03 May 2007

Indonesia dicatat dalam Buku Rekor Dunia Guinness tahun 2008 sebagai penghancur hutan tercepat

Jakarta, 3 Mei 2007 –– Edisi mendatang dari Buku Rekor Dunia Guinness
akan memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kehancuran
hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari
sisa hutan di dunia. Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara
dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya. Sebanyak 72 persen dari
hutan asli Indonesia telah musnah (1) dan setengah dari yang masih ada
terancam keberadaannya oleh penebangan komersil, kebakaran hutan dan
pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit (2).

Rekor Dunia Guinness yang dianggap sebagai otoritas global pemecahan
rekor, telah memberikan konfirmasi pada Greenpeace bahwa rekor yang
patut disayangkan ini akan muncul dalam buku rekor dunia tahun 2008
yang akan diluncurkan di bulan September tahun ini (3).

Pencantuman rekor dalam buku Guinness akan tercatat sebagai berikut:
"Dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan di dunia,
negara yang meraih tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia
adalah Indonesia, dengan 1.8 juta hektar hutan dihancurkan per tahun
antara tahun 2000 hingga 2005—sebuah tingkat kehancuran hutan sebesar
2% setiap tahunnya atau 51 km2 per hari" (4).

"Sangatlah menyedihkan dan tragis bahwa di antara negara-negara dengan
tutupan hutan tersisa yang masih luas, Indonesia menjadi yang tercepat
dalam kehancuran hutannya. Dalam waktu tiap 30 menit saja, kawasan
hutan seluas Taman Monas di Jakarta telah dihancurkan. Menyandang
gelar pada buku rekor ini adalah hal yang memalukan bagi Indonesia,"
ungkap Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Greenpeace menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk menahan laju
kehancuran hutan tersebut dengan melakukan pengentian penebangan
sementara (moratorium) terhadap seluruh operasi penebangan hutan skala
komersial di seluruh kawasan hutan alam di Indonesia. Organisasi ini
juga menekankan bahwa moratorium merupakan langkah awal yang
diperlukan untuk menghentikan laju deforestasi yang tak terkendali dan
memberikan kesempatan kepada hutan untuk memulihkan dirinya.
Moratorium juga harus digunakan untuk mengkaji ulang dan mengubah arah
kebijakan terkait dengan hutan yang masih tersisa di Indonesia, yang
selama ini hanya mendorong kepentingan- kepentingan yang mendukung
terjadinya kehancuran dibandingkan perlindungan.

Sektor kehutanan di Indonesia telah dan masih dirusak oleh
ketidakpastian hukum, korupsi dan penjarah hutan yang semuanya masih
belum berhasil dikontrol oleh pemerintah Indonesia. Tingginya
permintaan dunia internasional atas produk-produk kayu dan kertas,
serta komoditas lain seperti minyak sawit, juga mendorong lajunya
kehancuran hutan.

"Hanya Indonesia yang bisa melindungi hutannya dan penduduk yang
hidupnya bergantung pada hutan, namun pemerintah negara-negara Uni
Eropa, Cina, Jepang dan Amerika Utara juga harus menjamin bahwa negara
mereka tidak lagi menjadi tempat pencucian gelap produk-produk hasil
dari kehancuran hutan kita. Bila tidak, hal memalukan yang disandang
Indonesia ini juga mejadi milik mereka," tambah Hapsoro.
Rekor Indonesia sebagai penghancur hutan tercepat juga menyebabkan
negara tersebut menjadi pencemar rumah kaca ketiga di dunia setelah
Amerika Serikat dan Cina. Hingga sebesar 25% dari emisi gas rumah kaca
disebabkan oleh pembukaan lahan hutan. (5)


Pemecahan rekor dunia Indonesia ini diumumkan hampir bersamaan waktu
dengan pertemuan tiga gubernur propinsi dengan komunitas internasional
tentang kemungkinan upaya bersama dalam mencegah deforestasi dan
mengurangi akibat perubahan iklim. Mengurangi dan menghindari
deforestasi juga merupakan salah satu solusi yang dipertimbangkan
dalam menghadapi perubahan iklim di pertemuan kerja ketiga
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang sedang
berlangsung di Bangkok.

Greenpeace is adalah organisasi kampanye yang independen, yang
menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap
masalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk
masa depan yang hijau dan damai.

Catatan untuk editor:
(1) Roadmap to recovery, 2006, Greenpeace International (see:
http://www.intactfo rests.org)
(2) World Resources Institute, 1997, The Last Frontier Forests.
(3) Dupiklat sertifikat dari Guinness World Records yang
mengkonfirmasikan pemecahan rekor Indonesia tersedia bila diminta.
(4) Walau Indonesia menghancurkan hutannya lebih cepat dari negara
lain, Brazil menghancurkan area yang lebih luas tiap tahunnya.
(5) Houghton, RA (2003) Revisi estimasi emisi karbon ke atmosfir yang
dihasilkan oleh perubahan dan pengelolaan tanah 1850-2000. Tellus 55B:
378-90; Houghton, RA (2005a) Deforestasi hutan tropik sebagai sumber
emisi rumah kaca.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Hapsoro, Regional Forest Campaigner, Greenpeace Southeast Asia,
+62 815 857 19872,
hapsoro@dialb.greenpeace.org

Patrisia Prakarsa, Media Campaigner, Greenpeace Southeast Asia –
Indonesia,
+62 815 1195 4771,
patrisia.prakarsa@id.greenpeace.org

Arie Rostika Utami, Assistant Media Campaigner, Greenpeace Southeast
Asia – Indonesia
+62 856 885 7275,
arutami@id.greenpeace.org

www.greenpeace.or.id

===============================

http://sobat-hutan.blogspot.com

1 comment:

Etalase Bumi said...

Indonesia, jika kita baca di buku dan majalah masa lalu, sering diposisikan sebagai salah satu paru-paru dunia. Tapi seperti banyak diceritakan, kualitas paru-paru manusia sendiri, di seluruh dunia, memang sedang mengalami penurunan. Jika demikian, standara paru-paru dunia memang sah-sah saja jika ikut turun.