26 March 2007

Info dari Perkumpulan Hijau

From: Perkumpulan Hijau
E-mail: kodokyanghijau@gmail.com


Kodok Ijo mulung sampah tiap Jumat


Kawan-kawan yang baik,

Email kami tentang perkenalan yang sekalian meminta sumbangan sampah kantor beberapa waktu lalu mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Terima kasih untuk kawan-kawan semua.

Nah, untuk memudahkan (+ menghemat bbm), teknis pengambilan sampah, kami sudah menjadwal tiap hari Jumat (& Sabtu kalo diperlukan) untuk keliling kantor/rumah kawan-kawan semua. Tolong beritahu OB atau orang di rumah bahwa kami akan datang.

Tentu saja, paginya akan kami kontak terlebih dahulu. Sekali lagi kami sampaikan, kami menerima sampah kering dalam bentuk apa saja (kertas yang sudah dipotong-potong, cartridge, kain perca, kertas, plastik, dll). Kalau repot untuk membersihkan/memilah, kami siap melakukannya. Wilayah jangkauan kami Jabodetabek.

Sekian dulu pemberitahuan kami. Untuk konfirmasi, sms saya (08158019813). Sekali lagi terima kasih untuk perhatian & dukungannya.

salam,

Gamulya
Perkumpulan Hijau


http://sobat-hutan.blogspot.com

Undangan kuliah primata


Pusat Primata Schmutzer – Taman Margasatwa Ragunan

konservasi PRIMATA
di Jantung Pulau JAWA


&
REKREKAN Presbytis fredericae
javan fuscous leaf monkey

bersama
Arif Setyawan, SHut.
[Lab. Satwaliar UGM ]

SABTU
31 Maret 2007
10.00 wib

Pusat Pendidikan Primata
Pusat Primata Schmutzer
Taman Margasatwa Ragunan - Jakarta

didukung oleh :
|Yayasan Gibbon Indonesia | Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo |


Tentang Obrolan Konservasi [OK] dan Kuliah Primata [KP]

Pusat Primata Schmutzer - Taman Margasatwa Ragunan, mengadakan kegiatan untuk membangkitkan dukungan/ partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi pada umumnya dan konservasi primata pada khususnya melalui program presentasi dan diskusi semi formal yang dikemas dalam "Obrolan Konservasi" dan "Kuliah Primata". Program ini merupakan lanjutan dari program yang sebelumnya berjudul lecture.

Obrolan Konservasi

Dilakukan untuk memberikan pengenalan dan pemahaman tentang alam-lingkungan secara umum dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya konservasi dan diharapkan masyarakat dapat berkontribusi dengan aktifitas nyata dalam bentuk apapun.

Kuliah Primata

Untuk memberikan pengenalan tentang primata secara umum, serta fungsi keberadaannya di alam kepada masyarakat luas.

Untuk memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat luas mengenai kondisi primata dan habitatnya di Indonesia beserta berbagai tantangannya, sehingga pemahaman masyarakat juga meningkat.

Untuk mengupayakan kegiatan konservasi yang akan lebih efektif dan menyentuh akar permasalahan dengan cara memfasilitasi adanya kegiatan pendidikan konservasi bagi masyarakat luas untuk membangkitkan partisipasinya dalam kegiatan konservasi yang lebih nyata.


Catatan dari kegiatan Obrolan Konservasi 09 Desember 2006

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
[Arief Setyawan | Universitas Gadjah Mada]

.... Apa jadinya bumi tanpa tumbuhan dan hewan? Tentu yang terjadi adalah manusia tidak dapat bertahan hidup karena dari merekalah manusia dapat melangsungkan kehidupannya. Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Pusat Primata Schmutzer Taman Margasatwa Ragunan (PPS-TMR) memanfaatkannya untuk membentuk generasi yang cinta lingkungan. Dengan melibatkan anak-anak usia sekolah dari tingkat TK sampai dengan tingkat kelas III SD serta anak-anak dari kebutuhan khusus, PPS-TMR mengadakan kegiatan lomba mewarnai untuk menumbuhkan semangat melestarikan puspa dan satwa.

Sebelum acara lomba mewarnai, peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk berkeliling area PPS-TMR dan dipandu oleh volunteer PPS. Selama berkeliling, anak-anak sangat antusias melihat primta yang ada. Seperti Erick yang bertanya tentang orangutan berkali-kali. “Orangutan membuat sarang sama seperti rumah buat manusia ya Kak? Supaya tidak kehujanan dan untuk tempat tidur kan?” begitu tanya Erick sewaktu berada di terowongan orangutan yang langsung diiyakan oleh Sorta, volunteer yang memandunya ....


NB :
Anda yang berminat mendapatkan file digital dari foto kegiatan dapat download dari:


http://educationsch mutzer.multiply.com/

File presentasi dalam format PDF dapat download dari:

http://groups.yahoo.com/group/Sahabat_ primata/files/

[foto © Pusat Primata Schmutzer, Kuswandono]


agar ANDA selalu memperoleh informasi update tentang KuliahPrimata dan ObrolanKonservasi serta informasi lainnya, silakan bergabung dengan

Sahabat_primata@yahoogroups. com

atau buka di alamat

http://groups.yahoo.com/group/Sahabat_primata/



| education_schmutzer @yahoo.com | educationschmutzer. multiply. com | [021] 7884 7105 |

http://sobat-hutan.blogspot.com

Burung Indonesia butuh staf

Kami adalah organisasi nirlaba yang bergiat dalam pelestarian burung liar dan habitatnya di Indonesia .

Saat ini unit kerja kami, Knowledge Center Burung Indonesia sedang membutuhkan staff untuk ditempatkan di Bogor , dengan tugas umum dan kualifikasi sbb:


Posisi:
Research and Capacity Building Officer


Tugas umum:

Research and Capacity Building Officer akan membantu kelancaran tugas Head of Knowledge Center yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:


Membantu dalam penelusuran, pengumpulan dan sintesa informasi yang dapat dipergunakan dalam perencanaan strategis Perhimpunan Burung Indonesia ;
Membantu dalam proses diseminasi informasi kepada klien internal maupun external;
Melakukan kegiatan administratif di dalam Knowledge Center untuk memastikan informasi yang masuk dan keluar di kelola secara baik sehingga mempermudah kegiatan penelusuran


Kualifikasi:

- Minimal S1 dibidang Biology atau subjek yang berkaitan;

- Memiliki kemampuan administratif yang baik;

- Memiliki pemahaman yang baik dalam hal konservasi burung;

- Memiliki kemampuan untuk bekerja secara mandiri maupun dalam tim;

- Memiliki kemampuan yang baik dalam melakukan penelusuran informasi;

- Mampu untuk menulis laporan yang baik dan terarah;

- Mampu untuk membuat rencana kerja yang terstruktur dan efektif;

- Teliti

- Memiliki kemampuan yang baik dalam mengoperasikan Program MS Office;

- Mampu berkomunikasi dengan baik;

- Memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, baik secara lisan maupun tertulis.



Lamaran dibuka sampai dengan tgl 2 April 2007. Hanya calon yang memenuhi syarat yang akan dipanggil.

Lamaran dan CV, dapat ditujukan kepada:


Henny M Sembiring
GAA/HRD Division

Burung Indonesia
Jl. Dadali No. 32, Bogor 16161
Telp. 0251- 357 222
Fax . 0251- 357 961
Email: biring@burung.org
Website. www.burung.org




http://sobat-hutan.blogspot.com

17 March 2007

Workshop on the Economics of Climate Change

Young Minds Workshop ini adalah yang pertama kali diadakan dengan memanfaatkan momentum kedatangan Penasehat Ekonomi akibat Perubahan Iklim untuk Pemerintah Inggris, Sir Nicholas Stern, ke Jakarta, Indonesia, sekaligus menjelang Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007.


Kali ini, kami mengajak 50 anak muda dan 10 jurnalis media anak muda untuk bergandengan tangan dan saling melengkapi satu dengan yang lain.

Caranya? Menyerukan ide-ide luar biasa hingga menjadi kelompok kerja yang matang dan menawarkan pencerahan cerdas. Young Minds Workshop akan membantu anak muda mengeksplorasi inovasi-inovasi baru, solusi tepat, dan melakukan aksi nyata untuk isu pemanasan global dan perubahan iklim.


Karena setiap sumbangan kita, sebagai individu maupun bagian dari komunitas, memiliki dampak langsung pada Bumi. Gaya hidup kita, apa yang kita beli, kita makan, kita pakai, kita kendarai, sampai yang kita buang menentukan masa depan kita sendiri.




WWF-Indonesia & British Embassy
Young Minds Workshop


Build-Your-Own- Campaign

Climate Change: Future Threat & Present Danger


Universitas Paramadina (tentative)

Jakarta, 22 - 24 Maret 2007


Tell us what's in your mind?

Just download the form by clicking www.wwf.or.id



What is Young Minds Workshop?

Young Minds Workshop adalah kegiatan bersama antara WWF-Indonesia dan British Embassy untuk memancing anak-anak muda berpikir kreatif sekaligus praktis dari berbagai sudut pandang dan bidang ilmu dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, khususnya isu perubahan iklim (Climate Change).

Fokus utama dari forum ini adalah:

- Menyebarluaskan informasi bahwa pemanasan global dan perubahan iklim adalah nyata. Konsumsi energi kita memiliki efek samping terhadap lingkungan dan harus dicari jalan keluarnya.


- Mendorong publik untuk melakukan aksi nyata. Publik memiliki 2 peran:

Pelaku dan korban ¨- aktivitas manusia berhubungan langsung dengan emisi gas rumah kaca. Dan, kadarnya telah melebihi batas sehingga hingga terjadi pemanasan global.

Climate Change: Future Threat & Present Danger.

Pemberi solusi - lakukan sesuatu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dimulai dari rumah sendiri. Dan, menjadi agen perubahan dengan membuat kampanye sesuai komunitas yang dituju. Build-Your-Own- Campaign!

The Organizers: WWF-Indonesia and British Embassy

WWF-Indonesia

WWF merupakan LSM lingkungan terbesar di dunia yang terkenal karena misi konservasinya.

Didirikan di tahun 1961, WWF beroperasi di lebih dari 100 negara, dengan suporter tetap mencapai 5 juta orang.

Misi WWF: menghentikan kerusakan lingkungan di bumi dan mengembalikannya ke kondisi semula supaya manusia dapat hidup secara harmonis dengan alam.

WWF-Indonesia bekerja dengan empat (4) program utama, yaitu Forest (hutan), Marine (laut), Species (spesies), dan Climate and Energy (iklim dan energi).

Fokus utama kegiatan Progam Iklim dan Energi adalah:
(i) solusi dan mencari alternatif untuk beralih dari sumber pemanasan global (bahan bakar fosil) menjadi pemanfaatan energi berkelanjutan (pemakaian energi bersih/clean and green energy ) dan pemanfaatan energi dengan efisien

(ii) solusi dan pengembangan strategi adaptasi bagi keanekaragaman hayati dan manusia dalam mengurangi ancaman-ancaman lain di luar perubahan iklim sehingga kerusakan dan kepunahan dapat dihambat.

British Embassy (Kedutaan Besar Inggris)

Kedutaan Besar Inggris Jakarta adalah perwakilan resmi dari Pemerintah Inggris di Indonesia dan terdiri atas beberapa bagian yang masing-masing bertanggungjawab atas bidang-bidang tertentu. Bagian-bagian ini memberi layanan bagi masyarakat, seperti memberikan informasi umum, mempromosikan kesempatan perdagangan antara Indonesia dan Inggris, dan menerbitkan visa. Bidang yang memelopori Young Minds Workshop bersama dengan

WWF-Indonesia adalah Bagian Politik dan Ekonomi. Bidang ini bertanggungjawab untuk mengikuti dan melapor keadaan politik dan ekonomi di Indonesia, mempererat hubungan antara organisasi-organisasi dan anggota-anggota parlemen dari kedua negara, dan bekerja dengan Pemerintah, LSM, dan organisasi-organisasi Masyarakat Sipil untuk memperkuat upaya-upaya resolusi konflik.



Build-Your-Own- Campaign Young Minds Workshop

WWF-Indonesia dan British Embassy mencari 50 anak muda (mahasiswa dan profesional muda) dan 10 orang jurnalis dari media anak muda dengan minat besar terhadap isu lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan untuk bertukar pikiran pada hari Rabu Jumat, 21 - 23 Maret 2007, yang diadakan di Ruang Serba Guna Universitas Paramadina, Pk 10.00 - 17.00.


Apakah Anda?

- Mahasiswa, fresh graduate, profesional muda, atau jurnalis media anak muda yang peduli lingkungan

- Berusia 18 - 30 tahun

- Datang dari latar belakang pendidikan:
- Ilmu pengetahuan
- Teknologi
- Sosial Budaya
- Seni Rupa dan Desain

- Aktif ikut serta atau memiliki minat tinggi pada kegiatan dan aktivitas yang fokus pada isu lingkungan hidup

- Punya kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan baik

- Punya kemampuan untuk melakukan presentasi (publik speaking)

- Dapat bekerja sama dalam kelompok.


Syarat Keikutsertaan

1. Isi formulir

2. Salah satu tantangan abad ini adalah keseimbangan antara bidang ekonomi dan lingkungan hidup. Deskripsikan dengan singkat minat Anda pada isu ini dan aktivitas-aktivitas yang pernah Anda ikuti terkait dengan isu tersebut

3. Tulis essay 7000 karakter (dengan spasi) tentang perubahan iklim (Climate Change). Essay tersebut minimal merefleksikan ide-ide Anda tentang:

a. Apa yang Anda ketahui tentang pemanasan global (Global Warming) dan perubahan iklim (Climate Change), dan hubungan antara keduanya? Penyebab dan dampaknya?

b. Apa menurut Anda dampak perubahan iklim (Climate Change) terjadi di Indonesia?

c. Apa yang bisa dilakukan saya sebagai individu dan bagian dari komunitas untuk mengatasi efek perubahan iklim (Climate Change)?


Prosedur/Aturan Main

- Formulir dan syarat keiikutsertaan harus dipenuhi. Jika ada yang tidak lengkap, maka tidak akan diproses

- Essay dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (7000 karakter dengan spasi, kertas A4, spasi 1,5)

- Bersedia mengikuti workshop selama 3 hari penuh, mulai tanggal 21 - 23 Maret 2007, Pk 10.00 - 17.00

- Fotokopi KTP atau kartu identitas lain

- Semua kelengkapan harus sudah diserahkan kepada kami sebelum tanggal 17 Maret 2007

- Workshop ini tidak dipungut biaya

- Setiap individu sangat didukung untuk ikut serta. Calon peserta workshop akan dipilih berdasarkan essay yang masuk berdasarkan minat dan pengetahuannya tentang isu yang diminta. Bukan berdasarkan cepat lambatnya mendaftar.


Mohon kirimkan formulir dan kelengkapan keiikutsertaan Anda sebelum tanggal 17 Maret 2007 ke:

Program Iklim dan Energi
WWF-Indonesia
Kantor Taman A9 Unit A1
Kawasan Mega Kuningan
Jakarta 12950
Telp : 021 576 10 70 # 206


Atau kirimkan lewat email ke:

vpuspawardani@wwf.or.id

RI tercepat merusak hutan

Greenpeace masukkan ke Guiness Book

Jakarta, BPost

Indonesia kembali mencatat rekor terburuk, kali ini klaim datang dari
pegiat lingkungan hidup Greenpeace Indonesia. Organisasi independen ini
menilai Indonesia merupakan negara penghancur terbesar dan tercepat areal
hutan. Dan untuk prestasi ini, Greenpeace berniat untuk mendaftarkan Indonesia
ke buku rekor dunia atau Guiness Book of World Records.

"Tingkat penghancuran hutan di Indonesia sangat luar biasa dan ini
membuat Indonesia layak untuk masuk dalam Guiness Book, bergabung dengan
Brasil yang saat ini memegan rekor kawasan deforestasi terluas di dunia,"
ucap Hapsoro, juru kampanye hutan regional, Greenpeace Asia Tengara,
dalam acara pencatatan rekor Indonesia sebagai perusak terbesar hutan, di
Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (16/3).

Berdasarkan data Organisasi PBB Food and Argiculture Organization (FAO),
Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutannya setiap
hari atau setara dengan 300 kali ukuran lapangan sepakbola setiap jamnya.

Masih menurut FAO, angka deforestasi Indonesia 2000-2005 mencapai 1,8
juta hektar pertahun. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan
angka resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan yakni 2,8 juta
hektar pertahun.

Indonesia sebenarnya masih di bawah Brasil yang menempati urutan pertama
dengan kerusakan 3,1 juta hektar pertahun, dengan kawasan deforestasi
terbesar dunia. Namun karena luasan wilayah hutan di Indonesia yang jauh lebih kecil dari Brasil (Indonesia luas hutannya sekitar 120,35 juta hektar, Brasil
477,698 juta hektar), maka laju deforestasi Indonesia adalah 2 persen
pertahun dianding dengan Brasil yang hanya 0.6 persen.

"Kita harus menghentikan pembalakan hutan. Ini bukan prestasi yang
membanggakan. Karena itu Greenpeace menyerukan kepada pemerintah untuk
tidak lagi memberikan izin HPH kepada pengusaha kayu dan mengajak seluruh
komponen bangsa untuk menjaga kelestarian hutan," lanjut Hapsoro.

Acara Greenpeace kemarin dihadiri artis-artis yang mempunyai perhatian
besar terhadap lingkungan hidup, seperti ‘Si Oneng‘ Rieke Diah Pitaloka,
Novelis Ayu Utami, dan penyanyi reggae Tony Qiu. Sementara di kalangan
tokoh politik di antaranya Sarwono Kusumaadmaja, mantan Menteri Kehutanan
Sony Keraf, dan wartawan senior Fikri Jufri. JBP/why

http://www.indomedia.com/bpost/032007/17/nusantara/nusa1.htm


http://sobat-hutan.blogspot.com

Rimbawan di padang savana

Refleksi Hari Bakti Rimbawan 16 Maret

Oleh Gerson ND. Njurumana *

DEGRADASI lingkungan dan sumberdaya alam dengan berbagai dampak bencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akumulasi kerusakan hutan, lahan, erosi dan degradasi ekosistem DAS sebagai daerah tangkapan air. Departemen kehutanan sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap masalah kehutanan secara terus-menerus melakukan berbagai terobosan untuk memulihkan kerusakan hutan dan lahan melalui kegiatan penghijauan, reboisasi, GNRHL/Gerhan, KMDM dan Indonesia menanam. Sekalipun demikian, berbagai data memperlihatkan laju kerusakan hutan meningkat dari 1,6 juta ha/tahun (Pratiwi 2003) menjadi 2,2 juta ha/tahun (Meiviana, et al,. 2004), dan terakhir menjadi 2,83 juta ha/tahun (Anonimous, 2005). Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tidak dapat mengatasi percepatan kerusakan hutan dan lahan.

Demikian halnya dengan laju kerusakan hutan dan lahan di NTT, mengacu pada data hasil citra landsat tahun 2004, lahan kritis mencapai 2.195.756 ha atau 46% dari luas wilayah. Laju kehilangan hutan di Pulau Sumba rata-rata 6.000 ha/tahun, (Kinnaird et al., 2003). Degradasi lahan Timor Barat dapat dilihat dari meningkatnya lahan kritis pada wilayah DAS Benain Noelmina, dimana dalam 22 tahun terakhir terjadi peningkatan lahan kritis pada DAS Benanain sebesar 255.960 ha dengan rata-rata 11.635 ha/tahun, sedangkan pada DAS Noelmina mencapai 50.603 ha dengan rata-rata sebesar 2.300 ha/tahun, sehingga hutan yang masih ada di DAS Noelmina seluas 22.460 ha akan habis pada tahun 2013.

Data tersebut sejalan dengan informasi dari Hutabarat (2006), bahwa rata-rata laju peningkatan lahan kritis di NTT selama 20 tahun terakhir mencapai 15.163,65 ha/tahun, sedangkan kemampuan pemerintah melaksanakan rehabilitasi hanya 3.615 ha/tahun, sehingga deviasi antara laju degradasi dan upaya penanaman mencapai 4 : 1. Selanjutnya deviasi meningkat tajam menjadi 8 : 1 apabila persentase tumbuh tanaman pada kondisi iklim semi arid hanya mencapai 50%. Kondisi ini sebenarnya sudah lama disinyalir oleh Suriamihardja (1990) bahwa kegiatan pembakaran vegetasi di NTT mencapai 1.000.000 ha/tahun padang rumput dan 100.000 ha/tahun hutan sekunder.

Kenapa lahan kritis bertambah?

Pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit dijawab, karena multidimensi persoalan yang melilit, mengikuti dan menyertai setiap aspek pembangunan sektor kehutanan khususnya di NTT. Sekalipun demikian, penulis mencoba memberikan beberapacatatan sederhana mengenai kondisi tekanan sumberdaya lahan di NTT dengan mengambil sampel pada Pulau Sumba dan Timor Barat. Rehabilitasi hutan dan lahan pada kedua wilayah ini menghadapi kompleksitas persoalan yang sangat mendasar seperti kebijakan, kemiskinan, iklim, produktivitas lahan yang rendah, alternatif dan akses usaha yang sangat terbatas serta kesadaran masyarakat yang masih rendah mengenai lingkungannya.

Dari aspek kebijakan, pendekatan rehabilitasi lahan dengan kondisi tempat tumbuh seperti Timor dan Sumba memerlukan pendekatan yang khusus, terutama dari segi efektivitas waktu sehingga rehabilitasi dapat dilakukan tepat waktu, tepat sasaran dan sesuai dengan karakteristik iklim wilayah setempat, namun kenyataannya sistem penganggaran kita tidak memperhatikan dinamika perubahan iklim dan cuaca yang menjadi faktor utama dalam mendukung rehabilitasi hutan dan lahan. Hal ini dapat diamati dari standarisasi sistem penganggaran yang pencairannya sering terlambat, sehingga untuk kondisi wilayah semi arid yang bulan basahnya berkisar antara 3-4 bulan, akan menjadi persoalan serius untuk melaksanakan kegiatan penanaman dan mendukung pertumbuhan tanaman di lapangan. Oleh karena itu, untuk daerah semi arid perlu reformasi kebijakan dan sistem penganggaran agar lebih disesuaikan dengan kondisi iklim dan tujuan pencapaian kualitas dan kuantitas kegiatan rehabilitasi, memberikan akses terhadap masyarakat dan para pihak yang terkait untuk berpartisipasi secara aktif pada setiap tahapan proses kegiatan.

Tantangan rehabilitasi hutan dan lahan makin serius manakala kita berhadapan dengan berbagai data yang memperlihatkan bahwa sebanyak 81% masyarakat di Timor dan Sumba adalah petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Jumlah penduduk yang hidup dari sektor pertanian tidak sebanding dengan lahan produktif yang tersedia, sehingga tekanan sumberdaya lahan makin meningkat. Adaptasi terhadap kondisi tersebut membuat masyarakat semi arid memiliki ciri khusus sebagai petani polipalen (Riwu Kaho, 2006) atau petani serba tanggung (Ataupah, 2002), karena berprofesi ganda sebagai petani sekaligus peternak, petambak dan usaha-usaha lain. Sekalipun demikian, tidak membawa perubahan signifikan dalam memperbaiki kesejahteraan masyarakat, karena penduduk di Timor Barat dan Sumba memiliki disparitas pendapatan yang sangat tinggi, masing masing sebanyak 84,39% dan 94,09% memiliki pendapatan lebih kecil dari Rp 200.000/bulan dan hanya 15,65% dan 5,91% yang memiliki pendapatan di atas Rp 200.000/bulan. Dengan dominasi masyarakat yang berpenghasilan rendah, maka tekanan dan ketergantungan terhadap sektor kehutanan makin meningkat, salah satunya pemenuhan kebutuhan kayu bakar akibat melangitnya harga BBM. Dengan asumsi sedikitnya 50% dari rumah tangga di Timor Barat dan Sumba menggantungkan kebutuhan bahan bakar dari kayu, dapat diperkirakan bahwakebutuhan kayu bakar untuk masing masing wilayah mencapai 24.677.044 m3/tahun dan 7.817.952 m3/tahun.

Tekanan hutan dan lahan dari aspek peternakan juga sangat tinggi, dalam hal ini populasi ternak besar yang ada di Timor mencapai 428.089 ekor. Dari jumlah tersebut sebanyak 92,35% adalah ternak sapi, ternak kuda 5,16% dan ternak kerbau sebanyak 2,49%, sedangkan di Sumba ternak besar mencapai 154.726 ekor, didominasi ternak kerbau 42,24%, ternak sapi 29,58% dan ternak kuda 28,18%. Dengan jumlah ternak seperti di atas, kebutuhan pakan untuk ternak sapi dewasa di Timor Barat saja mencapai 4.111.401 ton/tahun, sedangkan ternak kerbau dan kuda di Sumba membutuhkan pakan sebanyak 699.341 ton/tahun dan 187.497 ton/tahun.

Hasil pengamatan penulis terhadap beberapa model kebun masyarakat di Timor Barat memperlihatkan bahwa kebutuhan kayu pagar sangat tinggi mencapai 1500-1800 batang/ha. Pertanian lahan kering di Timor Barat mencapai 7715 ha, sehingga dengan asumsi 50% menggunakan pagar dengan kebutuhan rata-rata 1700 batang/ha, maka diperlukan kayu pagar sebanyak 6.556.900 batang. Dengan demikian, tekanan terhadap hutan maupun daerah bervegetasi lainnya sangat tinggi. Data-data tersebut di atas memperlihatkan tingginya tekanan lahan untuk kebutuhan pakan ternak dan kayu pagar, sehingga pola rehabilitasi hutan dan lahan tentunya merupakan bagian integral untuk memberikan alternatif pemecahan terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan tekanan sumberdaya lahan, termasuk intensitas kebakaran yang tinggi.

Bagaimana solusinya?

Rehabilitasi hutan dan lahan di Pulau Timor dan Sumba merupakan sebuah tantangan berat, karena persoalan dasar yang berkaitan dengan mata pencaharian, aspek sosial, ekonomi dan budaya serta tingkat pendapatan yang masih rendah sangat melilit setiap aspek kehidupan masyarakat. Harapan melalui rekayasa sosial dan pelibatan masyarakat dalam upaya rehabilitasi lahan mengalami kendala karena fakta memperlihatkan tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, sebanyak 37,53% (Timor) dan 58,34% (Sumba) tidak tamat sekolah dasar, sebanyak 33,23% dan 13,93% (Timor) dan 23,60% dan 8,58% (Sumba) hanya tamat SLTP dan SLTA, sedangkan yang menyelesaikan perguruan tinggi hanya mencapai 2,83% (Timor) dan 1,53% (Sumba). Dengan kondisi pendidikan seperti di atas, upaya untuk melakukan penyuluhan memerlukan keseriusan dan kesabaran, karena proses transfer informasi dan teknologi akan sangat lambat.

Secara umum masyarakat di Nusa Tenggara Timur memiliki bentuk-bentuk kearifan lokal dalam berinteraksi dengan hutan, tanah dan air. Persoalan yang dihadapi dalam pemanfaatan kearifan lokal adalah tidak adanya pengakuan terhadap hak-hak budaya masyarakat dalam kaitannya dengan hak ulayat danwilayah adat. Bentuk-bentuk pertanian campuran lahan kering seperti sistem kaliwu, sistem mamar dan sistem amarasi tidak dapat berkembang karena minimnya pengetahuan masyarakat dalam hal budidaya serta lemahnya dukungan pemerintah. Pengembangan model agroforestry lokal sangat penting mengingat sebanyak 81% masyarakat baik di Timor maupun di Sumba memiliki ketergantungan hidup pada model pertanian lahan kering campuran yang memiliki luas 7,46% dari Pulau Timor dan 3,29% untuk Pulau Sumba.

Revitalisasi model agroforestry lokal dapat dilakukan dengan memahami dan mengacu pada filosofi dasar masyarakat lokal, salah satunya konsep segitiga kehidupan yang disebut "Mansian Muit Nasi Nabua", yang bermakna bahwa manusia, hutan dan ternak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Konsep segitiga kehidupan lahir sebagai kristalisasi dari pengalaman interaksi yang saling hidup dan menghidupkan antara kehadiran manusia yang menghormati keberadaan sumberdaya alam beserta hak-hak budayanya terhadap hutan, tanah dan air termasuk ternak yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari pola sosial budaya dan ekonomi masyarakat lokal. Beberapa model agroforestry lokal yang dapat dikembangkan sebagai model agrosylvopasture di Timor dan Sumba adalah sistem amarasi dan sistem mamar di Timor dan sistem kaliwu dan pahomba di Sumba.

Model pengembangan wanatani dapat disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi masing-masing daerah beserta aspek sosial ekonomi dan budayanya. Prioritas pengembangan agrosylvopasture adalah kepastian nilai ekonomi yang akan dihasilkan, sehingga dapat merangsang petani untuk terlibat secara maksimal. Karena itu, sebelum pengembangan harus dilakukan analisis ekonomi dan pemetaan potensi pendapatan yang akan dihasilkan oleh berbagai jenis tanaman baik dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Penataan pola tanam dapat direkayasa sehingga memungkinkan tersedianya ruang tumbuh untuk pengembangan jenis tanaman sumber makanan, pakan ternak, pencegahan erosi, pemulihan kesuburan tanah, pohon pelindung, penghalang angin dan kayu bakar. Perpaduan nilai guna tersebut dapat dilakukan dengan menata sistem pengembangan, sehingga tercipta ruang yang dinamis bagi optimalisasi daya produksi komponen tanaman yang dikembangkan. Karena itu, pengembangan agrosylvopasture harus memiliki target ekonomi yang jelas sehingga mendorong partisipasi masyarakat melakukan diversifikasi tanaman.

Penguatan inisiatif lokal sangat penting dalam membangun dan memperkuat kapasitas petani dalam mengembangkan agrosylvopastur. Proses penguatan dapat dilakukan melalui berbagai metode pendekatan yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat pemahaman masyarakat, terutama dalam membangun pemahaman saling keterkaitan dan keterpaduan antara kegiatan kehutanan, pangan, perkebunan, yang dikombinasikan dengan peternakan atau perikanan yang secarasimultan mempunyai fungsi dan manfaat ekonomi, sosial dan ekologi dengan tetap mempertimbangkan kekhasan faktor sosial budaya dan biofisik setempat. Pendekatan penguatan inisiatif lokal dapat dilakukan dengan pendekatan Adaptive Collaborative Management (ACM), suatu metode penguatan inisiatif partisipasi yang dilakukan dengan menempatkan masyarakat sebagai pemain utama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan refleksi.

Strategi yang dapat dilakukan dalam rangka rehabilitasi lahan kritis melalui pengembangan agrosylvopasture adalah membangun kolaborasi pengelolaan dengan memadukan berbagai sektor yang berkepentingan untuk melihat agrosylvopasture sebagai jembatan program lintas sektor. Kolaborasi pengelolaan harus diawali dengan kesamaan persepsi, selanjutnya dalam bangkan kekhasan faktor sosial budaya dan biofisik setempat. Pendekatan penguatan inisiatif lokal dapat dilakukan dengan pendekatan Adaptive Collaborative Management (ACM), suatu metode penguatan inisiatif partisipasi yang dilakukan dengan menempatkan masyarakat sebagai pemain utama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan refleksi.

Strategi yang dapat dilakukan dalam rangka rehabilitasi lahan kritis melalui pengembangan agrosylvopasture adalah membangun kolaborasi pengelolaan dengan memadukan berbagai sektor yang berkepentingan untuk melihat agrosylvopasture sebagai jembatan program lintas sektor. Kolaborasi pengelolaan harus diawali dengan kesamaan persepsi, selanjutnya dalam aplikasinya dapat diterjemahkan dalam kegiatan sektor, dengan tetap memperhatikan sinkronisasi program dan sumberdaya yang digunakan.

Pengalaman pahit selama ini seperti dikemukakan oleh Kartodihardjo, et al., (2000) adalah bahwa sinkronisasi tata ruang dan tataguna lahan cenderung tumpang tindih antar sektor, paduserasi antara TGHK dan RTRWP tidak digunakan sebagai pedoman yang pasti. Untuk mendukung kolaborasi diperlukan tersedianya data, informasi dan kejelasan peran para pihak. Janz dan Persson, (2002) menegaskan bahwa dalam pembangunan kebijakan kehutanan sangat diperlukan tersedianya data dan informasi kuantitatif menyangkut potensi sumberdaya lahan dan hutan, sehingga tercipta keseimbangan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan upaya rehabilitasi.

Semoga hari bakti kehutanan kali ini mengingatkan para rimbawan yang sedang mengembara di padang savana, bahwa persoalan hutan di NTT makin berat dan menjauh dari harapan yang dicita-citakan. Karena itu, sangat perlu revitalisasi dan semangat kolaborasi diantara sesama rimbawan dan para pihak, sembari menyatukan langkah untuk membangun kehutanan di bumi Flobamora, memulai dengan apa yang ada dimasyarakat, bukan dengan pesan sponsor dari luar. Salam rimbawan.

* Penulis, peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Kupang

http://www.indomedia.com/poskup/2007/03/16/edisi16/opini.htm


http://sobat-hutan.blogspot.com

15 March 2007

DICARI! Tim Direct Dialogue WALHI!

WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia- Friends of the Earth Indoneisa) mencari anggota Tim Direct Dialogue, yaitu penggalangan dana di ruang-ruang publik.

Gambaran pekerjaan anggota Tim Direct Dialogue:


Kami memberi kesempatan yang sama kepada pelamar perempuan dan laki-laki tanpa pembedaan umur maupun suku.
Posisi outsource (berbasis kontrak) dengan target capaian perbulan dan bekerja di tanggal-tanggal yang ditentukan setiap bulan.
Kerja dilakukan bersama Tim Penggalangan Sumber Daya WALHI. Penggalangan Sumber Daya WALHI bertujuan membangun gerakan lingkungan hidup yang berbasis dukungan publik.
Posisi ini merupakan kesempatan membangun keahlian dalam berkomunikasi dan marketing untuk isu sosial dengan target meraih dukungan publik.
Kami menawarkan gaji tiap bulan dan bonus jikan capaian melampaui target.
Kontrak kerja dapat diperpanjang sesuai penilaian kinerja.
Kriteria:


Berpengalaman dalam marketing, penggalangan dana atau sales.
Memiliki kreativitas yang tinggi, percaya diri, pantang menyerah, komunikatif, senang bergaul dan sopan.
Jujur dalam berkomunikasi dan mengelola dana.
Mampu bekerja dibawah tekanan dan berorientasi pada target.
Bersedia bekerja di tanggal-tanggal yang ditentukan.
Bersedia melakukan training, briefing, dan evaluasi.
Dapat bekerja sama dalam tim.
Berkomitmen pada tujuan WALHI dan menjaga citra dan nama baik WALHI.
Kirim dokumen di bawah ini via e-mail ke dheetha@walhi.or.id:

Tulisan singkat maksimal ½ halaman A4 dengan topik “Mengapa saya perlu mendukung penyelamatan lingkungan hidup?”
Surat lamaran dan CV singkat.


Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Helvi Lystiani
Pjs. Manajer Penggalangan Sumber Daya Eksekutif Nasional WALHI
Email Helvi Lystiani
Telepon kantor: +62-(0)21-791 93 363
Mobile:
Fax: +62-(0)21-794 1673


http://sobat-hutan.blogspot.com

Leopard is one of 52 new species found


Clouded Leopard Latest in a List of Unique Species of Borneo, Scientists Say

By VIJAY JOSHI

KUALA LUMPUR, Malaysia Mar 15, 2007 (AP)— The clouded leopard of Borneo
discovered to be an entirely new species is the latest in a growing list
of animals and plants unique to the Southeast Asian country's rainforest
and underscores the need to preserve the area, conservationists said
Thursday.

Genetic tests by researchers at the U.S. National Cancer Institute
revealed that the clouded leopard of Borneo and Sumatra islands is a
unique cat species and not the same one found in mainland Southeast Asia
as long believed, said a statement by WWF, the global conservation
organization.

"Who said a leopard can never change its spots? For over a hundred years
we have been looking at this animal and never realized it was unique,"
said Stuart Chapman, WWF International Coordinator of the Heart of Borneo
program, which is dedicated to preserving the flora and fauna in the deep
jungles on Borneo.

The secretive clouded leopards are the biggest predators on Borneo,
growing sometimes to the size of a small panther. They have the longest
canine teeth relative to body size of any cat.

"The fact that Borneo's top predator is now considered a separate species
further emphasizes the importance of conserving the Heart of Borneo,"
Chapman said.

The news about the clouded leopard comes just a few weeks after a WWF
report showed that scientists had identified at least 52 new species of
animals and plants over the past year on Borneo, the world's third
largest island that is shared by Indonesia, Malaysia and Brunei.

The Heart of Borneo, a mountainous region about five times the size of
Switzerland covered with equatorial rainforest in the center of the
island, is the last great forest home of the Bornean clouded leopard.
Researchers believe that the Borneo population of the clouded leopard
likely diverged from the mainland population some 1.4 million years ago.

Over the millennia, at least 40 differences emerged between the two
species, making them as distinct as other large cat species such as
lions, tigers and jaguars.

ABC News - 16 March, 2007

http://sobat-hutan.blogspot.com

Greenpeace Indonesia beraksi di Tugu Proklamasi

Laporan Wartawan Kompas Haryo Damardono



JAKARTA, KOMPAS - Ratusan aktivis Greenpeace Indonesia, sebuah
organisasi lingkungan hidup yang dikenal radikal dalam menentang
perusakan bumi, akan berunjuk rasa di Tugu Proklamasi, Jalan
Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (16/3) pukul 10.00.

"Unjuk rasa ini merupakan bagian dari upaya kami mendaftarkan
Indonesia ke Guiness Book of Record, sebagai negara pembabat hutan
tercepat di dunia," kata Koordinator Relawan Greenpeace Indonesia,
Teguh Susanto, kepada Kompas, Jumat pagi.

Teguh menjelaskan selain berorasi, Greenpeace Indonesia akan
menampilkan happening arts yang mempertontonkan miniatur hutan, yang
akan ditebas oleh chainshaw.

Menurut data Food Agricultural Organization, tahun 2000-2005 laju
kerusakan hutan di Indonesia sebesar 1,8 juta hektar per tahun. Data
ini lebih "baik" daripada data laju kerusakan hutan di Indonesia
Departemen Kehutanan sebesar 2,8 juta hektar per tahun. "Sebenarnya
lebih cepat laju kerusakan hutan di Brazil, tetapi luas hutan di
Indonesia jauh lebih sedikit, sehingga kerusakan dan ancaman
gundulnya hutan di seantero Indonesia lebih cepat," kata Teguh.

http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0703/16/092044.htm


http://sobat-hutan.blogspot.com

14 March 2007

Menyulap lahan cadas menjadi hutan

oleh: Lutfi Retno Wahyudyanti

"Ngarap watu kaya ngene, untunge saka ngendi. Rugi tenaga! Ning yo
tetep dilakoni amargo ora ana pilihan."

(Mengerjakan tanah berbatu seperti ini, dapat untung dari mana. Rugi
tenaga! Tapi tetap dijalani karena tidak ada pilihan lain.)



Ucapan tadi keluar disela-sela percakapan enam orang petani
yang sedang mendangir (menyiangi rumput) di lahan pertanian Dusun
Jragum, Semanu, Gunungkidul. Tetapi jika diamati secara lebih
teliti, keenam petani itu lebih tepat dikatakan sedang mengolah
batu. Pasalnya, jumlah batu padas nyaris sama dengan jumlah
tanahnya. Sehingga keluhan para petani itu menjadi hal yang masuk
akal. Apa yang bisa diharapkan dari lahan semacam itu?

Tetapi layaknya orang Jawa yang selalu nrimo kondisi seburuk
apapun selalu dikatakan untung. Dan mengolah lahan penuh batu
tersebut juga tetaplah dianggap keuntungan. Ya, 254 KK anggota
Kelompok Tani Hutan (KTH) Sedyo Makmur yang ada di desa itu
beruntung karena diperbolehkan mengolah lahan kritis di kawasan
hutan negara seluas 115 hektar.

Bukan perkara mudah untuk bisa ikut mengolah lahan milik
negara tersebut. Penuh perjuangan berat para petani di Jlagrum.
Diawali dengan terbentuknya KTH Sedyo Makmur tahun 1985, para
anggotanya yang kala itu berjumlah sekitar 40 petani mulai
diperbolehkan menggarap lahan negara secara tumpang sari. Saat itu ,
petani hanya diperbolehkan mengolah sela-sela tanaman kayu untuk
pertanian selama dua atau tiga tahun. Itupun dengan sebuah kewajiban
tidak mudah. Penduduk yang ingin menggarap hutan negara diharuskan
mencari bibit kayu sonokeling atau kesambi. Padahal untuk
mendapatkan benih itu juga bukan perkara gampang "Waktu itu saya
sampai bersepeda jauh-jauh ke Candi dan Ngenet yang jaraknya sekitar
18 kilometer mencari bibit biar diperbolehkan ikut mengolah tanah
ini," kata Tambiyo, salah satu petani.

Apesnya, perjuangan yang tidak ringan itu berakhir kegagalan.
Saat tanaman kayu berusia tiga tahun, sela-selanya tidak dapat
ditanami lagi. Petani pun kemudian meninggalkan lahan ini. Tanaman
kayu kemudian mati dan bisa ditebak pencurian kayu pun merebak.Lahan
hutan negara pun kemudian menjadi lahan kritis.

Tahun 1995, muncul program Hutan Kemasyarakatan (HKm).
Penduduk dari Dusun Jlagrum, Wediutah, Gemulung, dan Plebengan yang
bergabung dalam KTH Sedyo Makmur kembali diberi hak untuk
memanfaatkan hutan. Namun lagi-lagi penduduk diberi kewajiban untuk
mencari bibit pohon jati yang akan dijadikan tanaman pokok di lahan
negara tersebut. Belum cukup, penduduk juga diwajibkan menanam
johar, flamboyan dan sonokeling sebagai tanaman pelidung. "Karena
ingin bisa mengolah lahan kami tetap melaksanakan. Bibit jati
diperoleh secara swadaya dengan cara melaksanakan kerja bakti
pengumpulan bibit," katan Tambiyo lagi.

Luas tanah dibagi berdasarkan kesepakatan antar anggota
kelompok dan perwakilan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Masing-
masing KK mendapatkan lahan garapan atau andil 0,1 - 1,5 hektar.
Program ini boleh dibilang sukses karena kawasan kritis tersebut
saat ini telah berubah menjadi hutan jati yang rimbun. Kesuksesan
warga menyulap lahan batu menjadi hutan ini tidak lepas karena
adanya janji jika panen penduduk berhak mendapat hasil 60 persen
hasil penjualan kayu jati. Rakyat sekitar hutan memang penjaga
terbaik hutan itu sendiri.

Bahkan sejak 2002, hanya ada lima orang pencuri yang
tertangkap. Itupun yang diambil hanya satu dua batang pohon.
Biasanya dipakai untuk mengganti pintu atau memperbaiki rumah.
Apabila ada pencurian, penyelesaiannya secara kekeluargan. Sebelum
tahun 1995 boro-boro mau menjaga hutan, kalau ada pencuri pun mereka
diamkan.
Usaha untuk mengamankan juga dilakukan dengan membuat
peraturan desa tentang keamanan hutan. Hal ini akibat tidak semua
penduduk desa merupakan petani. Sanksi berupa denda sampai
kehilangan hak kelola hanya mengikat penduduk yang tergabung dalam
KTH. Jika terjadi perusakan yang dilakukan penduduk desa di luar
anggota KTH, belum ada sanksi yang mengikat.
November 2005, ijin resmi melakukan HKm di Semanu baru ada
ditandai dengan turunnya SK Bupati pada bulan November 2005.
Sayangnya, ijin ini hanya memberikan hak pengolahan lahan selama
lima tahun. Ini tentu sangat membingungkan, karena dengan masa itu
kayu jati jelas belum bisa dipanen. Akhirnya janji penduduk
mendapatkan bagi hasil kayu menjadi bohong besar saja. Untuk itu
petani penggarap masih menunggu ijin pengelolaan tetap dengan jangka
waktu 25 tahun untuk bisa mendapatkan bagi hasil dari tanaman kayu.
Saat ini usia jati yang ditanam di lahan HKM sudah berusia
antara sepuluh sampai sebelas tahun. Sebenarnya sudah layak tebang.
Namun masyarakat belum berani melakukan penjarangan karena takut
dituduh ilegal. "Kayu itu kami yang nandur, kami yang memelihara,
kami yang menjaga dari pencurian selama ini, tentunya kami juga
berharap kelak akan mendapatkan hasilnya," ujar Pak Yitno Sujarwo,
pelindung KTH Sedyo Makmur.

Akhirnya, petani harus bersabar dan tetap mengandalkan
pendapatan dari mengolah lahan pertanian yang seperti disebut di
atas lebih pantas disebut lahan batu. Hidup mereka memang tidak bisa
lepas dari hutan. "Dari kecil sampai sekarang ini, penghidupan
keluarga kami tidak terlepas dari hutan. Mulai dari menjadi buruh
penanam kayu samapai menggarap tumpangsari," ujar Mulyorejo, anggota
KTH Sedyo Makmur.

Mata pencaharian utama penduduk Jlagrum adalah petani. Pekerjaan
ini diambil karena kebanyakan warganya hanya lulusan SMP yang tidak
memiliki keahlian lain. Sebagian petani, semisal Tambiyo masih
beruntung, karena memiliki lahan warisan seluas 0,3 hektar untuk
digarap. Bagaimana dengan warga lainnya? Padahal sekitar 20 persen
warga Dusun Jlagrum tidak memiliki tanah sendiri. Hingga
diperbolehkan menggarap lahan milik negara merupakan satu-satunya
harapan mereka.

Selain penanaman jati, KTH Sedyo Makmur memiliki kegiatan
bersama untuk menaikan tingkat ekonomi anggotannya. Mulai dari
pembuatan demplot kolonjono, ternak kambing, dan simpan-pinjam
pupuk. Sejak tahun 95, dibuat demplot penanaman kalonjono di lima
tempat. Bibitnya berasal dari swadaya masyarakat. Dengan panen tiga
kali dalam setahun, uang penjualan rumput ini dimasukkan dalam kas
kelompok. Harga sepikul rumput 10.000-15.000. Untuk peternakan
kambing, dikembangkan di sub Plebengan. Sedang usaha pupuk simpan-
pinjam pupuk dikembangkan di sub Jragum.
Untuk memperkuat posisi tawar petani dengan pihak pengambil
kebijakan di luar, dibentuklah Paguyuban Kelompok Tani Hutan
Kemasyarakatan (KTHKm) se-Gunungkidul. Paguyuban yang terbentuk atas
kerjasama KTH, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, beberapa LSM, dan
Pusat Kajian Hutan Rakyat ini dipakai untuk mewakili petani dalam
menyampaikan aspirasinya. Anggotanya berupa perwakilan dari 35 KTH
yang beranggota 2.950 petani. Sayangnya, banyak pengurus KTH yang
bukan petani murni. "Di masyarakat Gunungkidul masih kuat budaya
priyayi. Pengurus-pengurus KTH biasanya pegawai negeri atau tentara,
yang belum tentu benar-benar petani. Masyarakat masih menganggap PNS
lebih terhormat dari petani biasa. Jadi keputusan yang mereka buat
kadang tidak terlalu mengakomodasi kepentingan petani," ujar Wawan,
staf Pusat Kajian Hutan Rakyat yang menjadi pendamping KTH Sedyo
Makmur.

Yang pasti, masyarakat telah berhasil menghijaukan lahan cadas
milik negara yang selama ini terbengkalai. Apakah prestasi ini layak
atau tidak untuk dihargai? Hanya nurani yang bening yang bisa
menjawabnya. (***)



http://sobat-hutan.blogspot.com

Mengenal National Geographic

Yayasan National Geographic didirikan di Amerika Serikat pada 27 Januari 1888 oleh 33 orang yang tertarik untuk meningkatkan pengetahuan geografi. Gardiner Greene Hubbard menjadi presiden pertama dan kemudian digantikan oleh menantunya Alexander Graham Bell. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang geografi dunia dan pada akhirnya mensponsori penerbitan majalah bulanan National Geographic.

National Geographic saat ini telah diterbitkan di 60 negara dalam 30 bahasa dengan total ekslempar lebih dari 9,5 juta per bulan di seluruh dunia.


National Geographic Indonesia

National Geographic Indonesia diresmikan pada 28 Maret 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disaksikan penerbit majalah ini, Jakob Oetama - pimpinan Kelompok Kompas Gramedia. Pertama kali diterbitkan pada April 2005 oleh Gramedia Majalah.


Kegiatan

Fotografi Laut Dalam
Sebelum resmi diluncurkan, National Geographic Indonesia mengadakan presentasi dan diskusi foto bertema Fotografi Laut Dalam bersama Emory Kristof, fotografer National Geographic pada 24 Januari 2005. Lalu dilanjutkan dengan pameran rangkaian foto karya Emory di Gedung Arsip Nasional.

Pameran Arkeologi
Usai peresmian di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, National Geographic Indonesia mengadakan pameran arkeologi Indonesia. Acara yang digelar pada 29 Maret hingga 3 April 2005 dipuncaki dengan presentasi dan pemutaran film orang kerdil (Homo floresiensis) dari Flores, Nusa Tenggara Timur oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Pameran Foto Cheng Ho
National Geographic Indonesia turut ambil bagian dalam Peringatan 600 Tahun Perjalanan Laksamana Cheng Ho yang dipusatkan di Semarang, Jawa Tengah. Selama lima hari, 3 – 7 Agustus 2005, Pameran Foto Cheng Ho karya Michael Yamashita, fotografer National Geographic yang mendapat penugasan untuk membuat foto napak tilas sang laksamana, digelar di PPRP Semarang.

Pada malam 4 Agustus 2005, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik dan Menteri Perdagangan Marie Pangestu berkesempatan membuka dan menyapa sang fotografer, yang kebetulan tengah singgah dalam rangka penelusuran jejah sejarah Cheng Ho bersama awak National Geographic Television. Selepas pembukaan, Mike menampilkan presentasi fotografi yang diikuti dengan antusisas oleh ratusan anggota National Geographic Society di Indonesia, bahkan Los Angeles, AS.

Melanjutkan sukses serupa di Bangka dan Semarang, pameran foto liputan Cheng Ho diboyong ke Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Lalu berpindah ke Jakarta, Surabaya dan Medan.

Penelitian Orang Pendek di Kerinci
Sejak 22 September 2005, Dr. Peter U Tse, penerima hibah Expedition Council National Geographic Society, melakukan penelitian Orang Pendek di Kerinci, Jambi selama kurun dua tahun. Bersama timnya, Dr. Tse memasang kamera perangkap dalam rangkaian penelitian untuk membuktikan keberadaaan misteri yang belum juga terkuak hingga kini itu. Pada hari pertamanya di Sungaipenuh, Dr. Tse dan tim, yang diikuti pula National Geographic Indonesia, mendapat sambutan hangat dari Bupati Kerinci H. Fauzi Siin.



Teleskop Antariksa Spitzer
Menyambut liputan keunggulan Teleskop Antariksa Spitzer, National Geographic Indonesia menggelar presentasi di Planetarium dan Observatorium DKI Jakarta pada 17 Desember 2005. Bambang Hidayat – salah seorang dewan pakar majalah ini – dan Widya Sawitar dari Planetarium mengajak 500 pendaftar terawal dari anggota National Geographic Society mendalami teleskop yang mengungkap tempat kelahiran bintang-bintang.

Rock Art Exhibition 2006
Tak puas dengan Spitzer, National Geographic Indonesia membuka mata masyarakat Indonesia dengan gelaran Rock Art Exhibition 2006. Acara di awal tahun ini digelar di tiga kota, Jakata, Balikpapan dan Sangatta, Kalimantan Timur dan mendapat dukungan penuh dari PT. Kaltim Prima Coal serta dibantu beberapa institusi, seperti Balai Arkeologi Kalimantan, Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI), Le Kalimantanthrope dan PP Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.



http://sobat-hutan.blogspot.com

Participating in Borneo Orangutan conservation with BOS Foundation

The Borneo Orangutan Survival Foundation [BOS Foundation] | Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo [Yayasan BOS] -

BOS, is an Indonesian non profit, non governmental, environmental organization dedicated to the conservation of Borneo orangutans and their habitat through the involvement of local people is seeking a Manager for Communication Bureau, Coordinator and Staff for Fundraising, and Secretary to the Executive Director.


The selected candidates for those positions above must state in their cover letter how their strengths and skills, including education, prior work experience, interpersonal skills, technical skills, knowledge of the area of work, knowledge of BOS Foundation policies and regulations and their capabilities to effectively launch and implement the program make them the best candidates. Fluency in written and spoken English as well as Bahasa Indonesian is a plus. Applicants' CV must show proven experience for the positions they are applying for.

The successful candidates must demonstrate the following qualifications:
1. Strongly self-motivated and creative, positive thinking, be able to produce ideas;
2. Concern for wildlife conservation & environmental issues essential, and commitment to BOS' vision, mission and goals;
3. Excellent interpersonal skills and sensitivity to an advisory role in dealing with partner organizations. Proven ability to motivate and lead others to achievement;
4. Two years' experience in relevant field, experience of working in the NGO sector is desirable, but not essential;
5. Thorough organization and administrative skills;
6. Familiar with MS Office and other supporting computer programs;
7. Excellent interpersonal skills with the ability to interact well within an international and multicultural environment;
8. Excellent communication skills in English and other languages is an asset;
9. Able to work flexible hours, both independently and as part of a team, as and when required;
10. Show a good medical record from Medical Doctor or Public Hospital ;
11. Minimum S1 degree [D3 from reputable Secretary Academy for Secretary];
12. Strong fundraising and negotiating skills, including successful experience working with multilateral, bilateral and corporate donors [for Coordinator and Staff of Fund Raising];
13. Indonesian nationality

Interested persons should submit a cover letter, photograph and resume by e-mail soonest possible to : hrd@orangutan.or.id

Please reference the position title in the subject line. Only applicants who meet all requisite criteria and are short listed will be contacted. No phone calls please. Thank you.

Application deadline: Monday 26 March 2007

For further more information, please contact:
Ag. Eko Yunianto, SE., MM.
Head of General Affairs & Human Resources Bureau
Tel: +61 -21 -787 4479
Fax: +61 -21 -727 0468

www.orangutan.or.id

http://sobat-hutan.blogspot.com

Greenpeace-Indonesia goes for Guiness Book of Records

Pukul 10.00 WIB

Jumat, 16 Maret, 2007

Tugu Proklamasi, Jakarta


•Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau
•Indonesia merupakan negara kedua di dunia yang mempunyai keanekaragaman hayati terbanyak
•Indonesia mempunyai hutan alami terluas di Asia

NAMUN

•Indonesia merupakan negara terkorup no.11 di dunia, dan no. 3 di Asia
•Indonesia merupakan negara pengemisi gas CO2 ketiga terbesar di dunia

Indonesia akan menambah lagi gelarnya di dalam Guiness Book of Records, namun kali ini kaitannya dengan kerusakan hutan yang sangat parah. Selain itu, akan diresmikan pula pembentukan Forest Defenders Indonesia, sebagai wadah bagi setiap individu di Indonesia untuk turut berperan aktif dalam penyelamatan hutan.


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Ann Sjamsu
Media Campaigner
Green Peace Indonesia
+62 855 885 1121
asjamsu@dialb.greenpeace.org

Arie Rostika Utami
Media assistant
+62 856 8857275
arutami@dialb.greenpeace.org

Undangan dari Green Peace

Greenpeace Asia Tenggara, saat ini sedang melakukan kampanye penyelamatan hutan yang
terfokus di di Indonesia yang terintegrasi dengan kampanye Greenpeace di seluruh dunia untuk melindungi hutan-hutan yang masih tersisa didunia. Salah satu hutan yang masih tersisa tersebut adalah hutan “Paradise” yang membentang di Indonesia
khususnya di Papua termasuk beberapa negara Pacific. Kampanye penyelematan Hutan yang
dilakukan Greenpeace, dilakukan dengan cara-cara aksi yang kreatif dan menggalang
dukungan publik untuk mendukung penyelamatan hutan yang masih tersisa tersebut.

Berdasarkan data FAO tahun 2005, kami telah melakukan perhitungan sederhana tentang
kecepatan deforestasi pada beberapa Negara di Dunia dan menemukan bahwa Indonesia
adalah Negara tercepat dalam deforestasi hutan di Dunia. Berdasarkan atas temuan tersebut, Greenpeace akan melakukan aktivitas untuk mengumumkan bahwa Indonesia adalah “The Fastest Deforestation In The World”. Kami berharap kegiatan ini akan menjadi penyemangat bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia secara umum untuk mengambil langkah-langkah kongrit dalam penyelematan hutan alam yang masih tersisa di Indonesia .

Berkaitan dengan hal tersebut, kami mengundang bapak/Ibu untuk hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut yang rencananya akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal:
Jum’at, 16 Maret 2007

Waktu:
10.00 – 11.30 WIB

Tempat:
Tugu Proklamasi – Jalan Proklamasi – Jakarta

Demikian undangan kami, dengan harapan Bapak/Ibu bisa
meluangkan waktu untuk menghadiri acara ini.


Hormat saya,


Bustar Maitar
Forest Solution Campaigner
GREENPEACE South-east Asia

mobile: +62 813 446 66135
e-mail: bmaitar@dialb.greenpeace.org


sender:
Teguh Susanto
Greenpeace SEA - Indonesia Office
Volunteer Coordinator and Public Outreach

Phone :+62 21 310 1873
mobile :+62 813 1410 3649
E-mail : teguh_dks@yahoo.com
Skype id: tegsss