15 November 2007

Siapkah Kita Menyelamatkan Hutan dan Iklim ?

Di tulis oleh: Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia

Mencoba untuk menghambat kerusakan hutan dan iklim memang bukan
pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesiapan fisik, mental dan berbagai
dukungan untuk memastikan upaya tersebut dapat berjalan dengan baik.
Tantangan pun sudah bisa dipastikan menjadi hal yang mau tak mau harus
dihadapi.

Dalam seminggu terakhir ini Greenpeace banyak menjumpai sejumlah
tantangan dalam melakukan kampanye penyelamatan hutan dan iklim di
wilayah Riau. Seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 November
2007, telah terjadi sebuah aksi unjuk rasa di kota Pekanbaru untuk
menolak kehadiran Greenpeace di Riau dan Indonesia. Para pengunjuk
rasa tersebut menyatakan dirinya berasal dari organisasi mahasiswa dan
LSM setempat. Mereka meminta pemerintah segera mengusir Greenpeace
dari Riau karena telah melakukan aktivitasnya tanpa ijin pemerintah
setempat.

Greenpeace juga dituduh telah menjelekkan nama baik Riau di mata
internasional sehingga akan berdampak negatif pada keberlangsungan
investasi di Riau. Banyak orang menduga aksi unjuk rasa ini terkait
dengan diselenggarakannya sebuah perhelatan akbar para investor di
Pekanbaru pada minggu yang sama, yaitu Riau Investment Summit.

Pernyataan senada ternyata juga diungkapkan oleh organisasi lokal lain
di Kabupaten Pelalawan pada tanggal 7 November 2007. Organisasi yang
menamakan dirinya Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan Bersatu
(IKPM-PB) melalui ketuanya Aman K mengingatkan kepada Pemerintah
Kabupaten Pelalawan untuk mewaspadai Greenpeace yang melakukan
penelitian lahan gambut di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Sebab,
tidak tertutup kemungkinan LSM tersebut juga akan melakukan hal sama
di Kabupaten Pelalawan.

Beberapa hari setelah unjuk rasa di Pekanbaru, juga terjadi
serangkaian kegiatan penggalangan massa dan hasutan yang disebarkan di
wilayah kota Rengat dan sejumlah desa di Kabupaten Indragiri Hulu.
Sejumlah organisasi mahasiswa dan masyarakat diajak untuk
berdemonstrasi menentang kehadiran Greenpeace di Indragiri Hulu.
Tidak cukup dengan ajakan, beberapa aktivis pecinta alam setempat
bahkan mendapatkan ancaman dan peringatan untuk tidak mendukung dan
membantu kegiatan Greenpeace. Sejumlah masyarakat Desa Kuala Cenaku
bahkan telah memberitahukan bahwa ada sejumlah orang yang menyebarkan
selebaran di jalan-jalan untuk tidak mendukung Greenpeace. Dalam
selebaran itu juga disebutkan bahwa ajakan ini berasal mereka yang
menamakan dirinya BANDAP (Barisan Anak Negeri Dambakan Perdamaian).

Kecaman dan tentangan ini pun menjadi jelas ketika pada tanggal 13
November 2007 dilakukan aksi unjuk rasa oleh BANDAP ke kantor
pemerintah setempat DPRD, kepolisian, dan kantor sementara Greenpeace
di Rengat. Rombongan demonstran BANDAP sejumlah lebih kurang 100
orang mendatangi kantor sementara kami siang itu. Mereka berorasi
menyampaikan tuntutan, meneriakkan yel-yel untuk mengusir Greenpeace,
dan akhirnya menempelkan spanduk dan atribut aksi mereka pada jendela
dan dinding kantor sementara kami. Atribut-atribut aksi tersebut
sebagian besar berbunyi penolakan akan kehadiran Greenpeace di
Indragiri Hulu. Bahkan beberapa dari atribut tersebut secara kasar
juga menghujat dengan kata-kata yang tidak sopan. Demonstrasi
berjalan cukup tertib dan lancar sampai mereka mengakhirinya 30 menit
kemudian. Di akhir kegiatan, mereka sempat memberikan ancaman agar
spanduk dan atribut aksi yang telah dipasang tidak dicopot atau
diturunkan. Bila diturunkan maka Greenpeace akan dapat perlawanan
dari seluruh masyarakat Indragiri Hulu.

Ternyata, tantangan dalam bentuk pernyataan di media lokal dan aksi
unjuk rasa tersebut masih belum cukup kami terima. Malam hari setelah
kedatangan para pengunjuk rasa dari BANDAP, kami kembali didatangi
oleh mereka. Kali ini mereka datang dengan kemarahan dan mengeluarkan
kata-kata yang kasar. Beberapa dari mereka bahkan memaksa masuk ke
dalam kantor. Mereka kesal karena kami telah menurunkan spanduk besar
yang telah mereka pasang melintang di teras kantor kami. Keadaan
menjadi panas dan menegangkan karena ancaman bertubi-tubi yang mereka
lontarkan kepada kami, pengacara kami (kebetulan berada di kantor),
serta teman-teman kami yang sedang berkunjung. Beruntunglah, akhirnya
ketegangan ini agak mereda setelah mereka meninggalkan kantor kami
tanpa adanya kekerasan fisik dan kerusakan barang-barang kami.

Kini kami sedang berada pada situasi waspada penuh.
Tantangan-tantangan ini menjadi semakin tampak jelas bernuansa
politis. Para penentang pada umumnya berupaya menggiring opini bahwa
Greenpeace adalah organisasi asing yang ingin menjajah Indonesia.
Greenpeace pun berusaha untuk menjelekkan bangsa Indonesia.
Greenpeace bukanlah penyelamat hutan dan lingkungan. Walaupun cukup
banyak pula orang yang mulai paham bahwa Greenpeace tak punya
kepentingan apa pun kecuali menyelamatkan sisa hutan rawa gambut yang
sedang terancam oleh ekspansi industri kelapa sawit di Indonesia.

Pertanyaannya kemudian adalah: Siapkah Greenpeace dan setiap orang
yang ingin memastikan keselamatan hutan dan iklim dalam menghadapi
tantangan ini?

www.greenpeace.or.id
info@id.greenpeace.or.id

No comments: