''KOK bisa banyak monyet, ya? Itu yang terlintas di pikiran saya ketika melihat monyet-monyet itu berlarian keluar hutan. Biasanya tidak terlihat. Paling satu dua ekor saja yang berkeliaran sampai ke jalan. Tapi mereka tidak mengganggu warga. Ke mana mereka pergi?'' ujar Hanafi, salah seorang warga di Jalan Parit Indah yang rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran hutan kota di belakang Bandar Serai, kemarin kepada Riau Pos.
Ia mengaku melihat gerombolan monyet itu pada Ahad (12/7) lalu. Tapi, sebelum terjadi kebakaran hebat itu, satu dua ekor monyet memang kerap dilihatnya bergelantungan di beberapa pohon besar di belakang rumahnya. Dia juga beberapa kali sempat mengusir monyet-monyet yang sudah mendekat ke rumahnya.
Namun yang dia dan beberapa warga lainnya tak menyangka di dalam hutan dekat rumah mereka ada banyak monyet yang hidup. Itu mereka ketahui ketika kebaran hutan terjadi akhir-akhir ini.
Selain Hanafi, Rubiah, salah seorang pedagang jagung bakar yang lokasi berdagangnya berdekatan dengan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru juga mengaku sempat melihat monyet-monyet berloncatan dan berada di tengah jalan.
''Waktu kebakaran juga saya ada melihat monyet itu berada di tengah jalan. Kayaknya mencari tempat yang aman. Tapi setelah melihat banyak orang yang lewat, beberapa kawanan monyet itu kembali lagi ke hutan yang belum terbakar. Kasihan, rumah mereka (monyet, red) sudah habis dibakar,'' kata Rubiah kepada Riau Pos, Selasa (14/7) di tempat dia berjualan.
Hingga kemarin, pantauan Riau Pos, api memang sudah tidak tampak lagi membakar lahan dan hutan di dekat Bandar Serai. Tapi, asap tebal masih keluar dari dalam tanah gambut itu. Tidak hanya itu, dinding Rudenim yang awalnya berwarna kuning telur, kini sudah hitam akibat jilatan api beberapa hari yang lalu.
Puluhan personel Dinas Pemadam Kebakaran Pekanbaru dan beberapa belasan unit mobil pemadam kebakaran juga terlihat tetap siaga di lokasi. Air terus saja disemprotkan ke atas tanah yang hitam itu untuk menghindari kembali munculnya api.
Per hari di satu titik lokasi bisa menghabiskan paling tidak 40.000 liter air. Dengan kondisi kemarau yang menyebabkan air juga kering, serta tidak adanya sumber air terdekat lokasi menjadi salah satu kendala mengapa api yang saat ini ada di bawah tanah tidak bisa dipadamkan dan asap terus keluar.
''Kami kesulitan memadamkan api itu. Pasalnya, gambut sifatnya menyimpan api. Jika diatas sudah padam, yang dibawah belum tentu padam. Makanya kami terus menyemprotkan air mengarah ke tanah,'' jelas Hambali salah seorang petugas pemdam kebakaran yang saat ditemui mengenakan seragam berwarna biru.
Selain itu, petugas juga tidak bisa masuk ke tengah hutan akibat kondisi asap di dalam sangat tebal. Petugas juga terlihat tidak mamakai masker standar saat melaksanakan tugas. Makanya, PDK hanya melakukan pemadaman di pinggir dan daerah yang terjagkau.
''Tidak bisa ke tengah hutan, asapnya tebal. Masker kami juga belum standar. Jika kami pakasakan takutnya nanti akan memakan korban. Tidak hanya monyet,'' tambah Hambali.(cr2)
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

Dalam waktu sebulan, tujuh gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) di Riau menjadi korban pembantaian. Bukan saja gajah liar, gajah peliharaan pun menjadi sasaran. Korban terakhir, gajah jantan peliharaan PT Indah Kiat Pulp and Paper ditemukan mati, Jumat dua pekan lalu. Gadingnya sepanjang 1 meter hilang. Ini merupakan kasus ketiga selama tahun 2009.








