18 November 2007

Greenpeace Media Update - Rainbow Warrior Meninggalkan Dumai


Rainbow Warrior Meninggalkan Dumai

Dumai, Riau, Minggu 18 November 2007 - Kapal Rainbow Warrior milik
Greenpeace telah meninggalkan Dumai, pelabuhan untuk ekspor minyak
kelapa sawit terbesar di Indonesia, dan saat ini tengah berlayar
menuju Jakarta untuk menyampaikan pesan bagi para pemimpin di
Indonesia, sebelum menuju Bali dalam rangka pertemuan PBB tentang
perubahan iklim yang akan dimulai dua minggu lagi.

Sabtu kemarin, Rainbow Warrior dipaksa menyingkir oleh kapal penarik
saat memblokir kapal tanker MT Westama yang hendak keluar dari
pelabuhan Dumai.

Aksi Rainbow Warrior itu untuk membeberkan dampak buruk dari industri
kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di Indonesia, serta iklim
global.

Tindakan tanpa kekerasan Greenpeace tersebut untuk menentang ekspor
minyak kelapa sawit dan telah menjadi perhatian para petinggi di
Jakarta hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan pertemuan
terbatas dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pertanian serta
Sekretaris-Jendral Departemen Kehutanan, untuk membahas kegiatan
Rainbow Warrior dan seruan Greenpeace mengenai penerapan moratorium
atas deforestasi dan konversi lahan gambut.

Menteri Kehutanan M.S. Kaban dijadwalkan untuk bertemu dengan
Greenpeace di Jakarta hari Selasa 20 November 2007 guna membahas
masalah itu.

Konversi hutan dan lahan gambut untuk kepentingan perkebunan kelapa
sawit merupakan penyebab utama deforestasi di Indonesia. Karbon yang
terlepas karena kegiatan tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara
ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

"Kami ingin agar pemerintah Indonesia segera menerapkan moratorium
atas pengalihan hutan dan penghancuran lahan gambut demi mencegah
perubahan iklim yang berbahaya," kata juru kampanye kehutanan
Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar. "Kontribusi Indonesia
terhadap perubahan iklim yang berbahaya akan meningkat, kecuali ada
tindakan yang diambil untuk melindungi hutan dan lahan gambut."

"Temuan dalam laporan terakhir Panel Antarpemerintah PBB tentang
Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) yang
dikeluarkan Sabtu kemarin merupakan peringatan tegas bahwa seluruh
pemerintah di dunia harus mengambil langkah tegas untuk melindungi
iklim global," tambah Bustar.

"Hutan Indonesia berpotensi menjadi bagian penting dalam solusi global
untuk perubahan iklim. Namun, jika pengalihan hutan terus terjadi,
hutan-hutan di Indonesia justru akan menjadi bagian masalah perubahan
iklim. Kami menyerukan pula agar masyarakat internasional mendampingi
Indonesia dalam memastikan upaya untuk menghentikan penggundulan hutan
di negara ini."

Hari Sabtu di Valensia, Spanyol, Panel Antarpemerintah PBB tentang
Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC)
menyetujui laporan Sintesa Penilaian keempat (Fourth Assessment
Synthesis) yang merangkum beberapa hal penting dari tiga laporan
ilmiah sebelumnya tentang perubahan iklim, dampak dan langkah-langkah
mitigasi yang telah dipublikasikan. Laporan keempat ini akan menjadi
dokumen rujukan bagi para pengambil keputusan di waktu yang akan datang.

Di pertemuan perubahan iklim di Bali, Greenpeace akan menyerukan agar
ada kesepakatan untuk merundingkan mekanisme baru pembiayaan guna
mengurangi deforestasi dengan tajam. Penurunan emisi akibat
deforestasi harus melengkapi penurunan emisi dari pembakaran bahan
bakar fosil.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk
mengubah sikap dan perilaku, demi melindungi dan melestarikan
lingkungan hidup dan mengusung perdamaian.

Keterangan tambahan, hubungi:
Yang sedang berada di kapal Rainbow Warrior:
Sue Connor, Juru Kampanye Kehutanan Greenpeace International +62 8131
1765 3644
Bustar Maitar, Juru Kampanye Solusi Kehutanan Greenpeace Asia Tenggara
+62 813 446 661 35
Tiy Chung, Greenpeace communications officer +61 409 604 010
Rainbow Warrior, nomor telepon +31 653 464 289

Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia di Jakarta:
Chris Nusatya, Media Campaigner +62 21 3101873 / +62 812 107 8050
Arie Rostika Utami, Media Assistant +62 856 885 7275

No comments: