14 March 2007

Mengenal National Geographic

Yayasan National Geographic didirikan di Amerika Serikat pada 27 Januari 1888 oleh 33 orang yang tertarik untuk meningkatkan pengetahuan geografi. Gardiner Greene Hubbard menjadi presiden pertama dan kemudian digantikan oleh menantunya Alexander Graham Bell. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang geografi dunia dan pada akhirnya mensponsori penerbitan majalah bulanan National Geographic.

National Geographic saat ini telah diterbitkan di 60 negara dalam 30 bahasa dengan total ekslempar lebih dari 9,5 juta per bulan di seluruh dunia.


National Geographic Indonesia

National Geographic Indonesia diresmikan pada 28 Maret 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disaksikan penerbit majalah ini, Jakob Oetama - pimpinan Kelompok Kompas Gramedia. Pertama kali diterbitkan pada April 2005 oleh Gramedia Majalah.


Kegiatan

Fotografi Laut Dalam
Sebelum resmi diluncurkan, National Geographic Indonesia mengadakan presentasi dan diskusi foto bertema Fotografi Laut Dalam bersama Emory Kristof, fotografer National Geographic pada 24 Januari 2005. Lalu dilanjutkan dengan pameran rangkaian foto karya Emory di Gedung Arsip Nasional.

Pameran Arkeologi
Usai peresmian di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, National Geographic Indonesia mengadakan pameran arkeologi Indonesia. Acara yang digelar pada 29 Maret hingga 3 April 2005 dipuncaki dengan presentasi dan pemutaran film orang kerdil (Homo floresiensis) dari Flores, Nusa Tenggara Timur oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Pameran Foto Cheng Ho
National Geographic Indonesia turut ambil bagian dalam Peringatan 600 Tahun Perjalanan Laksamana Cheng Ho yang dipusatkan di Semarang, Jawa Tengah. Selama lima hari, 3 – 7 Agustus 2005, Pameran Foto Cheng Ho karya Michael Yamashita, fotografer National Geographic yang mendapat penugasan untuk membuat foto napak tilas sang laksamana, digelar di PPRP Semarang.

Pada malam 4 Agustus 2005, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik dan Menteri Perdagangan Marie Pangestu berkesempatan membuka dan menyapa sang fotografer, yang kebetulan tengah singgah dalam rangka penelusuran jejah sejarah Cheng Ho bersama awak National Geographic Television. Selepas pembukaan, Mike menampilkan presentasi fotografi yang diikuti dengan antusisas oleh ratusan anggota National Geographic Society di Indonesia, bahkan Los Angeles, AS.

Melanjutkan sukses serupa di Bangka dan Semarang, pameran foto liputan Cheng Ho diboyong ke Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Lalu berpindah ke Jakarta, Surabaya dan Medan.

Penelitian Orang Pendek di Kerinci
Sejak 22 September 2005, Dr. Peter U Tse, penerima hibah Expedition Council National Geographic Society, melakukan penelitian Orang Pendek di Kerinci, Jambi selama kurun dua tahun. Bersama timnya, Dr. Tse memasang kamera perangkap dalam rangkaian penelitian untuk membuktikan keberadaaan misteri yang belum juga terkuak hingga kini itu. Pada hari pertamanya di Sungaipenuh, Dr. Tse dan tim, yang diikuti pula National Geographic Indonesia, mendapat sambutan hangat dari Bupati Kerinci H. Fauzi Siin.



Teleskop Antariksa Spitzer
Menyambut liputan keunggulan Teleskop Antariksa Spitzer, National Geographic Indonesia menggelar presentasi di Planetarium dan Observatorium DKI Jakarta pada 17 Desember 2005. Bambang Hidayat – salah seorang dewan pakar majalah ini – dan Widya Sawitar dari Planetarium mengajak 500 pendaftar terawal dari anggota National Geographic Society mendalami teleskop yang mengungkap tempat kelahiran bintang-bintang.

Rock Art Exhibition 2006
Tak puas dengan Spitzer, National Geographic Indonesia membuka mata masyarakat Indonesia dengan gelaran Rock Art Exhibition 2006. Acara di awal tahun ini digelar di tiga kota, Jakata, Balikpapan dan Sangatta, Kalimantan Timur dan mendapat dukungan penuh dari PT. Kaltim Prima Coal serta dibantu beberapa institusi, seperti Balai Arkeologi Kalimantan, Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI), Le Kalimantanthrope dan PP Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.



http://sobat-hutan.blogspot.com

No comments: