14 November 2007

[sobat-hutan] Hutan Kaya, Rakyat Miskin

 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, November 15, 2007 7:50 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Hutan Kaya, Rakyat Miskin

Oleh Eko Budihardjo
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/15/opini/3991505.htm
======================

Kisah tragikomedi vonis bebas Adelin Lis, tersangka pembalakan liar,
membuat banyak orang tersentak dan mengelus dada. Apalagi mendengar
kabar bahwa pengusaha penebang hutan yang sempat melarikan diri dan
tertangkap di Beijing itu segera dikeluarkan dari tahanan sebelum
vonis dijatuhkan pada 5 November 2007.

Hal ini mengingatkan lelucon Jawa tentang Jeksa, yang sering
dipelesetkan ajeg rekasa alias selalu sengsara. Soalnya, banyak
tuntutan jaksa yang dimentahkan hakim, dinilai tidak lengkap atau
cacat hukum. Dalam satu kumpulan anekdot tentang hakim, lama didengar
KUHP yang diartikan Kasih Uang Habis Perkara. Tentang pengacara
dikisahkan, pengacara yang andal bukan mereka yang mengenal hukum,
tetapi yang lebih mengenal hakim.

Agar terhibur, di negara maju pun beredar ledekan serupa, penuh
praduga dan prasangka tentang lawyer yang dipelesetkan menjadi "liar".
Kedua mata Dewi Keadilan digambarkan bukan tertutup kain penutup mata,
tetapi ditutup oleh plester pembalut luka.

Tentang pembalakan liar yang melibatkan gerombolan mafia kehutanan,
hasil penelitian Nancy Lee Peluso yang diterbitkan menjadi buku Rich
Forests, Poor People: Resource Control and Resistance in Java
(California University Press, Berkeley, 1992) mengungkapkan, hingga
orang Belanda datang, hutan-hutan di seluruh pelosok Pulau Jawa
terpelihara baik.

Penduduk asli dengan tekun memelihara hutan di sekitar tempat hidupnya
karena beranggapan hutan adalah sumber kehidupan, anugerah Tuhan.
Hutan merupakan lahan komunal, tak ada seorang pun yang bisa mengklaim
kawasan hutan sebagai hak milik individual.

Warga Samin keturunan Surosentiko Samin di Rembang bahkan menganggap
hutan sebagai kawasan keramat, yang harus dijaga kesuciannya.

Keserasian hubungan antara penduduk asli, hutan, dan Tuhan menjadi
rusak sejak ditetapkannya Hukum Agraria (Domeinverklaring) oleh
Belanda tahun 1870.

Dalam undang-undang buatan penjajah itu disebutkan, seluruh lahan yang
tidak bisa dibuktikan pemilikannya secara legal formal, oleh
individual ataupun komunal, otomatis menjadi milik negara. Itulah awal
musibah yang menimpa hutan-hutan kita bersama penduduk aslinya.

Meminjam kata-kata peneliti Yale School of Forestry and Environment
Studies itu, "The Dutch changed drastically the structure of everyday
life, causing a great deal of hardship and misery for the peasant of
the forest". Kesulitan dan kesengsaraan yang menimpa rakyat pemangku
hutan itu berlangsung sampai sekarang pada era reformasi ini.

Dari Samin ke Papua

Suku-suku di Papua juga memiliki kearifan lokal serupa. Mereka
menganggap hutan sebagai sumber kehidupan. Sungai dengan ikannya,
hutan dengan tanaman (sagu)-nya adalah penyangga kelangsungan hidup
masyarakat setempat. Penduduk asli Papua bahkan memegang teguh kaidah
"hutan adalah mama". Artinya, mereka yang menebang hutan, apalagi
secara liar atau tanpa izin, sama dengan membunuh ibu mereka. Kearifan
lokal milik nenek moyang yang amat mulia itu cenderung dilupakan oleh
para elite penentu kebijakan di puncak kekuasaan.

Meski demikian, kita masih bersyukur, hutan tersisa masih cukup luas.
Lebih bersyukur lagi Time (Vol 170 No 70, Oktober 2007) memasukkan
Barnabas Suebu sebagai salah satu Heroes of the Environment. Suebu
bertekad memerangi kemiskinan dengan menjaga kelestarian hutan 31 juta
hektar di Papua. Atas pelestarian hutan itu, didapat dana besar dari
Australian Carbon Conservation Company. Dana lebih besar ketimbang
keuntungan dari penebangan hutan diperoleh dari Chicago Climate Exchange.

Mengapa kita mesti menebang pohon untuk kepentingan sesaat yang
menyengsarakan rakyat jika ada pihak-pihak yang bersedia memasok dana
bila kita bersedia menjaga dan memelihara hutan kita? Ini adalah
paradigma baru yang mudah-mudahan bisa mengubah cara pikir para
penentu kebijakan. Hutan jangan lagi dieksploitasi habis-habisan oleh
segelintir kelompok serakah, tetapi dibudidayakan secara cerdas untuk
menyejahterakan rakyat yang masih kesrakat.

Deklarasi Bernabas Suebu tentang moratorium ekspor kayu ke luar negeri
dan rekomendasinya agar tidak diberikan lagi konsesi baru untuk
perusahaan penebangan hutan merupakan langkah awal yang berani dan
menjanjikan.

Mencegah bencana dahsyat

Negeri ini sudah tertimpa aneka bencana. Namun, bencana lebih dahsyat
akan menimpa kita jika tidak lebih hati-hati dalam mengelola alam dan
lingkungan, khususnya hutan yang rusak akibat ditebang secara legal
ataupun ilegal. Di Pulau Jawa, menurut penelitian Nancy Lee Peluso,
pada tahun 1938 tercatat 10.900 hektar hutan rusak. Tahun 1950
kerusakan meningkat menjadi 400.000 hektar. Lalu, berapa juta hektar
hutan yang rusak di pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, dan Papua pada tahun 2007.

Dalam buku Great Planning Disasters (2002), Peter Hall berkisah
tentang bencana perencanaan dahsyat yang terjadi di perkotaan seperti
London, San Francisco, Paris, dan Sydney. Moral di balik cerita
bencana dahsyat yang menimpa kota-kota metropolitan itu adalah kita
sebetulnya bisa dengan bijak dan cerdas mencegah terjadinya bencana,
ketimbang memperbaiki, merehabilitasi, atau merekonstruksi sesudah
bencana terjadi.

Senyampang masih ada waktu menjelang berlangsungnya International
Conference on Climate Change di Denpasar, 3-14 Desember 2007, mengapa
kita tidak melakukan konsolidasi kekuatan untuk meyakinkan berbagai
pihak tentang pentingnya dana insentif guna pelestarian hutan tropis
guna mengatasi dampak negatif perubahan iklim? Insentif itu harus
disediakan lebih besar ketimbang keuntungan yang diperoleh dari
penebangan hutan, sehingga selain hutannya kaya, rakyat setempat ikut
kaya, Bumi pun terhindar dari bencana.

Eko Budihardjo Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (Fokkal);
Anggota Komnas Habitat


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.31/1129 - Release Date: 13/11/2007 21:22

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Kevin Sites

Get coverage of

world crises.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

Special K Challenge

on Yahoo! Groups

Find shape-up

tips and tools.

.

__,_._,___

No comments: