05 November 2007

[sobat-hutan] Jaga ''Mangrove'' untuk Kemakmuran Rakyat + Stop Perambahan Hutan Bakau

 
Jaga ''Mangrove'' untuk Kemakmuran Rakyat

RENCANA perluasan Bandara Ngurah Rai yang akan kembali membabat hutan bakau (mangrove) dalam beberapa hari terakhir ini mengundang keprihatinan masyarakat. Luas hutan bakau Suwung (dulu disebut hutan Prapat Benoa RTK-10, kini Tahura) terus menyusut. Kalau sebelunmya tercatat sekitar 1931,50 ha, tidak lebih dari 1,52% dari luas hutan, kini menyusut 30-50 persen. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Jika ini tetap dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan hutan bakau akan punah.

Sebagai penyangga kehidupan, hutan mangrove tidak dapat dimungkiri memiliki peran dan fungsi ekologis yang sangat penting. Kontribusi hutan mangrove tergambar dari fungsinya itu sendiri, seperti penghalang terhadap erosi pantai dan gempuran ombak, pengolahan limbah organik, tempat mencari makan, memijah dan bertelurnya berbagai biota laut seperti ikan dan udang. Selain itu sebagai habitat berbagai jenis margasatwa, penghasil kayu dan nonkayu serta potensi ecotourism.

Awal kehancuran hutan mangrove ini dimulai dari usaha pertambakan sekitar tahun 1988. Pada saat itu, harga udang memang sedang menggiurkan sehingga penduduk berlomba-lomba mengubah hutan mangrove menjadi tambak udang. Kerusakan kemudian bertambah parah ketika dibangun pusat perbelanjaan megah di Simpang-siur Kuta. Pembabatan hutan bakau hingga kini masih terus terjadi. Maklum, letak hutan bakau tersebut sangat strategis. Ironisnya, justru pemerintah mengeluarkan banyak IMB (izin mendirikan bangunan) di kawasan hutan bakau ini.

Tanpa ada usaha untuk menolak konversi hutan bakau -- baik untuk perluasan bandara maupun kegiatan lainnya -- penyerobotan dan alih fungsi hutan bakau akan terus berlanjut. Hancurnya hutan bakau di kawasan Suwung, Denpasar Selatan ini merupakan potret suram pengelolaan anugerah Tuhan. Pemerintah tidak bisa menjaganya, bahkan ada dugaan terjadi penyimpangan sehingga hutan bakau bukannya bertambah, tetapi sebaliknya, kian menyusut. Ini mencerminkan betapa buruknya kita sebagai bangsa dalam mengelola sumber daya alam.

Keteledoran pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup selama ini sudah saatnya dihentikan. Apalagi Indonesia telah sepakat untuk menerapkan ''pembangunan berkelanjutan''. Sebagai bagian dari masyarakat global, maka bangsa Indonesia pun tidak terlepas dari kewajiban untuk turut menerapkannya.

Banyak sekali dampak yang ditimbulkan oleh pembabatan hutan ini. Di antaranya intrusi air laut yang sangat tinggi ke daratan. Sekarang ini saja intrusi air laut sudah hampir mencapai satu kilometer ke arah daratan dari pesisir. Mungkin kalau pembabatan terus dilakukan, dikhawatirkan dapat mencapai empat atau lima kilometer dari pesisir. Ini sangat memprihatinkan.

Hadirnya para pemimpin dunia di Bali untuk membahas perubahan iklim dan pemanasan global Desember 2007 mendatang hendaknya dapat menguatkan tekad masyarakat dan pemerintah untuk menolak segala bentuk konversi hutan. Rangkaian kerusakan hutan bakau hendaknya dijadikan pengalaman buruk yang tak perlu terulang lagi. Pemerintah harus sesegera mungkin melakukan perubahan paradigma pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Ekonomi sebagai panglima pembangunan sudah saatnya direvisi. Pembangunan ke depan haruslah mempertimbangkan sumber daya alam dan lingkungan hidup sebagai kerangka pembatas. Dengan kata lain, pembangunan tidak boleh dilakukan melampaui daya dukung alam.

Dengan mengetahui besaran dampak-dampak negatif yang timbul, pemerintah semestinya menjadi lebih sadar untuk memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan lebih bertanggung jawab. Memang Tanah Air kita dikaruniai sumber daya alam yang banyak, tetapi kalau sumber daya alam itu tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kita akan tetap melarat.

Untuk menyelamatkan hutan bakau ini, selain dilakukan penanaman kembali (reboisasi), yang tak kalah pentingnya penegakan hukum. Pemerintah Propinsi Bali harus memiliki perda hutan mangrove.

++++

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/5/op2.htm

Begitu banyak manfaat yang dapat diberikan hutan bakau kepada kehidupan manusia sehingga perlu disikapi secara bijaksana dan upaya kongkret untuk mencegah setiap kegiatan yang berdampak negatif terhadap ekosistem hutan bakau. Mempertahankan keberadaan dan mencegah serta menanggulangi berbagai intervensi yang berakibat mengurangi luas areal dan fungsi ekosistem alami, memerlukan pendekatan-pendekatan teoretis dan teknis operasional dengan pengkajian yang logis, lugas, tegas serta bertanggung jawab menyangkut biologis, teknis nonteknis secara bersamaan.

---------------

Stop Perambahan Hutan Bakau

 Oleh A.A. Ngrh. Made Arwata, MSP

MENGACU kepada realitas di lapangan, banyak orang awam dalam konteks fungsi ekosistem dan kehidupan memandang rendah makna dan manfaat/kegunaan kawasan hutan bakau (mangrove). Terkait rencana induk (master plan) pengembangan Bandara Ngurah Rai yang di dalamnya antara lain rencana perpanjangan landasan pacu (runway) sekitar 600 meter ke arah timur, menarik sebagai perhatian kita bersama. Proyek pengembangan yang diperkirakan menelan biaya Rp 200 milyar ini untuk mengantisipasi lonjakan penumpang ke Bali sampai tahun 2025 yang diproyeksikan mencapai 23 juta orang. Dijadwalkan, proyek ini paling lambat sudah dimulai sejak dua tahun lagi, selanjutnya mulai dioperasikan sekitar tahun 2012. Pertanyaannya, apakah perpanjangan landasan pacu ini sudah mempertimbangkan aspek ekologis, mengingat di kawasan tersebut terdapat hutan bakau?

---------------------------

Bagi mereka yang berpola pikir ekonomis, rasional, praktis, sesaat cenderung berpendapat bahwa mengurus hutan bakau hanya akan menguras dana pembangunan dan menciptakan masalah-masalah baru yang menuntut pengorbanan dan energi tanpa penyelesaian. Keluasan, posisi, sebaran hutan bakau memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk ditangani berdasarkan ketentuan dan aturan-aturan yang berlaku.

Posisi sebaran yang tidak proporsional terukur, tingkat kerusakan yang sudah cukup tinggi (35%) dan telanjur sudah dimanfaatkan untuk fungsi yang tidak tepat, menimbulkan masalah baru dalam penantaan kembali ke fungsi semula adalah mustahil dan sia-sia. Dalam proses perkembangan, terlebih dengan lemahnya fungsi dan tidak konsistennya tindakan atas pelanggaran, perambahan terhadap hutan bakau menjadi tak terkendali dan terus berlangsung tanpa kendali.

Di sisi lain, sampai saat ini tidak adanya ketegasan dan keseriusan kebijakan publik atas berbagai fungsi yang telah ditindihkan di atas fungsi pokok hutan bakau sebagai kawasan hutan lindung pesisir (mencegah abarasi dan ekstrasi). Ini mengakibatkan semakin tidak jelasnya keberadaan status kawasan-kawasan hutan bakau yang ada. Terbukti dari tidak adanya data yang akurat menyangkut hutan bakau, baik luas, jenis tanaman, dan batas-batas hutan yang jelas dan pasti. Kurangnya kepedulian terhadap keberadaan hutan bakau seperti ini, apa pun alasannya, tidak boleh terjadi.

Hutan bakau sebagai salah satu dari tipe formasi hutan, adalah komunitas hutan tersendiri yang merupakan tumbuhan utama intertidal tropic, dan terdiri atas banyak flora dan fauna yang hidup di area sub tropic pesisir pantai. Dengan demikian dapat dipahami keberadaannya yang khas dan tempat tumbuhnya terbatas sehingga perlu diamankan dari berbagai bentuk intervensi.

