabatan hutan tropis sekaligus melindungi keanekaragaman hayati di hutan serta menghormati hak-hak penduduk asli. Usulan ini disampaikan sebagai salah satu kegiatan di luar pertemuan perubahan iklim yang tengah berlangsung di Bali, dengan menghadirkan dua Gubernur, dari Papua dan Papua Barat, tempat di mana masih terdapat hutan asli di Indonesia.

Penggundulan hutan mencapai sekitar 20 persen dari emisi gas rumah
kaca sedunia dan harus diatur dalam tahap berikut dari Protokol Kyoto.
Indonesia dan Brasil merupakan penghasil emisi terbesar ketiga dan
keempat terbesar di dunia yang sebagian besar diakibatkan oleh
pembabatan hutan. Untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya,
pembabatan hutan harus dihentikan di seluruh dunia dalam sepuluh tahun
ke depan.

Greenpeace ingin agar deforestasi dibahas dalam pertemuan di Bali ini.
Dunia punya banyak sumber untuk mengakhiri pembabatan hutan, yang
dibutuhkan saat ini adalah kemauan politik. Para Gubernur dari Papua;
dan Amazonas, negara bagian terbesar di Brasil, telah menunjukkan niat
itu, dan para pemerintah-pemerint

ah di dunia yang berkumpul di Bali
harus mengikutinya. Tanpa uang, tanpa hutan dan tanpa masa depan,
itulah yang disebutkan oleh Koordinator Kampanye Amazon, Paulo Adario.

Dalam usulan Greenpeace, ada hal penting tentang pengumpulan dana
dalam jumlah beberapa miliar dolar AS per tahun, sejumlah di antaranya
dapat digunakan dalam jangka pendek untuk membiayai langkah penting
guna menekan emisi akibat pembabatan hutan.

Gubernur Papua, Barnabas Suebu, dan Gubernur Papua Barat, Abraham
Octovianus Atururi, bulan April lalu di Bali bertekad melestarian
hutan di daerah mereka masing-masing, dan menyerukan agar masyarakat
mendukung usaha itu melalui mekanisme pendanaan karbon serta alih
teknologi demi melindungi hutan dan menyediakan pendapatan bagi
masyarakat lokal.

Penasehat politik Greenpeace Internasional Bill Hare mengatakan,
"Usulan kami menggabungkan kesempatan pasar dengan pendaaan bagi
kebijakan publik. Hal ini akan mencapai penurunan pembabatan hutan
yang sesungguhnya tanpa terjadinya deforestasi yang hanya berpindah
dari satu tempat ke tempat lainnya, dan juga menjamin bahwa masyarakat
setempat dapat menikmati hasilnya."

Catatan:
(1) Pernyataan Gubernur Aceh, Gubernur Papua dan Gubernur Papua Barat
pada Perubahan Iklim, April 2007. Penggundulan hutan tropis dan
Protokol Kyoto (Tropical Deforestation and the Kyoto Protocol) dapat
dilihat di:
http://www.greenpeace.org/international/press/reports/tropical-deforestation-and-the
Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk
mengubah sikap dan perilaku, demi melindungi dan melestarikan
lingkungan hidup dan mengusung perdamaian.

Untuk keterangan lebih anjut hubungi:
. Christoph Thies, Greenpeace International Forest campaigner
+62 813 3794 9712.

. Martin Baker, Greenpeace International Communications
+62 813 3794 9714.

. Chris Nusatya, Greenpeace Southeast Asia-Indonesia Media Campaigner
+62 812 107 8050.

. Arie Rostika Utami, Greenpeace Southeast Asia-Indonesia Media
Assistant
+62 856 885 7275

No comments: