30 October 2007

[sobat-hutan] DAS Empat Sungai Besar di Kalimantan Makin Kritis

Refleksi: Hadiah istimewa kepada rakyat Dayak.
 
-----
KOMPAS
Rabu, 31 Oktober 2007
 
 

Pembabatan Hutan
DAS Empat Sungai Besar di Kalimantan Makin Kritis

Banjarmasin, Kompas - Daerah aliran sungai atau DAS pada empat sungai besar di Kalimantan kini membutuhkan penanganan prioritas utama untuk direhabilitasi karena kondisi lahannya sudah kritis. Ini terjadi akibat sebagian DAS itu sudah tidak berhutan lagi karena mengalami deforestasi hebat lebih dari 30 tahun terakhir.

Keempat DAS di Kalimantan yang kritis itu adalah Sungai Barito sepanjang 1.160 kilometer, Kahayan (993,1 km), Mahakam (1.963 km), dan Sungai Kapuas (1.808,2 km).

Selain kerusakan ekosistem akibat hutannya terus dibabat, kondisi sebagian sungai dan anak-anak sungainya juga rusak, terus mendangkal, bahkan di antaranya ada yang tercemar akibat penggunaan merkuri dalam kegiatan penambangan emas tanpa izin dan tercemar limbah rumah tangga.

Menurut Kepala Subbidang Pengembangan Kelembagaan dan Pengembangan DAS pada Balai Rehabilitasi Lahan dan Penghutanan Sosial pada Departemen Kehutanan Nandang Sunarya, seusai Lokakarya Pembentukan Forum DAS Barito Kalsel, Selasa (30/10) di Banjarmasin, keempat DAS di Kalimantan yang kritis itu merupakan bagian dari 60 DAS kritis di Indonesia yang menjadi prioritas direhabilitasi. Di Indonesia saat ini ada 458 DAS yang kritis, 60 DAS yang menjadi prioritas utama untuk ditangani, 222 DAS dalam prioritas kedua, dan 176 DAS prioritas ketiga.

Di Kalsel

Nandang mengatakan, dari luas hutan Indonesia 120,35 juta hektar, saat ini 30,83 juta hektar sudah tidak berhutan lagi. Dalam lima tahun terakhir (2000-2005), laju deforestasi (penghilangan hutan) 1,08 juta hektar. Sementara laju rehabilitasi lahan yang rusak itu setiap tahun hanya 500.000 hektar hingga 700.000 hektar.

Salah satu upaya, ujarnya, pemerintah kini memfasilitasi terbentuknya wadah para pihak yang peduli dengan penyelamatan DAS-DAS kritis tersebut. Wadah itu berupa pembentukan forum DAS di setiap provinsi.

Saat ini ada 13 provinsi di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi yang sudah membentuk forum ini. Sementara di Kalimantan, semuanya masih dalam persiapan.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Kalsel Rachmadi Kurdi menyatakan, ada 6 dari 12 DAS di empat kabupaten yang kondisinya sangat kritis karena sebagian besar tidak berhutan lagi dan lingkungan sungai-sungai yang buruk. "Kondisi inilah yang menyebabkan banjir berkali-kali di daerah itu," katanya.

Menurut Rachmadi, enam DAS yang sangat kritis itu adalah DAS Barito pada daerah dua sub- DAS (Riam Kiwa dan Kanan) di Kabupaten Banjar. Di Kabupaten Tanahlaut terjadi pada DAS Tabonio dengan sub-DAS (Asam- asam, Sawangan, dan Sabuhur). Selain itu juga pada DAS Kintap, yakni sub-DAS Kintan dan Kintap Kecil.

Di Kabupaten Tanahbumbu terjadi di DAS Satui pada sub- - DAS Satui Hulu dan Satui Hilir. Sedangkan di DAS Batulicin, kondisi itu terjadi pada sub-DAS Batlucin dan Sungai Dua di Kotabaru, dan di DAS Cengal pada sub-DAS Cengal Hulu dan Hilir.

"Kondisi hutan enam DAS tersebut saat ini tinggal 30 persen. Itu akibat penebangan pohon, perladangan, kebakaran hutan, dan penambangan, baik yang legal maupun ilegal," ucapnya.

Sungai-sungainya juga mengalami sedementasi tinggi sehingga daerah tersebut dalam dua tahun terakhir menjadi langganan banjir besar. Sedikitnya 201 desa pada 26 kecamatan di Kalsel mengalami banjir musiman ini.

Sedangkan empat DAS lainnya, kata Rachmadi, adalah DAS Kusan, DAS Pulaulaut, DAS Sebuku, dan DAS Manunggal, berpotensial kritis.

__._,_.___
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[sobat-hutan] Greenpeace membendung pengrusakan hutan gambut Indonesia

 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, October 30, 2007 4:07 PM
Subject: [mediacare] Release - Greenpeace membendung pengrusakan hutan gambut Indonesia


Greenpeace membendung pengrusakan hutan gambut Indonesia untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca

Kuala Cenaku, Riau/Jakarta, 29 Oktober 2007 - Para relawan Greenpeace
dan masayakat di Kuala Cenaku hari ini menghentikan pengrusakan suatu
kawasan hutan gambut di Riau yang dikuasai oleh perusahaan kelapa
sawit PT Duta Palma. Mereka membangun lima bendungan di kanal-kanal
yang digunakan untuk menyimpan kayu gelondongan dan mengeringkan lahan
gambut yang dijadikan kebun kelapa sawit komersial; yang merupakan
suatu tindakan melanggar hukum tentang perlindungan hutan, serta dapat
melepas gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Lebih dari 30 relawan akan bekerja selama seminggu bersama masyarakat
dari desa Kuala Cenaku untuk membangun bendungan itu. Bendungan
tersebut akan mencegah kawasan gambut menjadi kering dan melepas
karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca yang utama, dengan cara
membatasi alirannya (1). Bendungan itu juga akan mencegah perusahaan
kelapa sawit itu untuk membakar lahan gambut secara ilegal sebelum
penanaman bibit, yang akan memperburuk pemanasan global.

"Perusahaan-perusahaan kelapa sawit tersebut telah melanggar hukum dan
terus mengeringkan hutan-hutan gambut yang tersisa dan benar-benar
menambah rumit masalah pemanasan global," kata Hapsoro, Juru Kampanye
Hutan Greenpeace Asia Tenggara. "Greenpeace menyerukan agar pemerintah
Indonesia memberlakukan moratorium atas penghancuran hutan lahan
gambut dan memastikan implementasi efektif dari rencana aksi
penanggulangan kebakaran hutan."

PT Duta Palma dan anak-anak perusahaannya dengan leluasa melanggar
peraturan tentang pengelolaan hutan, termasuk Keppres No 32 tahun 1990
tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, termasuk sebuah Keppres, untuk
perlindungan ekosistem gambut (2), demikian hasil penyelidikan
Greenpeace dari lokasi Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp/FDC)
di desa Kuala Cenaku, Indragiri Hulu, Riau, yang berada dekat dengan
lokasi perkebunan kelapa sawit tersebut.

"Ekosistem gambut adalah habitat utama bagi berbagai jenis
keanekaragaman hayati, serta merupakan sumber daya penting bagi
masyarakat setempat di seluruh Indonesia. Pengeringan hutan gambut
melepaskan sejumlah besar CO2 dan pelepasan karbon menjadi lebih cepat
karena dibakarnya gambut," kata Profesor Suwido Limin, ahli gambut
dari Universitas Palangkaraya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Greenpeace mendirikan FDC menjelang diselenggarakannya perundingan
internasional tentang iklim yang akan berlangsung di Bali bulan
Desember mendatang, untuk menunjukkan keterkaitan deforestasi dengan
pemanasan global. Greenpeace mendesak agar penghentian deforestasi
dapat dicantumkan dalam Protokol Kyoto, selain mencakup target-target
pengurangan emisi gas rumah kaca dari penggunaan energi, yang mengikat
secara hukum dan lebih tegas.

Greenpeace percaya bahwa dampak terburuk dari perubahan iklim -seperti
perubahan cuaca yang ekstrim, krisis air dan bertambahnya kelaparan-
yang dapat membahayakan jutaan manusia adalah hal yang masih mungkin
untuk diatasi. Dibutuhkan sebuah revolusi dalam cara kita dalam
memproduksi dan menggunakan energi, serta komitmen yang teguh untuk
menghentikan deforestasi di seluruh dunia. Untuk memastikan hal
tersebut dibutuhkan lebih banyak komitmen dari pemerintah
negara-negara di dunia dalam target penurunan emisi gas rumah kaca
yang lebih besar pada putaran kedua Protokol Kyoto. Hal inilah yang
harus disetujui dalam konferensi perubahan iklim di Bali nanti.

Catatan untuk editor:
(1) Wetlands International memperkirakan bahwa 1.400 juta ton karbon
dioksida dilepaskan tiap tahun karena dibakarnya hutan gambut di Asia
Tenggara selama kurun 1997-2006, ditambah lagi dengan 600 juta ton per
tahun dari emisi akibat rusaknya lahan gambut karena dikeringkan.
(2) Keppres 32/1990 tertanggal 25 Juli 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung menyatakan, "Hutan alam yang terdapat pada tanah
gambut dengan kedalaman tiga meter atau lebih yang terletak di hulu
sungai dan rawa seharusnya dilindungi."
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 376/1998 tertanggal 8
April 1998 tentang Kriteria Penyediaan Areal Hutan Untuk Perkebunan
Budidaya Kelapa Sawit menyatakan, "Pembangunan perkebunan di lahan
gambut dengan kedalaman lebih dari dua meter tidak diijinkan."
Penelitian Greenpeace, yang dilakukan bersama ahli lahan gambut,
menunjukkan bahwa kedalaman gambut di wilayah konsesi kelapa sawit PT
Duta Palma mencapai hingga delapan meter.

Penelitian Greenpeace tentang kedalaman gambut, yang berjudul
"Peatland Survey in Duta Palma Concessions. Riau Province, Sumatra,
Indonesia", dapat dilihat di:
www.greenpeace.org/international/press/reports/palmoilexpansion


Keterangan mengenai FDC dapat dilihat di:
http://www.greenpeace.org/international/press/reports/forest-defenders-camp-briefing

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan
konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah
lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan
yang hijau dan damai.

Informasi lebih lanjut dan wawancara:
- Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara (saat ini
berada di FDC), +62 815 8571 9872 atau +62 813 784 89 700
- Chris Nusatya, Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia media campaigner,
+62 21 310 1873 / +62 812 107 050
- Sue Connor, Greenpeace International forests campaigner, +62 813
1765 3644
- Suzette Jackson, Greenpeace International communications, +62 813
1582 9513 / +64 21 614 899

Video tentang protes, gambar deforestasi dan FDC dari udara dapat
dilihat di:
http://www.greenpeace.org/international/press/video-previews

Untuk foto dan video tentang protes Greenpeace:
Arie Rostika Utami, Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia media
assistant, +62856 885 7275,arie.utami@id.greenpeace.org

Untuk klip versi MPEG2, hubungi:
video.production@int.greenpeace.org atau +31 6 5350 4721 di Amsterdam
(GMT +1)


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.12/1098 - Release Date: 29/10/2007 9:28

__._,_.___
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

.

__,_._,___

29 October 2007

[sobat-hutan] Re: [media-jabar] dibutuhkan volunteer untuk survey owa jawa

 
----- Original Message -----
Sent: Monday, October 29, 2007 1:15 PM
Subject: [media-jabar] dibutuhkan volunteer untuk survey owa jawa


Konus kerjasama dengan Departemen Kehutanan & Yayasan Owa Jawa akan mengadakan  survey Owa Jawa di sekitar priangan timur, Nopember-Desember. dibutuhkan beberapa org volunteer utk membantu kegiatan di lapangan. Diutamakan yang pnya waktu agak luang (mahasiswa tingkat akhir/skripsi) dan sedikit paham ttg metode survey dan primata. Survey dimulai oktober tgl 7-20 Nop (lapangan) sisanya membantu pembuatan laporan. Konfirmasi paling lambat tgl 3 Nopember. Para calon volunteer sebelumnya akan ada pelatihan singkat ttg metode yang akan digunakan.

 yang berminta bisa langsung menghubungi Ery 081931304083.




No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.12/1097 - Release Date: 28/10/2007 13:58

__._,_.___
Yahoo! News

Get it all here

Breaking news to

entertainment news

Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Yahoo! Groups

Join a Health

& Fitness Group

or create your own.

.

__,_._,___

28 October 2007

Re: [sobat-hutan] Re: [mediacare] Pernyataan Sikap Walhi Bali

Om Swastyastu,

Saya mendukung 'Pernyataan sikap' WALHI Bali.
Negara-negara kapitalis/industri yang menamakan
dirinya 'negara maju' memang memikirkan pemecahan
masalah hanya dengan uang saja, tanpa mau mengkoreksi
dirinya, apalagi mau mengambil langkah-langkah konkrit
untuk melindungi alam.
Masalah bahaya 'pemanasan global' (global warming)
sudah lama saya 'dharma-wacanakan' kepada sisia-sisia
saya, dan meminta agar mereka menanam pohon-pohon di
tanah-tanah yang kosong. Saya memberi contoh, Gerya
Lingga, tempat tinggal saya, kesan dari luar seperti
hutan karena penuh dengan pohon, misalnya jepun,
camplung, bambu kuning, mangga, belimbing, bahkan
sampai perdu 'kresek'. Maka walaupun di Buleleng yang
panas, Gerya saya terasa sangat sejuk.

Selamat berjuang, viva WALHI !

Om Santih, santih, santih, Om
Bhagawan Dwija
-------------------------------------------------------

--- mediacare <mediacare@cbn.net.id> wrote:

>
> ----- Original Message -----
> From: SEKA FOUNDATION
> To: mediacare@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, October 23, 2007 3:54 PM
> Subject: [mediacare] Pernyataan Sikap Walhi Bali
>
>
> Pernyataan Sikap
>
> ³Hutan Kita Bukan Toilet Karbon Negara Maju²
>
> Salam Adil dan Lestari!!!
>
> Perubahan Iklim saat ini menjadi pembicaraan yang
> serius karena merupakan
> ancaman bagi kehidupan di bumi. Perubahan iklim
> terjadi akibat naiknya suhu
> bumi yang merupakan hasil dari aktivitas manusia
> dan menjadi bukti gagalnya
> model pembangunan global yang bersandar pada
> eksploitasi dan ektraksi sumber
> daya alam secara berlebihan.Kenaikan suhu bumi
> 0,6º C saat ini menyebabkan
> banyak pihak mencari cara untuk membuat keadaan
> tidak menjadi lebih buruk
> lagi (mitigasi). Akibat konsentrasi karbon yang
> bertambah secara signifikan
> di permukaan udara (atmosfir) pasca Revolusi
> Industri, kenaikan suhu bumi
> ini tidak dapat dihindari sehingga kenaikannya
> harus dibatasi dibawah 2º C.
> Jika tidak mengambil langkah nyata ( business as
> usual) maka diperkirakan
> suhu bumi akan naik 5º C yang berakibat pada
> kekacauan iklim di semua
> belahan bumi.
>
> Walaupun telah ada Konvensi Perubahan Iklim
> (UNFCCC) maupun Protokol Kyoto,
> ternyata konsentrasi gas rumah kaca tidaklah
> berkurang secara signifikan.
> Malah banyak pakar yang menyatakan, bahwa Protokol
> Kyoto tidak berjalan
> efektif akibat Amerika Serikat dan Australia
> sebagai negara yang memiliki
> kontribusi besar dalam pelepasan karbon, tidak mau
> tunduk pada komitmen
> protokol. Kemudian negara berkembang yang harus
> menjadi korban pertama atas
> prilaku negara-negara maju tersebut, karena
> negara-negara berkembang tidak
> memiliki sumber daya yang cukup untuk menyesuaikan
> diri (adaptasi).
>
> Pertemuan Para Pihak Konvensi Perubahan Iklim yang
> akan diadakan di
> Indonesia desember nanti membuat pemerintah
> Indonesia melihat peluang besar
> untuk menggalang dana-dana dari negara maju. Baik
> dana adaptasi maupun
> mitigasi dalam bentuk mendorong mekanisme Carbon
> Sink masuk kedalam CDM
> (Clean Development Machanism). Mekanisme
> Penyerapan Karbon (Carbon sink)
> adalah mekanisme penyerapan atau perosot karbon
> dengan menggunakan pohon,
> tanah, dan laut untuk menyerap karbon yang ada di
> atmosfir. Saat ini
> pemerintah Indonesia berencana ¹mengontrakkan¹
> hutan tropis Indonesia untuk
> dijadikan hutan penyerap karbon dari emisi yang
> dikeluarkan negara maju.
> Hutan dengan luas 91 juta hektar ini ditawarkan
> dengan harga 5 ­ 20 dollar
> Amerika per hektar, mekanisme ini bukanlah jawaban
> atas akar permasalahan
> perubahan iklim. Negara maju yang mengeluarkan
> uangnya untuk mekanisme
> penyerapan karbon di negara berkembang akan
> mendapatkan ¹surat ijin¹ untuk
> tetap berhak mencemari atmosfir tanpa harus
> menurunkan emisi mereka
> (membayar untuk mencemari).
>
> Untuk itu, kami Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
> (WALHI) Eksekutif Daerah
> Bali menyatakan bahwa:
>
> Menolak mekanisme Carbon Sink masuk kedalam CDM.
> Karena bukan merupakan
> jawaban atas akar masalah perubahan iklim
> melainkan sebagai alat penebus
> dosa negara maju yang telah mencemari bumi kita
> sejak Revolusi Industri dan
> tidak mau menurunkan emisi mereka; Mekanisme ini
> justru akan mengambil alih
> hak-hak masyarakat adat atas hutan, lahan dan
> sumber daya alam mereka atas
> nama penyelamatan hutan tropis. Dan hutan
> Indonesia belumlah bersih dari
> berbagai masalah, seperti konflik penguasaan
> antara masyarakat adat dengan
> negara maupun dengan swasta, jadi mekanisme ini
> justru akan menambah
> kompleks permasalahan yang akhirnya akan
> meminggirkan dan memiskinkan
> masyarakat adat.
>
> Menuntut pertanggung jawaban negara maju (Annex 1)
> untuk memberikan
> kompensasi bagi negara-negara berkembang sebagai
> bentuk hutang sejarah dan
> hutang ekologis. Karena telah mengeksploitasi
> sumber daya alam di negara
> berkembang untuk kepentingan konsumsi negara maju
> sehingga menyebabkan
> negara berkembang mengalami kerentanan ekologis.
> Selain itu, negara maju
> memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam
> menurunkan emisi gas rumah
> kaca, karena 85 % emisi total dunia berasal dari
> negara-negara maju.
>
> Menyerukan kepada Pemerintah Indonesia sebagai
> tuan rumah Pertemuan Para
> Pihak Konvensi Perubahan Iklim (COP 13 UNFCCC)
> mengambil posisi strategis
> untuk menjadi pemimpin bagi negara-negara
> berkembang dalam mengangkat posisi
> tawar dan menegosiasikan hak-haknya kepada negara
> maju; bukan justru menjadi
> calo ¹real estate¹ hutan Indonesia.
>
> Demikian pernyataan sikap ini kami buat, dalam
> rangka menuntut keadilan atas
> atmosfer kita yang saat ini di dominasi oleh
> segelintir kelompok istimewa.
>
> Denpasar, 23 Oktober 2007
>
> Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali
> Alamat:
> Tukad Tegalwangi, No.8 Sesetan - Denpasar
> Phone: 0361-245995
> email: walhibali_org@yahoo.com ­ bali@walhi.or.id
> Untuk informasi lengkap perubahan iklim bali dan
> gambar photo aksi protes
> silahkan kunjungi www.walhibali.blogspot.com
>
>
>
>
>
>
>
----------------------------------------------------------
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.6/1086 -
> Release Date: 22/10/2007 19:57
>

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

__._,_.___
Yahoo! News

Get it all here

Breaking news to

entertainment news

HDTV Support

on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices

Wellness Spot

on Yahoo! Groups

A resource for living

the Curves lifestyle.

.

__,_._,___

27 October 2007

[sobat-hutan] Laju Kerusakan Hutan Tinggi

 

27 Oktober 2007 03:39:16


Laju Kerusakan Hutan Tinggi

Dekan FH Unipa Minta Perhatian Pemerintah


 

MANOKWARI- Dekan Fakultas Kehutanan Unipa Ir Rudi Maturbong, Msi meminta semua stakeholder untuk memperhatikan kerusakan hutan yang terjadi di Papua pada umumnya dan Manokwari khususnya. Sebab berdasarkan hasil penelitian laju kerusakan hutan di Papua cukup tinggi yakni mencapai 0,13 juta hektar pertahunnya.

Kondisi seperti ini bila dibiarkan terjadi akan menjadi persoalan yang serius dimasa-masa yang akan datang. Terutama pemerintah daerah perlu mengambil langkah nyata dari sekarang. Demikian dikatakan kepada koran ini di ruang kerjanya beberapa waktu yang lalu.

Dikatakan, akibat dari kerusakan hutan akan menimbulkan dampak-dampak negatif. Salah satunya bencana banjir dan kerusakan lingkungan itu sendiri. Kerusakan hutan umumnya akibat illegal logging (IL), sedangkan sebagian kecil sisanya karena untuk pemenuhan kebutuhan warga yang bermukim disekitar hutan. Untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang merusak hutan pemerintah daerah perlu mengambil langkah.

Untuk melaksanakan pembangunan di tanah Papua, khususnya di Papua Barat tidak terlalu sulit. Sebab jumlah penduduknya masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah dana yang tersedia. Antara lain dana otonomi khusus bisa diarahkan untuk kegiatan masyarakat yang bisa mengalihkan untuk tidak merusak hutan.


Lelaki yang pernah menjadi anggota Panwas Provinsi pada saat Pilkada Gubernur Papua Barat juga mengingatkan agar hati-hati dengan program pengembangan kelapa sawit. Sebab untuk menanam kelapa sawit membutuhkan lahan yang sangat luas. Tentunya dengan lahan yang luas membuka peluang besar untuk terjadinya kerusakan lingkungan. Salah satunya kehilangan spesian yang belum sempat di beri nama. "Dampak dari pembukaan kebun kelapa sawit ada sekitar 100 spesies yang hilang dan belum sempat diberi nama, "tuturnya seraya menambahkan ini salah satu dari dampak pengembangan kepala sawit.(sr

__._,_.___
Yahoo! News

Odd News

You won't believe

it, but it's true

Cat Zone

on Yahoo! Groups

Join a Group

all about cats.

Yahoo! Groups

Wellness Spot

A resource for Curves

and weight loss.

.

__,_._,___

26 October 2007

[sobat-hutan] Hutan Lindung Riau Porak-Poranda

Hutan Lindung Riau Porak-Poranda
Jum'at, 26 Oktober 2007 | 17:39 WIB

TEMPO Interaktif, Pekanbaru:Seluruh kawasan dengan status hutan lindung dan hutan suaka alam di Riau dinyatakan rusak parah. Sedikitnya 67 persen sudah porak-poranda. Maraknya praktek illegal logging, perizinan yang serampangan, serta perambahan kawasan hutan menjadi perkebunan, merupakan faktor utama gundulnya hutan lindung Riau.

Pemaparan hasil monitoring Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau menyebutkan, dari 19 lokasi dengan status hutan lindung, seluruhnya rusak parah.

Hasil monitoring itu mencatat, dari 848.150 hektare hutan lindung pada tahun 2005 lalu, kini hanya tinggal 260.000 hektare atau hanya tersisa sekitar 30 persen. Malah, tim juga menemukan beberapa hutan lindung yang ditetapkan berdasarkan TGHK 1996, kini sudah berubah menjadi perkebunan.

"Di sana sudah tidak ditemukan lagi hutan. Yang ada hanya kebun sawit dan akasia untuk bubur kertas," ujar Direktur Walhi Riau, Jhoni Setiawan Mundung, di Pekanbaru, Jumat.

Kerusakan terparah itu terjadi antara lain di kawasan Hutan Lindung Suligi, Hutan Lindung Bukit Betabuh, Mahato, Rimbang Baling dan Hutan Raya Okura. Tim mencatat kerusakan pada lima kawasan itu mencapai sekitar 80 hingga 85 persen.

"Nyaris tidak ada lagi yang tersisa. Kerusakannya sudah sangat luar biasa dan mengerikan. Pemerintah perlu melakukan evaluasi ulang atas tata ruang wilayah," ujar Suseno Kurniawan dari Jikalahari.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Riau, Zulkifli, mengaku belum memperoleh data yang akurat menyangkut porak-porandanya hutan lindung Riau. "Saya tidak dapat memberikan penjelasan atas kerusakan hutan lindung dimaksud. Belum ada data yang akurat. Apa lagi menyangkut teknis, itu sepenuhnya wewenang kabupaten," ujarnya.

Jupernalis Samosir

__._,_.___
Yahoo! News

Fashion News

What's the word on

fashion and style?

New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

.

__,_._,___

25 October 2007

[sobat-hutan] Fwd: Pers Rilis Primata Dunia dalam Ancaman Kepunahan



Note: forwarded message attached.

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

__._,_.___
Yahoo! News

Get it all here

Breaking news to

entertainment news

Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

.

__,_._,___

23 October 2007

[sobat-hutan] Press release - Greenpeace mengkonfrontasi Deforestasi di Kebun Kelapa Sawit

 
----- Original Message -----
Sent: Monday, October 22, 2007 11:12 AM
Subject: [mediacare] Press release - Greenpeace mengkonfrontasi Deforestasi di Kebun Kelapa Sawit


Greenpeace mengkonfrontasi Deforestasi di Kebun Kelapa Sawit

Riau, 22 Oktober 2007 - Greenpeace hari ini membentang spanduk
berukuran 10x12 meter yang bertuliskan "Save our forest, save our
climate" (Selamatkan hutan, selamatkan iklim) di sisa hutan dekat
perkebunan kelapa sawit di Indragiri Hulu, Riau, untuk menunjukkan
pengrusakan yang terus terjadi di hutan gambut Indonesia.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Indonesia Anton Apriyantono melakukan
kampanye "Promosi Minyak Kelapa Sawit Lestari" di Inggris dan beberapa
negara Eropa lainnya. Disebutkan, Anton memproklamasikan bahwa
pelestarian lingkungan menjadi pusat dari produksi minyak kelapa sawit
di Indonesia di masa mendatang dan perusahaan yang kedapatan merusak
hutan lindung akan diproses secara hukum. Namun pada kenyataannya,
perusakan terhadap hutan-hutan gambut Sumatera tetap berlanjut.
Aktivitas pembentangan spanduk ini menjadi bagian dari kegiatan "Kamp
Pembela Hutan" (Forest Defenders Camp/FDC) yang berlokasi tepat di
perbatasan perkebunan kelapa sawit (1). Saat ini, kegiatan lain juga
sedang berlangsung di kamp, seperti pelatihan pemadam kebakaran
bersama dengan masyarakat di Desa Kuala Cenaku dan Kuala Mulia.
Kegiatan ini bertujuan memberdayakan masyarakat setempat dalam
menghadapi kebakaran di hutan dan lahan gambut. FDC sendiri menjadi
bagian dari usaha internasional yang dilakukan Greenpeace untuk
melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim global yang menjadi
bahasan negosiasi Kyoto Protokol dalam konperensi UNFCCC di Bali,
bulan Desember mendatang.
"Perubahan dari hutan ke perkebunan tidak hanya merusak hutan yang
berharga, namun juga menjadikan Indonesia sebagai penyumbang gas rumah
kaca secara ketiga terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah
kerusakan di hutan lahan gambut Kalimantan dan Sumatera, terutama
untuk produksi kelapa sawit," kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara Hapsoro.
Lahan gambut tropis, terbentuk dari ribuan tahun di bawah hutan-hutan
rawa gambut. Seiring hilangnya hutan rawa maka terbentuklah tumpukan
gambut, dan menambah kekayaan karbon dari generasi ke generasi bagi
pepohonan. Indonesia mempunyai 22,5 juta hektar lahan gambut atau
sekitar 12 persen dari daratannya dan 83 persen dari lahan gambut di
Asia Tenggara. Diperkirakan lahan gambut di Asia Tenggara menyimpan 42
miliar ton karbon.
Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari menyatakan, "Kelapa Sawit
yang diproduksi belakangan sangat tidak lestari, karena telah merusak
sisa hutan di Riau dan bagian lain di Sumatera, dan juga telah merusak
habitat dari sejumlah spesies yang dilindungi. Masyarakat setempat
juga telah diusir dari lahan mereka dan sejumlah besar gas telah
terlepas."
Hapsoro menambahkan, "Kerusakan hutan menjadi agenda utama pemerintah
Indonesia. Mereka sadar, sorotan Internasional akan mengarah ke
Indonesia karena akan menjadi tuan rumah suatu pertemuan besar di
dunia yang membahas perubahan iklim dunia. Namun, jika ingin dianggap
serius dalam pembahasan internasional tentang perubahan iklim,
Indonesia harus banyak melakukan tindakan dari pada hanya bicara,
harus berbuat banyak untuk melindungi karbon."
"Menjelang pertemuan Protokol Kyoto di Bali bulan Desember mendatang,
Greenpeace ingin agar pemerintah Indonesia bersungguh-sungguh terhadap
moratorium pengalihan hutan lahan gambut dan menjamin tindakan yang
efektif untuk melawan kebakaran hutan," tambah Hapsoro.
Di masa mendatang, pemerintah Indonesia harus bertindak lebih jauh dan
bersungguh-sungguh pula dengan moratorium deforestrasi dan industri
perkayuan, meninjau-ulang peraturan dan perundangan, tata kelola dan
penegakan hukum, serta melaksanakan perencanaan tata guna lahan yang
adil dan bertanggung jawab.

Catatan untuk editor:
(1) Relawan di FDC, berlokasi di desa Kuala Cenaku,Indragiri Hulu,
Riau, juga melakukan pengamatan kebakaran hutan,baik di lapangan
maupun dari udara dengan menerbangkan paramotor serta melakukan survei
kedalaman lahan gambut dan akan meneliti keanekaragaman-hayati di area
ini.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan
konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah
lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan
yang hijau dan damai

Informasi lebih lanjut dan kontak wawancara:
Hapsoro, Forest Campaigner Greenpeace Asia Tenggara (saat ini berada
di FDC) +62 813 784 89 700.
Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat
Hutan Riau) +62 812 763 1775.
I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62
21 3101873 / +62 812 107 8050.
Untuk foto dan video tentang protes Greenpeace, kontak:
I. Christianto Nusatya, Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara +62
21 3101873 / +62 812 107 8050.


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.5/1084 - Release Date: 21/10/2007 15:09

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Fashion News

What's the word on

fashion and style?

New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Going Green

Share your passion

for the planet.

.

__,_._,___

[sobat-hutan] Re: [mediacare] Pernyataan Sikap Walhi Bali

 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, October 23, 2007 3:54 PM
Subject: [mediacare] Pernyataan Sikap Walhi Bali

Pernyataan Sikap

³Hutan Kita Bukan Toilet Karbon Negara Maju²

Salam Adil dan Lestari!!!

Perubahan Iklim saat ini menjadi pembicaraan yang serius karena merupakan
ancaman bagi kehidupan di bumi. Perubahan iklim terjadi akibat naiknya suhu
bumi yang merupakan hasil dari aktivitas manusia dan menjadi bukti gagalnya
model pembangunan global yang bersandar pada eksploitasi dan ektraksi sumber
daya alam secara berlebihan.Kenaikan suhu bumi 0,6º C saat ini menyebabkan
banyak pihak mencari cara untuk membuat keadaan tidak menjadi lebih buruk
lagi (mitigasi). Akibat konsentrasi karbon yang bertambah secara signifikan
di permukaan udara (atmosfir) pasca Revolusi Industri, kenaikan suhu bumi
ini tidak dapat dihindari sehingga kenaikannya harus dibatasi dibawah 2º C.
Jika tidak mengambil langkah nyata ( business as usual) maka diperkirakan
suhu bumi akan naik 5º C yang berakibat pada kekacauan iklim di semua
belahan bumi.

Walaupun telah ada Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) maupun Protokol Kyoto,
ternyata konsentrasi gas rumah kaca tidaklah berkurang secara signifikan.
Malah banyak pakar yang menyatakan, bahwa Protokol Kyoto tidak berjalan
efektif akibat Amerika Serikat dan Australia sebagai negara yang memiliki
kontribusi besar dalam pelepasan karbon, tidak mau tunduk pada komitmen
protokol. Kemudian negara berkembang yang harus menjadi korban pertama atas
prilaku negara-negara maju tersebut, karena negara-negara berkembang tidak
memiliki sumber daya yang cukup untuk menyesuaikan diri (adaptasi).

Pertemuan Para Pihak Konvensi Perubahan Iklim yang akan diadakan di
Indonesia desember nanti membuat pemerintah Indonesia melihat peluang besar
untuk menggalang dana-dana dari negara maju. Baik dana adaptasi maupun
mitigasi dalam bentuk mendorong mekanisme Carbon Sink masuk kedalam CDM
(Clean Development Machanism). Mekanisme Penyerapan Karbon (Carbon sink)
adalah mekanisme penyerapan atau perosot karbon dengan menggunakan pohon,
tanah, dan laut untuk menyerap karbon yang ada di atmosfir. Saat ini
pemerintah Indonesia berencana ¹mengontrakkan¹ hutan tropis Indonesia untuk
dijadikan hutan penyerap karbon dari emisi yang dikeluarkan negara maju.
Hutan dengan luas 91 juta hektar ini ditawarkan dengan harga 5 ­ 20 dollar
Amerika per hektar, mekanisme ini bukanlah jawaban atas akar permasalahan
perubahan iklim. Negara maju yang mengeluarkan uangnya untuk mekanisme
penyerapan karbon di negara berkembang akan mendapatkan ¹surat ijin¹ untuk
tetap berhak mencemari atmosfir tanpa harus menurunkan emisi mereka
(membayar untuk mencemari).

Untuk itu, kami Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah
Bali menyatakan bahwa:

Menolak mekanisme Carbon Sink masuk kedalam CDM. Karena bukan merupakan
jawaban atas akar masalah perubahan iklim melainkan sebagai alat penebus
dosa negara maju yang telah mencemari bumi kita sejak Revolusi Industri dan
tidak mau menurunkan emisi mereka; Mekanisme ini justru akan mengambil alih
hak-hak masyarakat adat atas hutan, lahan dan sumber daya alam mereka atas
nama penyelamatan hutan tropis. Dan hutan Indonesia belumlah bersih dari
berbagai masalah, seperti konflik penguasaan antara masyarakat adat dengan
negara maupun dengan swasta, jadi mekanisme ini justru akan menambah
kompleks permasalahan yang akhirnya akan meminggirkan dan memiskinkan
masyarakat adat.

Menuntut pertanggung jawaban negara maju (Annex 1) untuk memberikan
kompensasi bagi negara-negara berkembang sebagai bentuk hutang sejarah dan
hutang ekologis. Karena telah mengeksploitasi sumber daya alam di negara
berkembang untuk kepentingan konsumsi negara maju sehingga menyebabkan
negara berkembang mengalami kerentanan ekologis. Selain itu, negara maju
memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menurunkan emisi gas rumah
kaca, karena 85 % emisi total dunia berasal dari negara-negara maju.

Menyerukan kepada Pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah Pertemuan Para
Pihak Konvensi Perubahan Iklim (COP 13 UNFCCC) mengambil posisi strategis
untuk menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang dalam mengangkat posisi
tawar dan menegosiasikan hak-haknya kepada negara maju; bukan justru menjadi
calo ¹real estate¹ hutan Indonesia.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat, dalam rangka menuntut keadilan atas
atmosfer kita yang saat ini di dominasi oleh segelintir kelompok istimewa.

Denpasar, 23 Oktober 2007

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali
Alamat:
Tukad Tegalwangi, No.8 Sesetan - Denpasar
Phone: 0361-245995
email: walhibali_org@yahoo.com ­ bali@walhi.or.id
Untuk informasi lengkap perubahan iklim bali dan gambar photo aksi protes
silahkan kunjungi www.walhibali.blogspot.com


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.6/1086 - Release Date: 22/10/2007 19:57

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! News

Sexual Health

Get important

sex health news

New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

.

__,_._,___