Mengingat luas hutan bakau di pesisir dan perairan pantai di Bali relatif kecil (1931,50 ha), tidak lebih dari 1,52% dari luas hutan di Bali dan memiliki kekhasan dalam tampilan yang dengan kearifan, keahlian dan keterampilan khusus dapat digali nilai-nilai manfaat tanpa mengurangi fungsi pokok maupun kelestarian ekosistem alaminya. Kiranya tindakan-tindakan dalam bentuk kegiatan ekonomi maupun pergerakan manusia dan barang yang berdampak negatif terhadap keberadaan hutan bakau dapat dieliminasi.

Hutan bakau dengan keragaman hayatinya juga menyimpan khazanah ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna yang memiliki makna bagi kebutuhan hidup manusia dalam berbagai aspeknya.

Lingkungan Payau

Hutan bakau memiliki kestabilan dan pertumbuhan daerah pesisir pantai, menyediakan lingkungan terbaik bagi agriculture di air payau, memberikan area pertumbuhan bagi udang dan ikan yang bermigrasi ke area bakau dari laut ketika berupa benih/nener/muda dan kembali ke laut ketika mendekati kematangan. Bakau juga merupakan area pertumbuhan bagi udang karang dan ikan yang berproduksi di hulu sungai (freshwater upstream) dan bermigrasi ke air payau pada masa mudanya untuk mencari makan. Begitu banyak manfaat yang dapat diberikan hutan bakau kepada kehidupan manusia sehingga perlu disikapi secara bijaksana dan upaya kongkret untuk mencegah setiap kegiatan yang berdampak negatif terhadap ekosistem hutan bakau.

Mempertahankan keberadaan dan mencegah serta menanggulangi berbagai intervensi yang berakibat mengurangi luas areal dan fungsi ekosistem alami, memerlukan pendekatan-pendekatan teoretis dan teknis operasional dengan pengkajian yang logis, lugas, tegas serta bertanggung jawab menyangkut biologis, teknis nonteknis secara bersamaan.

Pertama, pendekatan biologis berusaha menciptakan kombinasi yang tepat tentang jenis tanaman, komposisi dan proporsi yang bersesuaian dengan kondisi objektif ruang dan keluasan, aspek pendukung mikro dan makro iklim jarak dan garis pantai yang mampu mengharmoniskan kehidupan jasad renik dalam konteks agrikultur.

Kedua, pendekatan teknis; melakukan pengukuran kembali keluasan, tingkat salinasi air, struktur medan/area, pemasangan patok yang definitif, perbaikan saluran air, pembuatan tanggul dan sarana penguraian arus dan gelombang yang bersifat alami, pencegahan intervensi sampah domestik dan limbah.

Ketiga, pendekatan nonteknis menyangkut peraturan yang berkonotasi aspek-aspek dampak lingkungan (padat, cair, udara, suara), izin mendirikan bangunan, kegiatan ekonomi produktif yang berdampak negatif. Memotivasi, membangkitkan kecintaan terhadap bakau dengan mengeliminasi kesan negatif keberadaan hutan bakau sebagai tempat sampah atau kesan kotor lainnya, menghentikan konservasi hutan bakau untuk kepentingan di luar pemantapan ekosistem bakau dan membangun kesadaran untuk mengarahkan lahan-lahan yang sudah dikonversi untuk mendukung pelestarian bakau.

Implementasi pendekatan termaksud membutuhkan strategi yang mengarah kepada pengelolaan hutan partisipatif komprehensif dalam bentuk pemanfaatan, pemeliharaan, panataan, monitoring evaluasi, pengendalian dan rehabilitasi yang terbagi dalam tugas pokok dan fungsi dari para pihak (stakeholder).

Tahun ini, konferensi dunia tentang perubahan iklim akan diadakan di Bali. Mari kita jadikan momentum bersejarah tersebut dengan memulai pelestarian hutan bakau.

Penulis, pengamat lingkungan, planolog

-------------

* Sampai saat ini tidak ada ketegasan dan keseriusan kebijakan publik atas berbagai fungsi hutan bakau sebagai kawasan hutan lindung pesisir.

* Kegiatan ekonomi maupun pergerakan manusia dan barang yang berdampak negatif terhadap keberadaan hutan bakau dapat dieliminasi.

* Hutan bakau dengan keragaman hayatinya menyimpan khazanah ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna yang memiliki makna bagi kebutuhan hidup manusia dalam berbagai aspeknya.

 

 

__._,_.___
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Free airline tickets

Win a free trip

home for the

holidays from Yahoo!

.

__,_._,___

No comments: