14 November 2007

[sobat-hutan] Mari Bicara REDD

 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, November 15, 2007 8:07 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Mari Bicara REDD

Oleh M Riza Damanik
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/15/humaniora/3991653.htm
=====================

Perkara penyelamatan Bumi dari pemanasan global menjadi rumit karena
ternyata skema mekanisme pembangunan bersih tidak secara spesifik
bicara soal reduksi karbon dari sektor kehutanan dan sampai hari ini
tidak mampu diaplikasikan di sektor kehutanan. Padahal, hutan masih
menjadi andalan utama untuk menyerap karbon—dalam hal ini karbon
dioksida (CO>sub<2>res<>res<>wn<)>res<.

Maka, muncul tawaran mekanisme baru, yaitu REDD (reducing smissions
from deforestation and degradation), yang diharap mampu menjembatani
mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism-CDM) dengan
penanganan kerusakan hutan (deforestasi). Program REDD sendiri
menawarkan kewajiban membayar negara-negara Utara kepada negara-negara
Selatan guna mengurangi penggundulan hutannya, dan atau negara-negara
Selatan juga dapat menjual kemampuan serap karbon yang dimiliki
hutannya kepada Utara. Dengan skema tersebut, diharapkan kontribusi
emisi dari deforestasi (khususnya pada hutan hujan tropis) yang
mencapai 20 persen dari total emisi karbon di atmosfer dapat dikurangi.

Dalam catatan penulis, setidaknya terdapat tiga gugatan terhadap REDD
yang perlu dicermati, paling khusus bagi Pemerintah Indonesia yang
tertarik memanfaatkan skema ini. Pertama, REDD secara nyata telah
menyimplifikasi fungsi ekosistem hutan, yakni hanya sebagai penyerap
karbon dioksida (carbon sinks).

Padahal, ekosistem hutan memiliki fungsi yang lebih luas, mulai dari
sebagai daerah tangkapan air (water catchment areas), sebagai ruang
hidup dan penghidupan masyarakat (livelihood) di sekitar kawasan
hutan, hingga fungsi sosio-kultural yang tak mungkin bisa dipisahkan
dari sendi-sendi kehidupan masyarakat setempat. Mengabaikan fungsi
hutan secara luas tentu akan merugikan negara-negara pemilik hutan,
baik dalam konteks ekonomi, sosial, maupun politik.

Kedua, mekanisme REDD pada prinsipnya menawarkan kepada negara-negara
yang memiliki hutan (termasuk Indonesia) untuk menjaga dan bahkan
mengunci kawasan hutannya dengan imbalan berupa "dana santunan".
Tawaran ini dengan sendirinya akan membatasi akses dan partisipasi
masyarakat lokal terhadap hutan, setelah hutan berubah menjadi global
common goods.

Ketiga, REDD pun akan mengaburkan (menyulitkan) proses penegakan hukum
terhadap kasus-kasus kejahatan kehutanan, mengingat kesanggupan mereka
(penjahat kehutanan) memenuhi kewajiban untuk membayar (willingness to
pay) sesuai dengan skema REDD. Dengan begini, posisi Departemen
Kehutanan pun akan dilematis dan kontraproduktif dengan usaha nasional
dan internasional dalam antisipasi perubahan iklim.

Moratorium

Menyinggung sekurang-kurangnya ketiga gugatan di atas, dapat
dipastikan REDD tidak akan pernah menjadi mekanisme efektif dalam
memerangi emisi karbon di atmosfer. Bahkan, keyakinan meningkatnya
jumlah emisi karbon di atmosfer justru semakin kuat, mengingat REDD
tidak secara gamblang berkeinginan menghentikan seluruh kegiatan yang
secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap
pemusnahan hutan itu sendiri.

Keprihatinan REDD justru lebih condong pada melanggengkan industri
kehutanan agar tetap eksis memanfaatkan kayu melalui mekanisme
insentif yang ditawarkan.

Dalam kasus Indonesia, dengan kenyataan 70 persen hutan alam telah
musnah, sepatutnya kebijakan moratorium logging (jeda tebang) jadi
pilihan untuk menurunkan laju deforestasi yang saat ini mencapai
kisaran 2,7 juta hektar per tahunnya.

Sewajarnya kebijakan moratorium menjadi inisiatif progresif Pemerintah
Indonesia daripada harus menempatkan 220 juta warga negara Indonesia
sebagai "satpam (baca: penjaga) hutan" dengan menerima upah dari
pelaku perusak hutan dan lingkungan seperti yang ditawarkan REDD.

M RIZA DAMANIK Anggota Tim Teknis Program Perubahan Iklim Eksekutif
Nasional Walhi


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.31/1129 - Release Date: 13/11/2007 21:22

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Get it all here

Breaking news to

entertainment news

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Cat Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about cats.

.

__,_._,___

No comments: